Pilih Makanan Bayi instan atau Buatan Sendiri, Ya?

Pilih Makanan Bayi instan atau Buatan Sendiri, Ya?

spoonbaby

 

Bagi sebagian orang tua, memilih antara makanan instan atau buatan sendiri untuk bayi memang sulit. Bagi Anda yang bekerja seharian penuh di kantor, dengan load pekerjaan yang sangat tinggi, makanan instan untuk si kecil menjadi pilihan paling bijak karena masalah pembagian waktu yang cukup sempit untuk bisa membuat makanan bayi sendiri di rumah. Selain itu, proses pembuatan makana bayi sendiri di rumah memerlukan kesabaran dan kehati-hatian karena Anda harus memperhatikan betul bahan-bahan dan proses pengolahannya.

Sedangkan bagi para ibu yang bekerja paruh waktu, terlebih lagi yang memiliki waktu penuh di rumah, pastilah kesempatan untuk membuat makanan bayi di rumah sangat terbuka lebar. Tidak dipungkiri lagi bahwa alokasi waktu memegang peranan penting apakah Anda akan membuat sendiri makanan si kecil di rumah atau membelinya secara instan.

Dari segi keamanan, sebenarnya baik makanan buatan sendiri maupun instan itu bisa dikatakan cukup aman. Kunci utamanya adalah pada saat pengolahannya. Makanan bayi instan, jika pengolahannya tepat; seperti suhu pemanasan yang tepat, kemasan yang masih tersegel, diolah di dalam wadah yang bersih dan steril, serta disajikan di tempat makan yang bersih, maka higienitas makanan instan pun bisa tetap terjaga, sama halnya dengan makanan buatan sendiri. Dalam hal kepraktisan (mudah dibawa kemana-mana), baik makanan buatan sendiri ataupun makanan instan bisa dikatakan sama-sama praktis. Makanan buatan sendiri pun bisa dilakukan penyimpanan di dalam kulkas pada suhu tertentu, sehingga Anda tidak perlu repot untuk membuatnya kembali bila akan pergi ke suatu tempat. Asalkan, jarak waktu antara pembuatan makanan dengan jadwal pergi tidak terlalu lama. Sebab, makanan bayi yang terlalu lama disimpan di lemari es kandungan gizinya akan hilang.

Hal lain yang membedakan antara makanan instan dan makanan buatan sendiri adalah dari segi harga dan perhitungan komposisi zat gizi yang lengkap dan sesuai dengan kebutuhan gizi si kecil. Makanan buatan sendiri relatif lebih murah biayanya daripada makanan instan. Hal itu dikarenakan makanan instan memerlukan biaya yang sangat besar untuk proses produksi dan distribusi. Sedangkan makanan buatan sendiri tidak memerlukan faktor perhitungan seperti itu. Yang pasti apapun jenisnya, makanan buatan sendiri ataupun instan, upayakan agar si kecil bisa mendapatkan asupan makanan dengan nutrisi seimbang serta makanan dalam kondisi higienis sehingga si kecil bisa terhindar dari penyakit.

Sharing Tips 1: Perbedaan MPASI Pabrikan dengan MPASI Buatan Sendiri

–      Proses pembuatan dan kelengkapan gizinya sudah sesuai dengan standar anjuran badan kesehatan nasional dan internasional.

–      Menggunakan bahan baku yang berkualitas tinggi

–      Mengikuti cara produksi yang baik dengan menerapkan GMP (Good Manufacturing Practices

–      Diformulasikan secara khusus berdasarkan penelitian seperti uji klinis sehingga jumlah zat gizi  sesuai dengan masa pertumbuhannya)

–      Penambahan mikro nutrien lainnya dilakukan di akhir proses produksi untuk menjamin fungsinya tidak hilang

–      Lebih cepat dan praktis, karena tidak memerlukan waktu lama untuk membuatnya.

–      Bisa dibawa kemana-mana dan bisa dibuat dimana-mana

–      Memiliki banyak pilihan varian rasa, tekstur, yang disesuaikan dengan kebutuhan makan per usia bayi.

–      Mudah diperoleh di toko atau supermarket terdekat.

