Melahirkan Normal atau Operasi Caesar . Bag 1

Melahirkan Normal atau Operasi Caesar

melahirkan

            Salah satu kodrat perempuan adalah melahirkan. Dan Tuhan telah menciptakan tubuh seorang perempuan begitu sempurnanya sehingga tubuh wanita mampu mendukung dan menyesuaikan untuk menjalankan kodratnya tersebut yaitu melahirkan. Melahirkan  memang adalah tugas mulia namun juga cukup berat.

     Banyak pengorbanan yang diperlukan oleh perempuan dalam proses melahirkan tersebut. Banyak perempuan merasakan ketakutan ketika akan menghadapi proses persalinan. Mulai dari rasa takut akan sakitnya, takut terjadi sesuatu yang tidak diharapkan dalam proses persalinan dan perasaan takut lainnya yang menggelayuti benak para ibu hamil.

            Seiring dengan perkembangan jaman kini mulai muncul teknik atau proses persalinan yang menawarkan kenyamanan atau mengurangi rasa sakit saat proses persalinan, seperti hypnobirthing, waterbirth, orgasmic birth dan yang terkahir adalah melalui operasi.

            Jenis melahirkan melalui operasi bahkan kini jumlahnya meningkat tajam. Apakah dengan meningkatnya jumlah melahirkan dengan operasi menandakan bahwa kondisi sekarang banyak ibu hamil yang tidak memenuhi persyaratan untuk melahirkan normal? atau ada hal lain yang menyebabkan ibu hamil banyak “request” atau “disarankan” untuk melahirkan melalui operasi meskipun tidak disarankan?

          Sekilas mengenai melahirkan melalui operasi. Melahirkan melalui operasi atau dikenal dengan istilah operasi caesar, cesarean section, atau C-section. Dulu operasi caesar hanya digunakan untuk menyelamatkan bayi ketika ibu hamil sudah meninggal dunia  saja.

               Sebetulnya nama Caesar sampai sekarang tidak jelas awal namanya berasal dari mana. Awalnya merujuk pada zaman Romawi pada kelahiran Julius Caesar yang melalui operasi, namun hal ini diragukan karena sang ibu Aurelia masih mendengar kabar anaknya menginvasi Inggris.

               Berarti ibunya masih hidup saat melahirkan Julius Caear. Ada juga yang mengaitkan berasal dari bahasa latin “caedare” yang artinya memotong ada juga yang mengaitkan dengan “Caesones” yaitu istilah bagi bayi yang dilahirkan melalui operasi postmortem (operasi sesudah kematian ibu).

            Seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan teknologi di dunia kedokteran kini operasi caesar tidak hanya dilakukan pada ibu yang sudah meninggal saja tapi bisa dilakukan pada ibu yang masih hidup. Sehingga dengan demikian, kemajuan dunia kedoktera tersebut membawa hal positif terutama bagi jenis-jenis persalinan bermasalah, sehingga dapat menyelamatkan baik bayi maupun ibu.

            Persalinan-persalinan bermasalah tersebut seperti ibu mengalami kondisi panggul sempit, bayi besar, letak bayi sungsang, kondisi gawat janin, ibu memiliki kesehatan serius seperti herpes genital, hipertensi, placenta previa, terjadi banyaknya perdarahan, indikasi adanya tumor di rahim dll. Jadi, operasi caesar hanya dilakukan kepada kondisi persalinan-persalinan bermasalah.

      Namun seiring perkembangan jaman juga, kini operasi cesar banyak menawarkan hal-hal yang “menggiurkan” bagi ibu hamil mulai bisa memilih tanggal kelahiran bayi sesuai tanggal hoki, dianggap tidak mengalami rasa sakit, dan tidak merusak organ intim perempuan, proses tidak terlalu lama antara 45 menit – 1,5 jam, ibu tidak merasa kecapean karena tidak perlu mengejan. Sehingga dengan hal-hal tersebut banyak ibu hamil berbondong-bondong menginginkan melahirkan dengan operasi caesar.

