Hak Cuti Melahirkan dan Menyusui

Hak Cuti Melahirkan dan Menyusui

77219187c1674d059fb11222d2b9b4a4

Undang-undang Ketenagakerjaan (UUK) No. 13 pasal 82 Tahun 2003 tentang cuti melahirkan selama 3 bulan dirasa cukup melindungi hak-hak para wanita hamil. Pemerintah Indonesia melindungi hak dasar Ibu melahirkan untuk kesehatan reproduksinya, setelah proses melahirkan. Walau, sebenarnya dalam menentukan kapan cuti diambil adalah hak si Ibu hamil, jadi tidak harus satu setengah bulan sebelum dan sesudah melahirkan. Institusi di Indonesia memberikan kebebasan tenaga kerja untuk bebas memilih waktu cuti, asalkan ada rekomendasi dari dokter/bidan dan informasi waktu cuti kepada perusahaan.

Akan lebih baik bila negara melindungi hak Ibu untuk menyusui dan bayi untuk mendapatkan ASI, terlebih sudah dicanangkan program ASI eksklusif. Komnas Perempuan memberlakukan peraturan bagi tenaga kerja di Komnas Perempuan tentang cuti menyusui. Jadi, para Ibu akan mendapatkan cuti melahirkan selama 3 bulan dan cuti menyusui selama 3 bulan. Dengan harapan Pemerintah Indonesia bisa ikut melindungi hak menyusui.

Cuti Menyusui 6 Bulan dan Cuti Haid, Seberapa Perlukah?

Menjadi perempuan memang istimewa, sebab hanya perempuanlah yang bisa haid, melahirkan dan kemudian menyusui. Sudah semestinya, sebagai makhluk istimewa, perempuan juga mendapatkan hak-hak istimewa. Beberapa waktu yang lalu, penggiat ASI mengusulkan mengenai cuti menyusui hingga 6 bulan dengan maksud agar ASI Eksklusif 6 bulan penuh tercapai. Sebuah usulan yang mulia dan tentunya sebagai peempuan saya menyetujui sekali. Sebab, acapkali pekerjaan dijadikan alasan untuk tidak menyusui anaknya secara eksklusif. Bagi ibu yang kurang memiliki pengetahuan mengenai cara-cara menyimpan ASI tentunya hal ini bisa menjadi kendala pencapaian ASI Eksklusif. Kemudian, bagi ibu-ibu pekerja pabrik, dimana kerja mereka dihitung dengan ukuran jam tentunya jadwal memompa ASI jadi terganggu, belum lagi soal di mana ia akan memompa ASInya. Hal-hal tersebut akan menjadi kendala bagi ibu menyusui. Untuk itulah para penggiat ASI ini mengusulkan mengenai cuti menyusui hingga 6 bulan.

Kabarnya, di negara lain, ibu yang menyusui sudah mendapatkan hak cutinya. Jika memang begitu alangkah indahnya jika negeri kita ini juga mengikuti. Namun, rupanya usulan ini mental. Ironisnya bukan dari para pemegang kebijakanlah usulan ini mental, melainkan dari pekerjanya sendiri yang justru berjenis kelamin perempuan. Apa pasal mereka menolak? Bagi perempuan yang bekerja dengan gaji bulanan tetap seperti pegwai pemeritahan, tentunya hal ini tidak menjadi masalah. Tetapi, bagi perempuan yang bekerja degan hitungan waktu dan upah harian tentunya mereka akan menolak usulan ini. Bayangkan saja, enam bulan tanpa bekerja artinya enam bulan tanpa penghasilan. Lalu, bagaimana ia bisa memenuhi kebutuhan keluarganya, bagaimana ia bisa memperoleh nutrisi yang baik agar produksi ASInya baik. Mereka berfikir, percuma saja mendapata cuti enam bulan untuk menyusui tapi yang untuk menyusui yang tidak ada.

