PERSALINAN MELESET DARI PERKIRAAN

PERSALINAN MELESET DARI PERKIRAAN

20091027210647

Namanya juga taksiran, perkiraan lahir atau bersalin, bisa saja meleset.Bayi bisa lahir lebih cepat atau lebih lambat dari taksiran. Untuk memastikannya, memang harus mencermati hasil pemeriksaan ultrasonografi (USG). Pun jika hasilnya sama, belum tentu juga bayi lahir pada tanggal tersebut.

Rumus umum. Secara umum, kehamilan dikatakan berlangsung selama 9 bulan 10 hari atau 280 hari. Tetapi, kapan waktu tepatnya terjadi pembuahan, hingga kini masih sulit diketahui. Akibatnya, diciptakanlah beberapa rumus untuk menghitung usia kehamilan dan taksiran persalinan. Salah satunya, rumus Naegle.

 Rumus ini didasarkan pada hari pertama haid terakhir (HPHT), dan sebenarnya hanya dapat digunakan pada wanita yang memiliki siklus haid teratur, yakni antara 28-30 hari. Ini yang kadang tidak diperhatikan dan membuat  calon ibu salah hitung sehingga mendapat taksiran persalinan yang meleset. Penyebab lain kesalahan taksiran cara ini adalah calon ibu salah atau lupa HPHT-nya.

Pemeriksaan USG. Dengan alat ini perkiraan persalinan bisa ditentukan lebih akurat.

  • Apalagi, bila pemeriksaan USG dilakukan antara usia kehamilan 7–11 minggu (trimester pertama). Ukuran bayi saat itu belum terlalu besar sehingga dokter bisa mengukur kepala sampai kaki janin (crown rump length atau CRL) dalam satu bidang. Lewat dari 11 minggu, kesalahannya adalah plus minus 7–10 hari.
  • Sementara kalau USG baru dilakukan pada trimester kedua, kesalahannya sudah plus minus 2–3 minggu. Kalau dilakukan pada trimester ketiga, kesalahannya sudah plus minus 3–4 minggu. Jadi, semakin besar suatu kehamilan, semakin tidak akurat untuk menentukan usia kehamilan atau taksiran persalinannya.

Mengingat taksiran persalinan USG  tidak 100% akurat, penting membandingkannya dengan taksiran persalinan berdasarkan HPHT. Apalagi,  bagi calon ibu yang ingat HPHT-nya. Jika bedanya tidak jauh, misalnya menurut haid taksiran persalinannya adalah tanggal 1 dan menurut USG tanggal 4, maka kita ikut tanggal yang menurut haid. Tapi kalau bedanya sudah lebih dari 10 hari, misalnya 2 minggu, maka kita ikut tanggal menurut hasil USG.

Kekeliruan dalam Penghitungan

Jumlah kejadian kehamilan yang melewati batas waktu normal memang tidak terlalu banyak. Biasanya, kasus-kasus ini terjadi akibat adanya kesalahan dalam menghitung usia kehamilan. Kesalahan penghitungan ini bisa terjadi lantaran siklus menstruasi dari si ibu yang tidak teratur. Artinya, kesalahan penghitungan masa kehamilan memang sudah terjadi sejak awal si ibu mengetahui bahwa ia sedang hamil.

Untuk mengetahui kapan tepatnya si ibu mulai hamil, ada baiknya jika ibu hamil melakukan pemeriksaan USG atau Ultra Sonografi. Dengan pemeriksaan melalui USG serta pengukuran tinggi rahim secara teratur pada trisemester awal kehamilan, ibu hamil bisa mengetahui kapan tepatnya pembuahan di dalam rahimnya terjadi. Hal ini dikarenakan, ketika ia mengalami terlambat datang bulan belum tentu pembuahan tersebut sudah terjadi di dalam rahimnya. Bisa jadi pembuahan tersebut baru berlangsung 2-3 minggu setelah si ibu mengalami terlambat datang bulan.

Namun pada beberapa kasus, meski si ibu sudah melakukan serangkaian pemeriksaan seperti yang disebutkan diatas, tetap saja ada persalinan yang meleset dari tanggal perkiraan. Dan sampai saat ini, belum diketahui secara pasti apa penyebab dari melesetnya waktu persalinan ini. Beberapa dokter ahli kandungan memperkirakan, melesetnya tanggal persalinan ini mungkin saja dipengaruhi oleh faktor dari si ibu dan juga janin dalam kandungan.

Jika ditilik dari faktor yang berasal dari si ibu, kehamilan postterm bisa saja terjadi akibat adanya riwayat postterm di kehamilan yang sebelumnya. Selain itu, kehamilan postterm juga bisa saja terjadi akibat adanya faktor keturunan atau genetik, kurangnya jumlah enzim sulfatase di dalam plasenta, kekurangan jumlah hormon tiroid dan masih banyak yang lainnya. Sedangkan jika dilihat dari faktor janin yang berada di dalam kandungan, kehamilan postterm bisa terjadi akibat adanya kelainan letak janin atau kelainan pertumbuhan pada tulang tengkorak. Atau, kehamilan jenis ini juga bisa terjadi karena janin berukuran besar atau istilahnya adalah makrosomi. Beberapa orang juga percaya bahwa kehamilan postterm lebih sering terjadi pada janin yang berjenis kelamin laki-laki daripada janin perempuan, meskipun belum ada penelitian yang membenarkan hal ini.