               Namun, hal-hal yang “menggiurkan” tersebut tidaklah sepenuhnya benar atau memiliki resiko tersendiri. Berikut penjelasannya:

  •           Memilih tanggal melahirkan. Resiko dari memilih tanggal melahirkan adalah bisa saja bayi tersebut belum saatnya lahir alias prematur atau bayi kelebihan bulan. Ibu mungkin sudah mengetahui resiko bayi lahir prematur, dimulai dari mendapat permasalahan pernafasan, bayi cenderung memiliki masalah mental dan rentan terhadap masalah kesehatan lainnya.(Baca: Persalinan Prematur). Begitu juga dengan melahirkan pada kondisi kelebihan bulan bayi juga akan mengalami masalah pernafasan, bayi akan mengalami kekurangn oksigen, bayi beresiko cacat. (Baca: Kehamilan Kelebihan Bulan) Sedangkan pada persalinan normal, kita tidak bisa menentukan kapan baiknya kita harus melahirkan, karena memang secara alami kontraksi terjadi yang menandakan bahwa kehamilan telah cukup umur untuk melahirkan. Namun hal tersebut ada baiknya karena menghindarkan bayi terlahir dengan prematur.
  •           Melahirkan Cesar tidak merusak organ intim wanita. Memang betul, karena caesar melalui perut. Tapi ingat, bekas sayatan dan jahitan akan membekas pada perut ibu yang tentunya akan mengurangi keindahan perut ibu. Apalagi di tambah dengan adanya keloid. Memang ada yang tanpa bekas, tapi biayanya? Sedangkan pada persalinan normal, memang betul organ kewanitaan mengalami “gangguan” berupa berkembang membesar saat proses persalinan hingga sampai perlu “disobek” dan dijahit juga.Namun, jangan khawatir ibu, setelah 40 hari rahim dan organ intim wanita akan kembali ke bentuk semula, sekali lagi akan kembali ke bentuk semula, apalagi jika dibantu dengan senam kegel. Sebetulnya organ intim wanita atau “miss v” itu sifatnya elastis, sebetulnya tidak hanya saat melahirkan, saat terangsang pun “miss v” bahkan bisa mengembang hingga dua kali lipat, dan akan kembali ke bentuk semula jika sudah tidak terangsang. Jadi, jangan khawatir persalinan normal hanya sementara “mengganggu” miss v, selanjutnya akan kembali normal.
  •           Melahirkan cesar tidak sakit. Sebetulnya ini anggapan yang salah kaprah. Memang betul saat proses cesar ibu tidak akan mengalami rasa sakit karena anestesi (bius), namun sesudahnya efek anestesi hilang, ibu akan merasakan rasa sakit pada luka bekas sayatan. Bahkan rasa sakit ini bisa berkepanjangan hingga memerlukan perawatan yang lebih lanjut yang membuat ibu melahirkan caesar perlu rawat inap beberapa hari lagi. Bekas jahitan juga akan menimbulkan rasa sakit, bahkan sakit pada tulang belakang tempat dilakukan suntik anestesi lokal.Jadi ternyata cukup beragam sakit yang dirasakan setelah operasi caesar. Sedangkan pada persalinan normal, rasa sakit hanya terjadi saat proses persalinan, bahkan banyak ibu-ibu yang sudah tidak merasakan rasa sakit esok harinya bahkan sudah bisa berjalan-jalan. Dan sekarang banyak metode persalinan normal yang meminimliasir rasa sakit seperti hypnobirthing, waterbirth, dll

 

 

Alasan Mengapa Harus Dilakukan Sesar…???

 

 

– Leher rahim (serviks) berhenti membuka atau bayi tidak lagi terdorong ke bawah ke saluran lahir sehingga kontraksi rahim yang timbul gagal mendorong bayi

– Detak jantung bayi semakin tidak teratur dan dokter memutuskan bahwa bayi tersebut tidak akan bertahan dalam tekanan bila dilahirkan lewat jalan normal

– Tali plasenta menghalangi jalan lahir sehingga menghalangi suplai oksigen ke bayi

Jika ada tanda-tanda bahwa plasenta akan robek atau memisahkan diri dari dinding rahim, maka sesar harus segera dilakukan.

Alasan lain yang cukup kuat mengapa sesar dilakukan misalnya:

– Adanya riwayat operasi pada rahim, atau operasi sesar multiple
– Bayi dalam keadaan sungsang (pantat ada di bagian jalan lahir) atau lintang
– Bayi kembar atau lebih dari tiga
– Ibu mengalami plasenta previa (plasenta terletak terlalu rendah pada rahim  sehingga menghalangi jalan lahir)
– Saat melahirkan, ibu menderita herpes genital yang bisa ditularkan ke bayi saat bayi keluar melalui vagina
– Ibu mengalami pre eklampsia (tekanan darah tinggi saat hamil) yang semakin memburuk
– Bayi mengalami ketidaknormalan atau sakit yang bila dilahirkan lewat vagina akan mempertinggi resiko
– Ukuran bayi cukup besar, terutama bila ibu menderita diabetes atau pernah melahirkan bayi dengan besar yang sama sehingga ibu mengalami trauma saat melahirkan.

