Pada Usia Berapa Anak Bisa Di Tinggal Sendiri ?

Pada Usia Berapa Anak Bisa Di Tinggal Sendiri ?

b3d1ef9a8f72b0ef_86530923.preview

Pada usia berapa anak bisa ditinggal di rumah sendiri? Pada usia 11 – 12 tahun, sebagian besar anak sudah siap ditinggal sendiri di rumah.

Meski begitu, semua ini sangat tergantung pada tingkat kemandirian anak. Apakah dia sudah terbiasa memenuhi semua kebutuhannya sendiri dan menyelesaikan tanggung jawabnya tanpa ada yang mengawasi?

Anda bisa melatihnya dengannbsp; meninggalkannya di rumah secara bertahap, diawali dari selama beberapa jam hingga akhirnya menjadi seharian. Berikut tip untuk melakukannya:

– Pastikan anak merasa nyaman. Bila ia takut atau cemas, jangan dipaksakan.

– Beritahu cara menghubungi Anda. Untuk itu, tinggalkan nomor telepon yang mudah dihubungi. Jika perlu, siapkan beberapa nomor telepon darurat lainnya.

– Ajarkan cara mengatasi situasi tertentu, seperti ada tamu atau petugas kebersihan yang datang. Katakan padanya untuk tidak membukakan pintu sampai Anda pulang. Kalau dia ragu-ragu, mintalah untuk selalu menelepon Anda dulu.

– Beritahu nomor telepon pos satpam, pos polisi, dan pemadam kebakaran terdekat. Katakan untuk segera ke luar rumah begitu ada kondisi darurat, seperti kebakaran atau gempa.

– Susun tugas atau aktivitas yang harus dilakukannya selama berada di rumah, termasuk mengunci pintu dan jendela, serta menelepon Anda di waktu-waktu yang sudah disepakati.

– Siapkan semua makanan yang diperlukan anak, baik dalam keadaan matang atau siap makan. Jangan memintanya untuk memanaskan makanan, menggunakan microwave atau kompor, jika anak belum terbiasa.

Salah satu tugas yang mesti dijalankan orang tua adalah MEMPERSIAPKAN ANAK UNTUK HIDUP MANDIRI. Pada akhirnya anak akan harus hidup sebagai seorang dewasa yang bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Ia tidak lagi dapat terus bergantung pada kita sebagai orang tuanya. Nah, dalam kerangka menyiapkan anak untuk mandiri, kita pun perlu untuk mulai memisahkan anak dari kita—salah satunya adalah, TIDAK LAGI TIDUR DENGAN KITA.

Membesarkan anak dapat diibaratkan seperti menyiapkan masakan—sangat unik! Meski bahannya sama, namun citarasa masakan belum tentu sama—bergantung pada siapa yang memasaknya. Begitu pula dengan membesarkan anak. Kita boleh menggunakan metode yang sama namun hasil akhir belum tentu sama. Setiap anak unik dan mesti diperlakukan secara khusus, sesuai dengan kondisinya.

Salah satu tugas yang mesti dijalankan orang tua adalah MEMPERSIAPKAN ANAK UNTUK HIDUP MANDIRI. Pada akhirnya anak akan harus hidup sebagai seorang dewasa yang bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Ia tidak lagi dapat terus bergantung pada kita sebagai orang tuanya. Nah, dalam kerangka menyiapkan anak untuk mandiri, kita pun perlu untuk mulai memisahkan anak dari kita—salah satunya adalah, TIDAK LAGI TIDUR DENGAN KITA.

Mungkin salah satu pertanyaan yang muncul berkaitan dengan hal ini adalah, pada umur berapakah anak semestinya dipisahkan untuk tidur sendiri. Sebetulnya tidak ada patokan yang jelas, pada usia berapakah seharusnya anak tidur sendiri ? Sama seperti kita tidak dapat mematok pada usia berapakah anak seharusnya makan sendiri, kita pun TIDAK bisa secara kaku memastikan pada usia berapakah anak seharusnya tidur sendiri.