 

Sharing Tips 2: Kelebihan dan Kekurangan MPASI Buatan Sendiri

–      Proses pembuatan dan penyajiannya memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga terkesan repot.

–      Sulit dibawa kemana-mana

–      Meningkatkan kemungkinan menelan nitrat, karena pada umumnya sayuran ataupun buah-buahan mentah mengandung nitrat yang banyak terdapat di dalam tanah dan air. Kemungkinan lainnya adalah bahan baku makanan yang tidak steril akibat penggunaan pestisida saat proses pengambilan di kebun

–      Zat Gizi tidak terukur, beberapa proses pengolahan seperti pemanasan akan membuat zat gizi (mineral dan vitamin) rusak.

 

Sharing Tips 3: Tips aman memilih MPASI Pabrikan

–         Periksa komposisi dan kandungan gizi pada makanan instan tersebut, baik kadar karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin di dalamnya.

–         Lihat dengan teliti, usia bayi yang bisa mengonsumsi makanan instan tersebut.

–         Teliti keadaan sampul/kemasan, apakah kemasan tersebut masih tersegel atau tidak, dalam kondisi baik atau tidak. Jika segel telah rusak segera tukar ke toko terdekat.

–         Cek tanggal kadaluarsa. Jangan memilih bubur instan yang masa penggunaannya telah mendekati tanggal kadaluarsa. Hal ini perlu diperhatikan untuk menghindarkan anak dari potensi keracunan.

–         Pelajari secara teliti dan menyeluruh cara penyajian bubur instan tersebut. Cara penyajian pada bubur instan setiap jenjang usia berbeda-beda.

Tips Mengatur dan Menyiapkan Makanan Sehat Bagi Bayi

Bayi memiliki perut yang masih kecil dan belum terlalu kuat. Setiap makanan yang masuk ke perutnya harus kita atur baik-baik. Ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan dalam menyiapkan dan mengatur makanan bayi, antara lain usia si kecil, cara mengolah makanan, dan kandungan gizinya. Mari kita bahas satu persatu, dimulai dari usia bayi. Setiap tahapan usia bayi memiliki jenis makanan yang berbeda-beda. Pada usia 0-6 bulan, bayi hanya diperbolehkan mengonsumsi makanan cair, yaitu ASI. Selanjutnya masuk usia 6-12 bulan, kita sudah boleh memberikan makanan lembut dan semi-padat seperti bubur dan pisang. Lepas usia satu tahun, kita sudah lebih leluasa memberikan variasi makanan kepada si bayi, misalnya potongan buah atau sayuran. Yang perlu diingat selalu perhatikan higienitas makanan tersebut.

Higienitas bisa didapat sejak Anda memilih bahan makanan si kecil. Akan lebih baik jika Anda memasak sendiri menu yang Anda sajikan untuknya. Bahan baku makanan bayi yang baik biasanya terdiri dari beras, ayam, daging, sayuran, dan ikan. Untuk ikan, pilih yang masih segar dan berwarna merah. Kemudian untuk sayuran, pilih juga yang masih segar dan warnanya cerah. Masak dengan cara dan rasa terbaik agar anak Anda menyukainya. Saat memasak, pastikan makanan matang sempurna agar segala kuman dan bakteri bisa mati. Namun juga jangan menggunakan api terlalu besar dan waktu terlalu lama karena makanan bisa menjadi lembek dan hilang nutrisinya.

Hal penting dalam menyiapkan dan mengatur makanan bayi, jangan pernah menambahkan bumbu penyedap atau MSG, tapi makanan bayi tetap harus memperhatikanan cita rasa bagi bayi.  Bahan ini bisa menimbulkan kerusakan fungsi otak. Setelah matang, biarkan panas makanan hilang lalu cicipi terlebih dahulu. Pastikan makanan yang masuk nyaman ditelan olehnya. Sedangkan jika Anda memilih makanan bayi instan, selalu periksa kemasan dan tanggal kadaluarsanya. Jangan memilih produk dengan kemasan rusak dan mendekati tanggal kadaluarsa. Jika Anda menyimpan makanan bayi yang sudah dimasak untuk diberikan lagi nanti, simpan di tempat yang bersih dan jauh dari bau menyengat. Jauhkan makanan bayi dari bau durian atau kopi yang bisa mempengaruhi aroma makanan.