Di sisi lain pihak pabrik yang harus memenuhi target, tentunya tidak mau repot-repot menunggu satu atau dua buruhnya yang cuti enam bulan karena menyusui sementara di luar pabrik masih ribuan perempuan lain yang mengantri pekerjaan. Inilah kenyataannya, negeri ini memang masih belum bisa memberikan jaminan kesehatan bagi rakyatnya.

Lain cuti menyusui lain pula cuti haid. Haid memang tidak menyangkut makhluk hidup lain. Haid hanya menyangkut satu individu saja. Tapi jangan remehkan haid. Ketika haid datang, terkadang emosi seorang perempuan menjadi tidak stabil, hal ini memang normal. Terkadang pasangan atau keluarga nada uring-uringan tidak jelas, rupanya dia sedang kedatangan tamu bulanan. Hal ini memang wajar, Pre Menstrual Syndrom, terkadang memang membuat seseorang bahkan dengan pengendalian diri yang baik pun menjadi “uring-uringan”.

Permasalahan lain adalah nyeri haid. Bagi sebagian perempuan, nyeri haid bisa sangat menyiksa. Seorang teman bahkan ketika nyeri haid sampai hampir pingsan.Dysmenorrhea pertama (nyeri haid ketika perempuan belum menikah) biasanya dihubungkan dengan naiknya kadar kimia alami di dalam tubuh saat ovulasi, yang menyebabkan rasa sakit. Dan ini adalah sesuatu yang normal. Rasanya memang menyakitkan, saya membayangkan pekerja pabrik yang harus bekerja sepanjang shiff kerjanya sementara perut mereka dilanda nyeri yang hebat.

Lalu bagaimana dengan usulan cuti haid sendiri? Sekali lagi, sebagai perempuan tentu saja saya setuju. Namun, bagaimana dengan perempuan dengan siklus haid yang pendek, dalam satu bulan bisa dua kali. Haruskah ia juga mendapatkan cuti 2 kali. Sementara cuti melahirkan saja (untuk PNS) hanya bisa menapatkan cuti hingga anak ke-dua. Anak ke tiga , tidak mendapat cuti, tidak masuk askes, pokoknya anak swasta lah hehee.

Kembali pada permasalah cuti haid dan cuti menyusui, seberapa perlukah kedua cuti ini. Untuk cuti menyusui saya pribadi mendukung sekali dengan catatan, ada jaminan kesejahteraan ( sejenis asuransi) bagi perempuan sehingga ketika ia menyusui bayinya tidak terganggu dengan pikiran-pikiran nanti makan apa karena kondisi ekonomi yang tidak menenttu. Mungkin nanti ketia usulan Ibu Menkes tentang JAMKESMAS SEMESTA, sebuah system jaminan kesehatan bagi semua rakyat Indonesia tidak melihat kaya atau miskin sudah terealisasi maka cuti menyusui 6 bulan bisa terwujud. Atau mungkin nanti, ketika para koruptor sudah tidak menggerogoti APBN dan APBD (ujung-ujungnya koruptor lagi ya) sehingga alokasi untuk jaminan kesehatan rakyat sudah benar-benar maksimal.

Sementara untuk cuti haid, rasanya masih banyak yang harus di rumuskan mengenai tata aturannya. Mengingat kadar dan lamanya nyeri haid bagi sesorang berbeda-beda. Mengingat, siklus haid seseorang juga berbeda-beda. Saya sendiri belum pernah membaca penelitian mengenai human error yang disebabkan karena nyeri haid, artinya sejauh ini masih bukan gangguan. Jangan sampai cuti haid malah menimbulkan kecemburuan sosial bagi rekan kerjanya karena ketiban limpahan pekerjaan. Atau jangan sampai cuti haid ini jadi merugikan individu yang bersangkutan dan instansi-nya.

 Hak Cuti Melahirkan dan Menyusui

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment

Powered by moviekillers.com.com