Justru yang lebih dapat kita pastikan adalah PADA MASA AWAL SEHARUSNYALAH ANAK TIDUR DENGAN ORANG TUA—setidaknya dan sebaiknya dengan ibu. Tidur bersama orang tua memberikan rasa tenteram pada diri anak sebab pada usia awal ini, anak bergantung sepenuhnya pada kita, orang tuanya, untuk menyusui dan merawatnya. Jadi, makin dekat kehadiran orang tua, makin tenteram hati si anak. Sebaliknya, makin jauh kehadiran orang tua—makin susah dan makin lama orang tua hadir ketika dibutuhkan anak—makin bertambah kecemasan pada diri anak. Nah, di dalam rasa aman ini, secara perlahan anak akan makin siap untuk ditinggal oleh orang tua untuk tidur sendiri. Jadi, tidak benar bila kita berpendapat bahwa seharusnyalah sejak kecil anak sudah harus tidur terpisah dari orang tua supaya ia terbiasa tidur sendiri. Sekali lagi saya tekankan, ANAK MEMERLUKAN KEHADIRAN ORANG TUA SECARA DEKAT SUPAYA TERCIPTA RASA AMAN PADA DIRINYA.

Oleh karena setiap anak unik, maka tingkat kecemasan yang dibawa anak juga tidak sama. Ada anak yang mengembangkan rasa aman secara cepat tetapi ada pula anak yang lambat mengembangkan rasa aman. Itu sebab ada anak yang mudah dipisah, namun ada pula anak yang susah dipisah. Begitu kita beranjak pergi, ia pun menangis dan baru berhenti menangis setelah kita kembali berada di sisinya.Adakalanya karena letih, kita pun hilang sabar dan memarahinya serta memaksanya untuk tidur sendiri. Memang pada akhirnya anak akan tidur sendiri karena terpaksa namun sesungguhnya, untuk suatu masa, ia akan harus hidup dalam KETEGANGAN. Jadi, yang seharusnya dilakukan adalah, BUKAN memarahinya tetapi justru menenangkannya dan menidurkannya kembali. Setelah ia tertidur barulah kita meninggalkannya. Memang besar kemungkinan pada awalnya ia akan bangun dan menangis lagi begitu menyadari bahwa kita tidak berada di sampingnya. Tidak apa. Yang perlu dilakukan adalah kembali menemaninya sampai ia tertidur lagi. Perlahan tetapi pasti ia akan mengembangkan rasa aman yang tidak lagi bertumpu pada kehadiran kita terus menerus, melainkan pada kepastian bahwa kita akan hadir tatkala dipanggilnya.

Kembali kepada pertanyaan, pada umur berapakah anak seharusnya memulai proses untuk tidur terpisah, sebagai pedoman, ukuran yang dapat kita gunakan adalah KESIAPANNYA UNTUK DILEPAS SENDIRI. Bila ia mulai dapat dilepas untuk bermain sendiri, itu berarti sudah tiba saatnya buat kita untuk memulai proses pemisahan tidur.

Kadang proses pemisahan tidur terhambat oleh masalah lain. Misalnya, konflik suami-istri atau suasana lingkungan yang mencekam dapat menambah rasa cemas anak. Bila ini terjadi, kita harus fleksibel dan bersabar untuk mendampinginya namun tetap dengan cara yang sama, bukan dengan tidur dengannya terus menerus. Adakalanya kita pun mempunyai masalah meninggalkan anak sendirian karena ingin terus menyayangi dan melindunginya. Akhirnya ia makin bergantung dan tidak berkesempatan mengembangkan kemandirian. Sudah tentu ini tidak sehat. Bukannya menolongnya, kita malah merugikannya sebab ia terus bergantung pada kita.

Alkitab sarat dengan gambar Allah sebagai Bapa yang mengasihi kita anak-anak-Nya. Sudah tentu kita mesti mengasihi anak namun kita pun mesti mendisiplin anak. Amsal 22:6 menegaskan pentingnya disiplin dalam pertumbuhan anak, “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Memisahkan anak pada waktu tidur malam adalah bagian dari mendisiplin anak. Tetapi, kita mesti melakukannya dengan penuh kasih serta pengertian akan kondisi anak.

Pertanyaan

Banyak orang tua yang merasa anak usia ini sudah bisa ditinggal sendirian di rumah. Misalnya orangtua pergi kondangan selama beberapa jam. Ada pun pertanyaan yang ingin saya ajukan adalah:
1. Benarkah anak usia ini sudah bisa ditinggal sendirian di rumah?
2. Kalau anak belum berani, bagaimana mengajarkannya?
3. Sebaliknya kalau anak terlalu berani, bagaimana menyikapinya?
4. Apa saja yang harus diajarkan pada anak saat ditinggal sendirian di rumah?
5. Bolehkah sekaligus “dititipi” untuk menjaga adik?