Masa Persalinan

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, jika seorang ibu hamil sudah melewati masa 42 minggu dan bayi di dalam kandungan belum menampakkan tanda-tanda melahirkan, maka dokter kandungan akan memeriksa apakah kehamilan si ibu memang benar-benar sudah melewati batas waktu. Biasanya, dokter kandungan akan melakukan pemeriksaan dan evaluasi melalui data catatan USG di trisemester awal serta kapan si ibu mengalami haid terakhir kali. Jika memang ternyata masa kehamilan si ibu sudah melewati batas waktu normal, maka dokter akan berusaha mencari tahu penyebabnya dan juga memeriksa kondisi janin dalam kandungan. Jumlah air ketuban, kardiotokografi serta kematangan plasenta juga ikut diperiksa untuk menjamin keselamatan si ibu dan si jabang bayi.

Setelah memeriksa kondisi janin dalam kandungan, dokter akan segera bisa memutuskan apakah persalinan harus dilakukan dalam waktu dekat atau tidak. Dalam hal ini, dokter juga akan mempertimbangkan cara persalinan seperti apa yang akan digunakan. Untuk persalinan secara normal atau pervaginam, biasanya dokter akan memberikan induksi melalui cara dan obat-obatan tertentu. Sedangkan jika induksinya gagal atau kondisi janin tidak memungkinkan, misalnya seperti ukuran bayi yang terlalu besar atau gawat janin, maka biasanya dokter akan menyarankan si ibu untuk melakukan operasi caesar.

Itu sebabnya ibu hamil perlu mempersiapkan mental serta kondisi fisiknya secara matang sejak awal masa kehamilan. Mereka juga tidak perlu mengkuatirkan kehamilan postterm karena selain jarang terjadi, kehamilan jenis ini juga tidak membahayakan selama kondisi janin terus dipantau secara ketat oleh dokter kandungan.

 Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk menghitung usia kehamilan. Anda bisa memilih yang paling mudah dan nyaman untuk dilakukan .

1. Hari pertama haid terakhir (HPHT)

Metode ini membutuhkan pengetahuan Anda tentang siklus menstruasi. Berdasarkan siklus, dokter bisa memperkirakan usia kehamilan dan tanggal kelahiran si kecil yang dihitung berdasarkan rumus Naegele, Cara menghitungnya: Tentukan hari pertama menstruasi terakhir. Angka ini dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir (LMP = Last Menstrual Periode).

Jika HPHT Ibu ada pada bulan Januari – Maret

Rumusnya: (Tanggal + 7 hari), (bulan + 9), (tahun + 0).

Misal, HPHT 10 Januari 2010, maka perkiraan lahir (10+7), (1+9), (2010 + 0) = 17-10-2010 atau 17 Oktober 2010.

Jika HPHT Ibu ada pada bulan April – Desember

Rumusnya: (Tanggal + 7 hari), (bulan – 3),(Tahun + 1).

Misal, HPHT 10 Oktober 2010, maka perkiraan lahir  (10 + 7), (10 – 3), (2010 + 1) = 17-7-2011 atau 17 Juli 2011.

Catatan:

• Rumus ini hanya bisa diterapkan pada wanita yang daur haidnya teratur, yakni antara 28-30 hari.

• Perkiraan tanggal persalinan sering meleset antara 7 hari sebelum atau setelahnya. Hanya sekitar 5% bayi yang akan lahir sesuai perhitungan ini.

• Untuk mengurangi kemungkinan terlalu melesetnya perhitungan pada wanita yang daur haidnya pendek, akan ditambahkan beberapa hari dari hari-H. Sedang yang daur haidnya panjang, akan dikurangi beberapa hari.

2. Gerakan janin

Perlu untuk diketahui bahwa pada kehamilan pertama gerakan janin mulai terasa setelah kehamilan memasuki usia 18-20 minggu. Sedangkan pada kehamilan kedua dan seterusnya, gerakan janin sudah terasa pada usia kehamilan 16-18 minggu.

3. Tinggi puncak rahim

Biasanya, dokter akan meraba puncak rahim (Fundus uteri) yang menonjol di dinding perut dan penghitungan dimulai dari tulang kemaluan. Jika jarak dari tulang kemaluan sampai puncak rahim sekitar 28 cm, ini berarti usia kehamilan sudah mencapai 28 minggu. Tinggi maksimal puncak rahim adalah 36 cm, ini menunjukkan usia kehamilan sudah mencapai 36 minggu.

Perlu dietahui, ukuran maksimal adalah 36 cm dan tidak akan bertambah lagi meskipun usia kehamilan mencapai 40 minggu. Kalaupun tingginya bertambah, kemungkinan yang akan dialami adalah janin Anda besar, kembar, atau cairan tubuh Anda berlebih.

4. Menggunakan 2 jari tangan

Pengukuran dengan menggunakan 2 jari tangan ini hanya bisa dilakukan jika ibu hamil tidak memiliki berat badan yang berlebih. Caranya; letakkan dua jari Anda diantara tulang kemaluan dan perut. Jika jarak antara tulang kemaluan dengan puncak rahim masih di bawah pusar, maka setiap penambahan 2 jari berarti penambahan usia kehamilan sebanyak 2 minggu.

 5. Menggunakan ultrasonografi (USG)

Cara ini paling mudah dan paling sering dilakukan oleh dokter. Tingkat akurasinya cukup tinggi, yakni sekitar 95%. Dengan USG maka usia kehamilan dan perkiraan waktu kelahiran si kecil bisa dilihat dengan jelas melalui “gambar” janin yang muncul pada layar monitor.

 PERSALINAN MELESET DARI PERKIRAAN

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment

Powered by moviekillers.com.com