Proses penyembuhan sesar agak lebih lama daripada melahirkan melalui vagina/jalan normal). Setelah pulang dari rumah sakit, perlu perawatan bagian jahitan yang akan terasa nyeri selama beberapa minggu. Beberapa perawatan yang dilakukan pasca sesar di antaranya:

– Jika terasa nyeri, kemerahan, atau bengkak sekitar luka jahitan, atau adanya cairan kekuningan/darah keluar, segera konsultasikan dengan dokter
– Bersihkan luka jahitan dengan larutan hydrogen peroksida 2-3 kali perhari
– Hindari menutupi luka dengan perban. Bila luka dibiarkan terbuka, akan lebih cepat sembuh
– Jahitan jarang terbuka. Tetapi bila terbuka, segeralah ke dokter
– Jika mengalami demam di atas 38,3 C, berarti terjadi infeksi, segeralah ke dokter
– Memperbanyak porsi istirahat, tetapi jangan tiduran di tempat tidur. Aktifitas ringan dapat mencegah terbentuknya bekuan darah pada kaki
– Hindari mengangkat benda berat atau naik tangga. Sebaiknya tanyakan pada dokter mengenai aktifitas apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Melahirkan dengan cara sesar memiliki resiko terjadinya pendarahan, infeksi, luka pada organ-organ terdekat dan bekuan darah pada kaki, panggul, serta paru. Jadi sebaiknya pilihlah rumah sakit yang sudah biasa menjalankan operasi sesar.

Berikut resiko bayi lahir sesar ( Caesar ) :

1. Gangguan pernapasan

TTNB (Transient Tachypnea of the New Born) adalah gangguan pernapasan yang paling sering dikhawatirkan terjadi pada bayi sesar. Gangguan ini terjadi akibat cairan yang memenuhi paru-paru janin selama berada dalam rahim tidak terkompresi mengingat bayi sesar tinggal “terima jadi”. Padahal, proses persalinan per vaginam melewati jalan lahir inilah yang memungkinkan cairan yang memenuhi paru-paru semasa janin berada dalam rahim dipompa habis keluar.

Selain itu, proses kompresi juga terjadi berkat kontraksi rahim ibu secara berkala. Kontraksi yang lama-kelamaan semakin kuat ini akan menekan tubuh bayi, sehingga otomatis cairan dalam paru-parunya ikut keluar. Nah, pada bayi sesar, kedua proses kompresi tadi tidak terjadi dengan sempurna.

2. Rendahnya sistem kekebalan tubuh

Data berdasarkan evidance base memang belum ada. Namun pada proses persalinan normal, bayi berpindah dari rahim yang nyaris steril ke lingkungan luar melalui proses yang berlangsung lama dan melibatkan kontraksi selama berjam-jam. Saat lahir pun, mulut bayi tidak tertutup sehingga banyak kuman yang masuk ke dalam mulut, bahkan sampai ke pencernaan. Imbasnya, bayi mengalami kontak alami dengan mikroba floral dalam jalan lahir ibunya yang kemudian berkoloni di ususnya. Hal ini sangat berpengaruh pada perkembangan dan pematangan sistem kekebalan tubuhnya.

3. Rentan alergi

Baik dari kondisi “kotor” di jalan lahir yang tidak dilalui si bayi yang dilahirkan secara sesar, maupun tertundanya pemberian ASI sesegera mungkin, membuat risiko alergi pada bayi jadi lebih tinggi. Belum lagi paparan antibiotik yang biasanya diberikan kepada bayi sesar sebagai langkah berjaga-jaga dari kemungkinan infeksi, juga meningkatkan risiko alergi.

4. Emosi cenderung rapuh

Meski belum terbukti melalui penelitian ilmiah, kondisi psikologis bayi sesar diduga cenderung lebih rapuh dibanding bayi yang dilahirkan secara normal. Faktanya, bayi yang lahir normal memang dihadapkan pada kondisi tidak nyaman dimana ia harus melewati jalan lahir yang sempit dan berliku disertai tekanan hebat akibat kontraksi rahim. Perjuangan inilah yang diyakini dapat melatih mental si kecil sejak dini. Boleh jadi faktor ini memberi kontribusi tersendiri terhadap kepribadian si anak kelak.