Jawaban

Dalam hal kemandirian, anak usia sekolah (7 – 12) thn memang dituntut untuk mengembangkan dan memiliki kemandirian dasar dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini, diharapkan dengan bertambahnya usia, anak mampu mengurus diri nya sendiri dan bahkan bisa bertanggung jawab terhadap tugas-tugas rumah tangga yang diberikan oleh orangtua.
Tidak bisa dipungkiri bahwa aspek kemandirian anak, sangat tergantung pada pola asuh serta disiplin yang diterapkan oleh orangtua. Jadi, kita bisa lihat mengapa ada anak yang ketika masuk di kelas 1 SD sudah bisa ”enjoy” sendirian tanpa ditemani orangtuanya, tetapi ada juga anak yang masih harus ditunggui bahkan ditemani oleh orangtuanya sampai di dalam kelas.

Terkait dengan pertanyaan di atas, maka untuk meninggalkan anak sendirian di rumah, banyak hal yang harus kita ”persiapkan” sejak dini. Keberanian untuk berpisah dengan orgtua, kemandirian dalam memenuhi kebutuhan dasar (seperti : Makan, minum, buang air kecil dan besar), penguasaan terhadap seluk beluk rumah (bisa membuka dan mengunci pintu, mengetahui tempat penyimpanan kotak P3K, bisa mematikan kompor, mematikan kran air), bagaimana bersikap kepada orang asing yang mungkin datang ke rumah saat orgtua tidak ada, serta mengetahui apa yang harus dilakukan bila terjadi emergency (misalnya : kebakaran, ada yg terluka).

Dari keterangan di atas, meski faktor keberanian anak merupakan hal mendasar dalam kemandirian, namun hal tsb tidak lah cukup bila kita ingin meninggalkan anak sendirian di rumah tanpa ada org dewasa yg menemani. Faktor keberanian, haruslah ditunjang dengan faktor2 lain yg sudah saya sebutkan di atas. Mengapa? Karena kita tidak akan pernah tahu hal2 apa saja yang bisa terjadi saat kita pergi sementara tidak ada orang dewasa yang bisa membimbing anak atau membuat keputusan saat terjadi peristiwa yg sifatnya emergency.

Jadi, latihlah anak-anak sejak dini untuk berani, mandiri, juga percaya diri, yang kemudian orgtua dapat memberi bekalan pengetahuan dan tips seputar P3K, savety, bagaimana menghadapi orang asing, dan apa yang harus dilakukan bila terjadi hal2 yg sifatnya emergency. Orgtua juga harus memberitahu dan menempel nomor2 telp penting di tempat yg mudah terlihat oleh semua orang di rumah, termasuk anak2. Dengan demikian, diharapkan, saat anak berusia 8 atau 9 tahun, orgtua sudah bisa meninggalkannya sendiri di rumah.

Oh ya, untuk melatihnya, harus dilakukan secara bertahap. Orang tua jangan langsung meninggalkan anak2 sendiri dalam jangka waktu yang lama. Mulailah dari 0.5 jam dahulu untuk jarak yang tidak terlalu jauh (misalnya untuk berbelanja di toko yg masih terletak di dalam lingkungan rumah).

Setelah itu barulah ditambah lagi durasi waktunya menjadi 1 jam, lalu bisa 2 jam, lalu 3 jam. Jangan lupa sebelum pergi, orgtua harus me-ngecek dahulu keadaan rumah ( matikan kompor, kran air, menyiapkan lampu emergency bila listrik padam ), dan buatlah perjanjian dgn anak kapan saja/berapa kali orgtua harus menelpon ke rumah sehingga anak tetap merasa aman meski orgtua tidak ada di rumah.

Mengenai ”dititipi” adik, kita sebagai orgtua harus benar2 cermat dalam mengambil keputusan, karena itu artinya kita menyerahkan pengasuhan adik kepada kakak yang juga harus bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Dalam hal ini, faktor usia si kakak, juga si adik, perlu dipertimbangkan.

Idealnya adalah dalam hal ini si adik pun sudah memiliki keberanian dan kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya sendiri (minimal sudah bisa makan dan minum sendiri, buang air sendiri), sehingga si kakak bisa kita ”bebankan” hanya untuk mengawasi dan mengajak adik bermain sambil tetap waspada dengan keadaan di rumah. Ingat!, meski si kakak lebih dewasa dan matang, tetap saja secara usia (7 – 12thn) bukan lah usia yg tepat untuk menyerahkan sepenuhnya tanggungjwab pengasuhan si adik kepada kakak.

Jadi, orang tua harus ingat waktu dan tidak terlalu lama meninggalkan anak2 sendirian di rumah tanpa ada yang mengawasi.

 Pada Usia Berapa Anak Bisa Di Tinggal Sendiri ?

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment

Powered by moviekillers.com.com