Saat senggang, pelajarilah kandungan gizi makanan dalam kaitannya menyiapkan dan mengatur makanan bayi. Misalnya dengan mencari tahu kandungan gizi dari makanan instan bayi yang Anda sajikan. Anda bisa membaca label daftar gizi yang biasanya terdapat di bagian belakang produk tersebut. Hindari memilih makanan bayi yang mengandung banyak perasa buatan. Sedangkan untuk bahan makanan alami yang Anda masak sendiri, kandungan gizinya bisa diketahui dengan memahami prinsiap piramida makanan bayi. Piramida ini biasanya ada di buku panduan kesehatan bayi. Dengan gizi seimbang, tumbuh kembang anak Anda pun bisa maksimal.

Variasi Menu Untuk Si Kecil Usia 1 Tahun Ke Atas

Beberapa variasi menu yang diformulasikan khusus untuk Anak berusia 1 tahun ke atas.

  • Ganti sumber karbohidrat dengan berbagai pilihan, misalnya beras, beras merah, ubi, kentang, havermut, roti.
  • Jangan memberinya bayam dan wortel saja. Perkenalkan dengan berbagai sayuran, misalnya jagung, brokoli, bit, bayam merah.
  • Bila si kecil tidak suka makanan baru yang Anda perkenalkan, cobalah beberapa kali. Jika ia tetap menolaknya, tak perlu memaksanya agar tidak menimbulkan trauma terhadap makanan itu.
  • Karena makanan si kecil tak boleh diberi bumbu yang menyengat, berikan selembar daun salam dalam buburnya agar lebih gurih.

Hati-hati!
Beberapa makanan di bawah ini bisa menimbulkan alergi pada sebagian bayi di bawah usia satu tahun:
telur, tomat, ikan jenis tertentu (tongkol, salmon), kacang (termasuk selai mentega kacang), bumbu-bumbu yang menyengat (lada, kunyit, jahe, dan sebagainya), strawberry, coklat dan kerang.

Sampai usia satu tahun, sebaiknya hindari memberi bayi Anda:
Telur setengah matang, bawang merah, ketimun dan kol (karena sulit dicerna), garam berlebihan, gula berlebihan, lobak dan kangkung (membuat bayi sering bersendawa), dan makanan mengandung pengawet.

Untuk Diperhatikan:

  • Jika di keluarga ada riwayat alergi, ekstra hati-hati dalam memberi jenis makanan tersebut.
  • Jika kulit anak menunjukkan reaksi alergi, misalnya gatal atau kemerahan setelah makan sesuatu, cobalah lagi beberapa kali di hari lain. Jika gejala alergi hilang, Anda bisa meneruskannya. Tetapi jika alergi tetap terjadi, berarti Anda harus menghindarinya.
  • Untuk mengetahui dengan pasti reaksi alergi pada bayi Anda, jangan mencampur buah atau makanan yang dikhawatirkan menimbulkan alergi. Segera catat jika penyebab alergi sudah diketahui dengan pasti.
  • Makanan yang mengandung gluten dapat menimbulkan gangguan saluran pencernaan pada sebagian bayi, seperti produk biji-bijian, misalnya, makanan mengandung gandum/oats.

Jika si kecil telah berusia 1 tahun, sebaiknya pemasukan garam dan gula seminim mungkin, bahkan lebih baik sebaiknya ditunda sampai mereka berusia 2 tahun.

Saat anak berusia 1 tahun ke atas, sudah diperbolehkan mengkonsumsi makanan laut seperti; udang, kerang, cumi2, dll. Tetapi perlu diingat, apabila ada sejarah dalam keluarga kita alergi seafood, sebaiknya pemberian makanan seafood ke si kecil ditunda dulu.

Makanan Yang Tidak Boleh dan Boleh Dimakan Si Kecil

Jika Ibu dan Bapak masih bingung memilih makanan yang pas untuk sang buah hati, simaklah ulasan ahlinya dibawah ini. Dijamin, Bapak dan Ibu enggak bakal bingung lagi.

