Rambu Menemani Istri Di Ruang Bersalin

Rambu Menemani Istri Di Ruang Bersalin

suami672

Alih-alih ingin menjadi suami super dengan menemani istri di ruang bersalin, malah membuat runyam proses persalinan. Wajar kok jika suami merasa takut dan khawatir ketika diminta menemani istri bersalin. Agar semua lancar, ketahui dulu rambu-rambunya.

  1. Jangan pingsan. Anda tentunya harus mengetahui apakah Anda takut dan phobia darah atau tidak? Dan ketahuilah, Anda harus siap melihat kesakitan istri ketika melahirkan, terutama jika istri Anda melahirkan secara normal. Jangan sampai pingsan, karena akan mengganggu proses persalinan.
  1. Jangan sibuk SMS-an, memotret tanpa seizin istri atau melakukan kegiatan lainnya dengan hp Anda. Pada saat-saat melahirkan, istri tentunya sangat membutuhkan perhatian dan dukungan Anda. Dengan melakukan kegiatan lain, perhatian Anda akan terpecah.
  1. Jangan blank alias tidak tahu apa-apa tentang proses persalinan. Sebelum Anda ‘nyemplung’ ke ruang bersalin, bekali diri dengan ilmu seputar seluk beluk persalinan.
  1. Jangan panik. Tetap tenang akan memudahkan Anda berpikir jernih saat mengambil keputusan. Lagipula, disaat-saat penuh perjuangan seperti itu, istri Anda membutuhkan penguatan dan penenangan Anda.
  1. Jangan hanya menonton. Coba pelajari cara menjadi pendamping yang efektif bagi istri Anda. Dengan demikian istri Anda benar-benar merasa didukung dan dikuatkan oleh Anda.
  1. Jangan segan meminta kerabat keluar dari ruang bersalin jika istri merasa terganggu. Tetap sopan namun tegas bertindak.
  2. Jangan nekat melihat bayi keluar bila tidak tahan melihat darah. Jangan sampai Anda malah pingsan begitu menyaksikannya. Namun jika Anda merasa kuat, tidak apa-apa.
  1. Jangan mengabaikan istri setelah bayi lahir. Kelahiran bayi memang yang paling ditunggu-tunggu. Namun jangan abaikan istri yang telah berjuang melahirkan. Beri istri ucapan selamat telah menjadi seorang ibu.

Jika sang suami bisa membantu istrinya lebih tenang dalam melahirkan, maka tak ada salahnya untuk turut masuk dalam ruang bersalin. Karena memang melihat proses melahirkan kadang membuat orang takut.

Tapi banyak perempuan yang mempertimbangkan untuk tidak ditemani oleh suaminya, tapi lebih memilih ditemani oleh anggota keluarga lain yang memang sudah berpengalaman dalam hal melahirkan seperti ibu, tante atau bidan.

terkadang suami malah menjadi halangan istri untuk mudah melahirkan tapi justru membuat prosesnya lebih panjang atau lebih menyakitkan.

Kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh dua hal, yaitu:

  1. Saat melihat istrinya kesakitan, maka sang ayah akan melepaskan hormon stres yaitu adrenalin. Meskipun berusaha terlihat santai atau positif, tetap saja ia tidak bisa melepaskan rasa cemasnya. Kegelisahan ini bisa menular pada istrinya, sehingga membuat perempuan menjadi tegang atau tidak santai dan membuat proses persalinan menjadi lebih lama dan sulit.
  1. Saat melahirkan sang istri ingin merasa tenang tanpa harus berpikir atau berbicara. Ketika ia ingin berbagi pengalaman dengan suaminya, terkadang hal ini tidak bisa dilakukan sehingga mengganggu proses persalinan.

Meski demikian terkadang ada keajaiban dalam proses melahirkan sehingga memberikan sesuatu yang indah serta menggembirakan. Kondisi seperti itu seringkali melupakan rasa sakit yang dialami istri saat proses persalinan.

Penting atau tidaknya suami ikut serta dalam proses persalinan juga tergantung dari kondisinya. Jika ia memang bisa membantu menenangkan istrinya dan membuat sang istri merasa nyaman, maka tak masalah ia ikut masuk ke dalam ruang bersalin.

Tapi jika suami merasa panik dan takut, sebaiknya tak perlu menemani istrinya di ruang bersalin karena bisa membuat sang istri bertambah stres dan mengganggu proses persalinan.

Bagi Anda calon ayah yang sedang menanti kelahiran anak yang dikandung oleh istri, mungkin ingin menemani istri di ruang persalinan. Agar semua lancar, simak rambu-rambu berikut ini:

Yang boleh Anda lakukan:

  • Persiapkan kondisi fisik Anda dengan baik.
  • Tebalkan kesabaran dan teruslah semangat untuk memberikan semangat.
  • Ciptakan suasana rileks, buatlah istri Anda merasa nyaman dan aman.
  • Berpikir positif akan memberi energy positif bagi istri. Yakinkan istri Anda bahwa dia mampu melakukannya dengan lancar.
  • Bila Anda diminta mengambil keputusan, tetap tenang dan jangan panik.
  • Dalam menghadapi persalinan, bantu istri dengan mengelus kaki, punggung, tangan sambil diiring ngobrol santai.
  • Jika istri masih boleh berjalan-jalan, ajaklah ia berjalan kecil bolak-balik di dekat ruang bersalin.
  • Bantulah istri mandi dengan air hangat, karena air hangat membantu dirinya menjadi rileks.
  • Untuk mengurangi rasa sakit waktu kontraksi, Anda juga dapat mengompresnya dengan handuk hangat di punggung.

Yang tidak boleh dilakukan:

  • Jangan pingsan. Anda harus siap melihat kesakitan istri ketika melahirkan. Bila Anda pingsan justru akan menggangu proses persalinan.
  • Jangan sibuk sendiri karena pada saat-saat melahirkan istri tentu butuh perhatian penuh dan dukungan Anda. Fokus Anda akan terpecah bila melakukan kegiatan lain.
  • Jangan panik. Tetap tenang akan memudahkan Anda berpikir jernih saat harus mengambil keputusan. Jangan menambah kepanikan istri Anda dengan Anda juga panik.
  • Jangan hanya menonton. Coba pelajari situasi dan cara menjadi pendamping yang efektif bagi istri Anda.
  • Jangan segan meminta kerabat keluar dari ruang bersalin jika istri merasa terganggu.
  • Jangan nekat melihat proses bayi keluar bila tidak tahan melihat darah. Jangan sampai Anda malah pingsan begitu menyaksikannya.
  • Jangan mengabaikan istri setelah bayi lahir. Kelahiran bayi memang yang paling ditunggu-tunggu. Namun jangan abaikan istri yang telah berjuang melahirkan. Beri istri ucapan selamat telah menjadi seorang ibu.

Pastikan Anda benar-benar siap untuk menemani istri Anda bersalin. 🙂

 Rambu Menemani Istri Di Ruang Bersalin

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment

Powered by moviekillers.com.com