Akan tetapi pola asuh yang diberikan orangtua dan bagaimana pengaruh lingkungan terbukti lebih ikut memberi warna apakah seseorang lebih tahan banting atau tidak ketika menghadapi stres kehidupan.

5. Terpengaruh anestesi

Kondisi ini mungkin saja terjadi. Karenanya, tim dokter yang terdiri dari dokter kebidanan dan kandungan, dokter anak, dan dokter anestesi harus berhitung secermat mungkin agar pembiusan pada bayi berpengaruh seminim mungkin. Untuk itu, umumnya anestesi yang digunakan adalah anestesi spinal yang berdosis rendah. Penggunaan bius total membuat bayi terlihat agak ngantuk karena dikeluarkan saat masih di bawah pengaruh anestesi.

6. Minim peluang IMD

Bayi sesar kurang mendapatkan kesempatan untuk menjalani IMD alias inisiasi menyusu dini. Ini karena kondisi bayi sesar berbeda dari kondisi bayi lahir normal yang bisa langsung ditempelkan di dada ibunya dengan refleks yang cukup kuat untuk mencapai payudara ibu. Sementara pada persalinan sesar, hal yang tak bisa segera dilakukan mengingat bayi biasanya langsung dipasangi infus dan selang oksigen guna membantu pernapasannya. Si ibu pun umumnya masih dalam keadaan “teler” akibat pengaruh obat anestesi.

Bertolak dari sederet risiko yang tidak ringan tersebut, patahlah anggapan bahwa bayi yang dilahirkan sesar pasti lebih cerdas dibanding sesama bayi yang dilahirkan normal. Terlebih bila tindakan sesar itu terpaksa ditempuh karena adanya gangguan kegawatan janin. Gangguan ini tentu saja bisa berdampak langsung pada kondisi bayi meski banyak juga bayi sesar tak “bermasalah” yang menampakkan potensi kecerdasannya.

Secara fisiologis, di usia kehamilan 37 minggu biasanya kepala janin sudah akan masuk ke jalan lahir. Bahkan memasuki minggu-minggu terakhir kehamilan (usia kehamilan 38-40 ming-gu), tubuh ibu sudah betul-betul siap melahirkan bayi. Jalan lahir menjadi lunak dengan sendirinya. Perlunakan ini membuat kepala bayi mustahil terbentur tulang panggul ibu yang keras ketika meluncur di jalan lahir.

Adanya kontraksi yang semakin kuat dan semakin sering sangat membantu bayi mendorong kepalanya sedikit demi sedikit melewati jalan lahir.

Gerakan ini bukan sekadar meluncur dengan mendorong-dorong kepalanya, tapi mendorong sambil memutar saat mencari jalan keluar. Gerakan membentuk ulir ini menjamin kepala bayi maupun isi kepalanya sama sekali tidak terganggu. Apalagi otak juga cukup terlindung dengan aman oleh tulang-tulang tengkorak yang kuat.

Kalaupun ada trauma jalan lahir yang dialami biasanya tidak sampai menimbulkan gangguan yang berarti. Yang paling sering terjadi hanyalah perdarahan di kulit kepala terluar. Jarang sampai terjadi gangguan di bagian dalam kepala.

Contohnya, fase pembukaan sudah lengkap dan kepala janin sudah melewati pintu atas panggul, namun ia tak kunjung keluar. Dalam kondisi seperti itu biasanya dibutuhkan alat bantu seperti vakum atau forseps. Sesuai namanya, alat bantu ini akan membantu menarik janin keluar.

Sayangnya, penggunaan vakum tidak menihilkan risiko pada bayi. Terutama jika tarikannya tergolong kuat karena dapat meningkatkan tekanan pada kepala. Jaringan kepala bagian dalam dan luar bisa saja ikut tertarik mengingat ubun-ubun bayi biasanya masih dalam kondisi terbuka. Tindakan vakum dikhawatirkan dapat memengaruhi/mengganggu sistem persarafan di bagian kepala.