Ada yang menganjurkan, bayi harus diberi pisang agar tak kelaparan. Bahkan, ada pula yang menganjurkan agar bayi diberi nasi yang sudah diulek halus. Soalnya, bayi, kan, cuma minum ASI. Jadi, dikhawatirkan si bayi akan kelaparan.

Tentu saja, anjuran tersebut tak boleh diikuti. Pasalnya, sampai usia sekitar 3-4 bulan, makanan bayi memang cuma ASI. Lagi pula, tutur dr. Dadang Primana, MSc, SpGZ, SpKO,  “bila diberikan makanan lain, usus dan ginjal bayi bisa terganggu karena fungsi organ tubuh bayi belum sempurna.”

Jadi, bisa membahayakan bayi. Jangankan makanan tambahan, susu formula saja sebenarnya juga tak dianjurkan. Pemberian susu formula lebih dianjurkan setelah bayi berusia 5-6 bulan. Soalnya, di usia tersebut, berat badan bayi sekitar 6,5 kg sehingga kebutuhan susunya bertambah. “Disamping, pada saat itu produksi ASI juga sudah mulai berkurang, sehingga diperlukanlah tambahan susu formula,” terang Dadang.

ASI YANG TERBAIK

Jadi, Bu-Pak, makanan yang terbaik untuk bayi baru lahir adalah ASI, karena ASI sudah mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh-kembangnya. “Dalam ASI juga terdapat zat anti infeksi yang berasal dari ibu, sehingga bayi tak mudah terserang penyakit,” tutur Dadang. Disamping tentunya ASI lebih praktis, murah, dan bersih. Lagi pula, ketika bayi menyusu ASI, ibu pasti akan mendekap bayinya sehingga memberikan rasa aman dan perlindungan pada bayi.

Tak hanya itu, dalam ASI juga terkandung whey protein dan kasein. Kendati dalam susu formula juga terkandung kedua jenis protein ini, namun dalam ASI, whey proteinnya lebih tinggi dari kasein, sekitar 80:20. “Whey protein yang tinggi inilah yang membuat ASI jadi mudah dicerna dan diserap oleh bayi,” ujar Dadang. Sedangkan susu formula yang dari hewan, perbandingan whey protein dan kaseinnya adalah 20:80. Jadi, kaseinnya yang lebih tinggi.

“Inilah yang membuat susu formula dari hewan jadi gampang menggumpal sehingga membuat bayi menjadi sulit mencerna dan menyerapnya,” lanjut Dadang. Akibatnya, bayi yang diberi susu formula bisa menjadi kekurangan makanan karena zat-zat gizi yang dibutuhkannya tak diserap. Selain itu, di dalam whey protein terdapat suatu zat yang disebut laktalbumin (suatu protein yang ada dalam whey protein). Laktalbumin ini bisa diubah menjadi sistein (sejenis asam amino) yang akan dikonversi lagi menjadi taurin.

“Taurin inilah yang bagus karena berfungsi untuk perkembangan sel otak. Dengan demikian, baik untuk kecerdasan otak bayi,” tambah Dadang. Tak demikian halnya dengan susu formula, laktalbuminnya kurang. Dengan demikian, taurinnya pun sangat rendah. Nah, berdasarkan alasan-alasan tersebut, makanya para ahli selalu menganjurkan agar bayi diberikan ASI eksklusif; minimal selama 4 bulan, tapi belakangan malah dianjurkan selama 6 bulan.

HARUS BANYAK CAIRAN

Pada prinsipnya, setelah bayi berusia 4 bulan ke atas baru boleh diberi makanan tambahan untuk melatih reflek mengunyah dan menelan. Namun makanan tambahannya pun harus dalam bentuk lumat. “Bubur instan yang banyak dijual di pasaran bisa diberikan pada bayi,” kata Dadang, Tapi jangan lupa, lo, Bu-Pak, bayi masih tetap membutuhkan banyak cairan. Jadi, sekalipun sudah diberi makanan tambahan, bayi tetap harus diberi cairan yang banyak.

“Kebutuhan bayi akan air per kg berat badannya lebih banyak ketimbang orang dewasa,” terang Dadang. Bila dibandingkan antara susu formula dengan makanan tambahan, misalnya, bubur susu, tentu susu formula mengandung lebih banyak air. Jadi, bila bayi diberikan bubur susu, cairan yang masuk ke tubuhnya akan berkurang. Jika Ibu sampai tak memperhatikan hal ini, bisa-bisa bayi akan mengalami kekurangan cairan; karena sering terjadi, setelah diberikan bubur susu, minuman yang diberikan tak banyak.

BERAGAM DAN BERVARIASI

Menurut Dadang, bayi boleh saja diberi bubur instan setiap hari. Toh, kandungannya tak berbeda jauh dengan susu formula. “Produk ini mengandung energi, protein, dan lemak, bahkan suplemen yang tinggi,” tuturnya. Jadi, meskipun bubur instan bukan makanan alami, namun tak berdampak buruk pada kesehatan bayi. Paling si bayi hanya merasa bosan karena setiap hari cuma diberi makanan yang itu-itu saja (bubur instan).

Nah, untuk mengatasi rasa bosan, Dadang menyarankan agar Ibu-Bapak memberikan makanan yang beragam dan bervariasi. Dengan kata lain, makanannya jangan yang itu-itu saja, tapi diganti-ganti. Misalnya, hari ini diberi bubur instan, maka esoknya berilah biskuit bayi yang dilumatkan dengan air. Dadang mengingatkan, kondisi bayi pada usia hingga satu tahun seperti CPU komputer.

“Jadi, bayi seperti diinstal. Misalnya, bayi diberi bubur instan. Rasa bubur instan itu, kan, akan terasa pada lidah bayi. Nah, pada lidah, ada unsur saraf yang akan melaporkan ke otak. Dengan demikian, bila bayi melihat makanan serupa, ia sudah tahu rasanya. Ini akan disimpan dalam memori otaknya,” tuturnya.

Begitu pula jika bayi diberi makanan lain, akan juga disimpan dalam memori otaknya. Karena itulah, tukas Dadang, semakin beragam makanan yang diberikan kepada bayi akan semakin baik, sehingga di otaknya akan banyak menyimpan memori. Dengan begitu, bila bayi diberi makanan yang berbeda, dia akan cepat menerima.

“Tapi kalau hanya diberi makanan yang itu-itu saja, memorinya pun hanya itu saja. Akibatnya, ketika bayi sudah agak besar dan diberi makanan yang berbeda, ia akan merasa asing karena di CPU-nya atau memorinya tak ada makanan tersebut.”

BUAH-BUAHAN

Selanjutnya, agar bayi memiliki kebiasaan makan yang baik, Dadang menyarankan agar ibu membuat jadwal makan bayi. Pada umumnya jadwal pemberian makan dibagi 2, yaitu jadwal pemberian makanan utama dan jadwal makanan selingan. “Biasanya makanan selingan berupa buah-buahan yang sudah bisa diperkenalkan pada bayi sejak usia 3 bulan.” Adapun buah yang disarankan ialah yang berserat sedikit seperti pepaya dan pisang.

“Kedua jenis buah ini bisa dimakan langsung oleh bayi karena lunak,” kata Dadang. Namun untuk buah lainnya, seperti jeruk, melon, dan tomat biasanya harus dibikin jus dulu. Sementara buah yang dilarang untuk bayi adalah yang memiliki sifat merangsang seperti durian dan nangka. Buah-buahan ini dapat meningkatkan asam lambung sehingga tak baik bagi bayi.

SAYURAN DAN IKAN

Mulai usia 7 hingga 12 bulan, bayi sudah harus diberikan makanan lunak. Misalnya, bubur ayam beserta lauk-pauk seperti sayuran. “Berbeda dengan buah-buahan yang bisa diberikan pada usia 3 bulan, maka sayuran harus ditunda hingga usia 5 atau 6 bulan, karena sayuran mengandung zat nitrat yang dapat mengganggu penyerapan mineral dari makanan lain pada bayi,” terang Dadang.

Untuk perkenalan, Dadang menyarankan agar bayi diberi sayuran yang tak memiliki serat tinggi seperti wortel. Setelah itu, segala jenis sayuran boleh diberikan, namun tetap harus beragam dan bervariasi. Ikan juga sudah boleh diberikan. “Pada umumnya, semua ikan baik karena mengandung protein yang tinggi,” ujar Dadang.