Bukan cuma bagian kepala yang bisa terkena pengaruhnya, tapi juga bagian tubuh lain. Contohnya, jika bayi terpaksa divakum gara-gara berat tubuhnya lebih dari 4.000 gram. Menarik tubuh bayi begitu saja agar keluar bukan tidak mungkin membuat jaringan persarafan/fleksus bahu ada yang ikut tertarik. Akibatnya, bayi mengalami lumpuh pada bagian lengan yang persarafannya ikut tertarik tadi. Kesimpulannya, dibanding lahir dengan tindakan vakum, persalinan sesar lebih memungkinkan bayi mengalami risiko seminimal mungkin.

Jika proses kelahiran bayi sampai menimbulkan gangguan pada proses tumbuh kembangnya, tidak menutup kemungkinan hal ini berdampak pada kecer-dasannya. Nah, tinggal bagaimana orangtua mendeteksi gangguan tersebut sesegera mungkin. Caranya? Dengan mengamati bagaimana perkembangan motorik kasar si bayi di usia-usia awal. Adanya gangguan atau keterlambatan biasanya akan tampak di usia 4 bulan ke atas. Dokter yang menangani bayi-bayi

dengan gangguan perkembangan biasanya juga akan bertanya mengenai proses kelahirannya. Kalau memang gangguan perkembangan tersebut diduga akibat proses kelahiran, maka si bayi harus sesegera mungkin ditangani oleh ahlinya. Ini agar proses tumbuh-kembangnya dapat optimal. Tentu saja selain perlu distimulasi secara teratur dan terus-menerus.

Pemulihan Pasca Melahirkan (Normal dan Caesar)

Kelahiran si kecil merupakan hal yang dinantikan oleh para ibu hamil. Pada proses persalinan dibutuhkan tenaga, mental dan kesiapan Bunda untuk melaluinya. Saat si kecil telah lahir ke dunia, semua perjuangan Bunda seperti terbayar . Rasa bahagia dan lega muncul dengan hadir nya si kecil.

Tidak hanya kesiapan dalam proses melahirkan yang Bunda perlu ketahui, tapi Bunda juga perlu tahu bagaimana proses pemulihan pasca melahirkan, baik persalinan normal maupun operasi caesar. Proses pemulihan pasca operasi caesar memang cenderung lebih lama daripada persalinan normal.  tetapi hal-hal yang perlu Bunda perhatikan untuk mempercepat pemulihan di bawah ini berlaku untuk persalinan normal dan operasi caesar.

Jangan mengangkat beban berat

Pasca melahirkan kondisi Bunda belum pulih, karena itu jangan mengangkat beban berat lebih dari  pada berat bayi Bunda meskipun Bunda merasa kuat dan baik-baik saja. Hal ini agar proses penyembuhan otot-otot di perut Bunda berjalan dengan baik. Setidaknya selama 6 minggu atau selama masa nifas Bunda beristirahat dan tidak mengangkat beban berat.

Perbanyak minum air dan mengonsumsi makanan berserat

Saat proses persalinan Bunda banyak mengeluarkan cairan, seperti ketuban, darah dan cairan tubuh lainnya. Untuk itu diperlukan cairan pengganti. Perbanyak juga mengonsumsi buah-buahan dan makanan berserat agar mempermudah Bunda saat buang air.

Aktif bergerak

Setelah melahirkan, cobalah secara bertahap untuk aktif bergerak. Bunda bisa  melakukan jalan ringan di pagi hari di taman sekitar kompleks. Hal tersebut membantu memperlancar sirkulasi darah, membantu proses pemulihan, menguatkan otot serta mencegah terjadinya pendarahan.

Mengikuti saran dan petunjuk dokter

Ikuti jadwal kontrol pasca melahirkan baik melahirkan secara normal maupun operasi caesar. Terutama bagi Bunda yang  memiliki penyakit selama proses kehamilan, seperti anemia. Ikuti saran dokter dan taaati pantangannya.

Perhatikan luka bekas jahitan

Melahirkan secara caesar tentunya akan meninggalkan bekas luka jahitan. Luka bekas operasi bisa terinfeksi bila tidak dirawat dengan baik. Untuk mengatasinya, jagalah kebersihan tubuh, konsumsi makanan yang mengandung cukup nutrisi dan bila perlu olesi cream atau minyak khusus untuk bekas caesar yang dijual di apotek atau sesuai rekomendasi dokter Bunda.

Tips:

Mintalah pasangan atau keluarga Bunda untuk bergantian menjaga sang buah hati atau membantu Bunda mengerjakan pekerjaan rumah, sehingga Bunda dapat beristirahat dengan cukup.

Melahirkan Normal atau Operasi Caesar

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment

Powered by moviekillers.com.com