Hanya masalahnya, ikan memiliki duri sehingga cara penyajiannya harus hati-hati. “Ikan laut dalam memiliki kelebihan ketimbang ikan lainnya karena mengandung asam lemak esensial.” Contohnya, tuna, cengkalang, dan sarden.

AYAM, TELUR, DAN HATI

Untuk ayam, Dadang menganjurkan agar bayi sebaiknya diberi ayam kampung, bukan ayam negeri. Kendati dari sudut gizinya sama saja, namun makanan ayam negeri dan kampung berbeda.

“Makanan ayam kampung masih alamiah, sedangkan makanan ayam negeri sudah diberi suplemen dan bermacam-macam hormon. Nah, hormon-hormon tersebut akan disimpan dan terakumulasi atau menumpuk di dalam tubuhnya,” terangnya. Jadi, bila bayi diberikan ayam negeri, secara tak langsung pakan yang disuntikkan pada ayam negeri akan termakan juga oleh bayi. “Bayi seperti mengkonsumsi makanan yang mengandung zat aditif secara langsung saja,” lanjut Dadang.

Adapun yang dimaksud zat aditif ialah zat tambahan pada makanan yang membuat makanan menjadi lebih enak, beraroma lebih harum atau yang membuat makanan lebih tahan lama. Jikapun Bapak dan Ibu ingin si kecil diberikan ayam negeri, menurut Dadang, boleh saja. “Tapi jangan terlalu sering, ya,” pesannya. Yang jelas, kalau mau aman, sebaiknya, sih, berikan ayam kampung saja. Sedangkan telur ayam, setelah bayi berusia 6 bulan dapat diberikan kuning telur karena kuning telur mengandung protein yang tinggi.

Namun frekuensi pemberiannya tak perlu setiap hari, lebih baik seminggu sekali. Pasalnya, kuning telur mengandung kolesterol yang tinggi. “Kalau terlalu sering diberikan pada bayi, dikhawatirkan setelah dewasa nanti tingkat kolesterolnya akan tinggi,” tutur Dadang. Sedangkan putih telur, pada prinsipnya boleh diberikan. Namun sebelumnya, Bapak dan Ibu perlu tahu dulu, apakah si kecil memiliki riwayat alergi. Soalnya, putih telur dapat memicu reaksi alerginya.

“Putih telur mengandung suatu jenis protein yang tak dapat berubah menjadi asam amino sehingga dapat terserap dalam darah. Inilah yang dapat memicu reaksi alergi,” terang Dadang. Tak demikian halnya bila bayi normal mendapat ASI eksklusif hingga usia 4 bulan, pemberian putih telur pada usia 5 bulan ke atas tak jadi masalah. Soalnya, si bayi telah memperoleh zat anti bodi dari ASI. Namun demikian, frekuensi pemberiannya hendaknya tak terlalu sering, cukup seminggu sekali. Akan halnya hati ayam, menurut Dadang, tak berbeda dengan kuning telur.

Hati ayam merupakan sumber protein yang tinggi namun memiliki kolestrol yang tinggi. “Bayi tentu saja memerlukan kolesterol namun tak perlu banyak sehingga frekuensi pemberiannya cukup seminggu sekali saja.” Memang, aku Dadang, kebanyakan ibu biasanya hanya mencampur nasi tim dengan hati ayam atau telur. Padahal, nasi tim itu enggak apa-apa, lo, kalau dicampur dengan ayam, daging giling, ataupun ikan. “Bahkan, kalau bayi mau diberi kaki ayam juga boleh, karena kaki ayam juga mengandung protein seperti halnya daging ayam.” Tapi jangan lupa, lo, Bu, agar menunya setiap hari berganti-ganti, beragam, dan bervariasi.

MAKANAN MANIS

Bagaimana dengan makanan manis? Menurut Dadang, sebaiknya bayi tak mengkonsumsi makanan manis. Selain tak baik untuk pertumbuhan gigi, “makanan manis seperti cokelat, es krim, dan kue-kue kecil, juga memiliki gizi yang kurang seimbang.” Cokelat, misalnya, yang tinggi adalah kadar lemak dan gulanya, sedangkan proteinnya kurang.

“Begitu juga es krim, kadar lemak dan gulanya sangat tinggi.” Jadi, Bu-Pak, sebaiknya si kecil jangan dulu diperkenalkan pada makanan yang manis-manis. Apalagi, sampai usia setahun, memori akan makanan terus menempel padanya. Bisa-bisa nantinya ia hanya suka pada makanan yang manis-manis saja. Lain halnya dengan madu.

“Madu merupakan sumber karbohidrat yang sederhana bagi bayi karena mudah diserap dan dicerna,” terang Dadang. Seperti diketahui, karbohidrat terdiri dari dua jenis; yang kompleks seperti nasi dan yang sederhana seperti madu. Mengenai manfaat madu yang katanya bisa menurunkan panas saat demam, menurut Dadang, dalam penelitian di dunia Barat belum pernah dibahas. “Tapi pada kenyataannya memang banyak orang yang mengakui hal itu.”

BUMBU DAPUR

Untuk bumbu dapur seperti garam, menurut Dadang, boleh diberikan. “Bayi juga membutuhkan garam, lo, karena garam mengandung natrium yang berfungsi menjaga keseimbangan cairan intra sel dan ekstra sel di tubuh bayi. Dengan demikian, bila bayi kekurangan garam, ia bisa menjadi lemah dan lesu,” terangnya.

Hanya saja, lanjut Dadang, kebutuhan bayi akan garam masih sedikit. Soalnya, ginjal bayi belum bisa menangani garam dalam jumlah cukup besar. Selain itu, bila bayi sudah diperkenalkan garam sejak dini, bisa-bisa setelah dewasa ia dapat menjurus pada tekanan darah tinggi. Bumbu dapur lain yang bersifat merangsang seperti lada dan bawang-bawangan juga sebaiknya dihindari karena dapat meningkatkan asam lambung bayi.

Jadi kalau bayi sudah diperkenalkan pada bumbu-bumbu tersebut, bisa-bisa setelah besar nanti ia akan menjadi penderita maag. “Terlebih lagi vetsin,” tukas Dadang seraya melanjutkan, “untuk orang dewasa saja vetsin tak baik, apalagi untuk bayi.” Soalnya, vetsin bisa mengakibatkan hipertensi. Nah, Bu-Pak, sudah lebih paham, kan?

SI KECIL BOLEH, KOK, MAKAN KEJU

Tapi tunggu sampai si kecil berusia 7 bulan, ya, Bu-Pak. Selain itu, pemberiannya juga jangan terlalu sering. Soalnya, keju mengandung lemak sangat tinggi. Nanti si kecil bisa merasa mual. Alangkah baiknya bila dipilih keju yang kadar lemaknya tak terlalu tinggi

MAKANAN UNTUK BAYI YANG SEDANG SAKIT

Pada bayi yang jatuh sakit, terang Dadang , ada semacam perubahan metabolisme sehingga bayi membutuhkan zat gizi yang lebih banyak lagi ketimbang waktu sehat. Pada bayi yang panas, misalnya, perbedaan suhu yang hanya satu derajat saja bisa meningkatkan energi yang berbeda. “Misalnya, suhu bayi normal adalah 36 dan suhu bayi yang tengah sakit adalah 37 derajat, nah, kebutuhan energinya sudah berbeda 13 persen,” tuturnya.

Yang jelas, pada bayi sakit, makanan yang diberikan haruslah yang mudah dicerna dan diserap. Berarti bentuknya kecil dan secara fisik harus cair. “Juga, makanannya jangan yang komplek, yaitu yang banyak seratnya, karena membuat usus bekerja keras.” Kemudian, porsinya kecil saja. Tapi karena bayi kebutuhannya meningkat, maka frekuensi pemberian makannya harus lebih sering. Contoh makanan untuk bayi sakit adalah sup ayam, yang tentunya sudah dilumatkan dulu sebelum diberikan pada si bayi.

 Pilih Makanan Bayi instan atau Buatan Sendiri, Ya?

 

 

 

 

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment

Powered by moviekillers.com.com