Hadapi Anak Yang Suka Mengadu

Hadapi Anak Yang Suka Mengadu

E06EB1283A21C31AB862FDBBB77B87

Apa yang harus dilakukan untuk menghadapi anak yang suka mengadu?

Baca saran dari Kristi Miller, konsultan keluarga dan pendidik orang tua. “Di balik mulut ‘si tukang mengadu’, sebenarnya ada seorang anak yang ‘haus’ akan kekuasaan. Plus, dia masih belajar tentang perbedaan antara bertanggung jawab secara sosial dan menjadi ‘mata-mata’,” ujar Miller.

Jadi, Anda juga jangan bereaksi secara berlebihan, ya. “Jadikan hal ini sebagai laporan semata, dan cobalah untuk tidak bersikap emosional,” nasehat Miller. Kalau, misalnya, anak mengadu bahwa adiknya mematahkan tangan patung kayu mama, katakan saja, “Mama merasa sedih karena patung Mama terjatuh. Sekarang, kita semua tahu, kok, kalau patung itu masih bisa diperbaiki.”

Dari sini, ia bisa tahu bahwa tindakan adiknya bukan akhir segalanya, meski ini mungkin saja adalah rencananya. Lalu, bila mungkin, bantulah si kakak untuk mengetahui sebenarnya apa tujuannya selalu melaporkan ini itu. Jika ia selalu mendekati Anda sambil mengeluh kalau temannya tidak mau berbagi buku, katakan padanya, “Kayaknya kamu ingin teman kamu bergantian membaca buku, ya? Bolehkah Mama membantu mengatakannya pada Najwa?”

Menurut Miller, “Anda menjelaskan apa yang menjadi kebutuhannya dan memberitahu bagaimana cara mengatakan sesuatu begitu timbul masalah. Dengan begitu, ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.” Gunakan taktik ini sesering mungkin dan pada akhirnya anak pun tidak akan selalu mengadu. Bagaimana kalau Anda lupa akan hal ini? “Jangan takut,” kata Miller. “Anak akan memberi Anda cukup banyak kesempatan untuk melakukan berbagai taktik yang ada.”

Anak Anda yang masih berusia dua tahun suka mengadu? Jangan khawatir, di usianya tersebut sebenarnya dia belum mengenal konsep adu domba. Intinya, dia hanya ingin mencurahkan perasaannya saja.

Tapi karena keterbatasan kemampuan berbahasa dan masih bersifat egosentris dia tidak menyadari bahwa kadang pengaduannya bisa mengadu domba orang lain atau teman sebayanya Anak yang suka mengadu memiliki alasan yang sama dengan orang dewasa yaitu untuk mengerahkan kekuatan, meningkatkan harga diri atau hanya untuk mendapatkan perhatian.

Hal ini biasanya terjadi diantara saudara kandung yang biasanya akibat adanya rasa persaingan,tetapi juga bisa terjadi saat bermain bersama dengan teman-teman sebayanya. Dan sementara kegiataan mengadu lebih sering terjadi pada anak yang lebih tua, ternyata anak usia 2 tahun juga bisa melakukannya, terutama jika mereka berada di sekitar anak-anak yang lebih tua.

Bahkan, beberapa studi telah menunjukkan bahwa sebelum memasuki usia 2 tahun, anak sudah belajar mengejek kakak atau adiknya dengan baik, sebuah ”ketrampilan” yang mengarah pada adu domba.

”Seorang anak dua tahun membuat lelucon tentang menyembunyikan boneka beruang kakaknya,” kata Susanne Denham, profesor psikologi bidang perkembangan anak di George Mason University di Fairfax, Va, Amerika Serikat dan penulis buku Emotional Development in Young Children.

”Untuk anak seusia dia, perilaku itu cukup canggih,” lanjutnya seperti dilansir babycenter.com.

“Kejadian itu menunjukkan bahwa dia ingin mengatakan kalau, ‘Aku tahu bagaimana untuk mencapai kamu’. Mengadu dapat bekerja dengan cara yang sama,” terang Denham.

Di sisi lain, mengadu domba mungkin juga terkait dengan rasa yang muncul sesuai perintah dalam diri anak. ”Tetapi kau tidak akan bisa menyuruh dia duduk dan bertanya apa alasan moral yang menjadi alasan dia melakukannya. Jadi Anda harus menanganinya dengan cara lain,” terang Denham.

Dan itu sesuatu yang Anda ingin urus, karena tidak ada yang suka dengan seseorang yang pengadu, bahkan di usia yang masih sangat muda. Dengan demikian,apa yang harus dilakukan orang tua menghadapi anak yang suka mengadu domba? Yang pertama, periksa situasi yang terjadi.

Sebelum Anda memutuskan bahwa anak 2 tahun Anda berubah menjadi seorang pengadu, ambil “persediaan” situasi sendiri. Anak Anda perlu belajar untuk tidak mengadu, tapi dia juga perlu merasa aman dari pengetahuan yang dia dapat ketika meminta bantuan saat diperlukan.

Sebagai orang dewasa, Anda tahu bahwa ”Ayah, kakak makan kue saya”, adalah situasi yang sangat berbeda dari ”Ayah, kakak makan umpan kecoa”. Tetapi, anak Anda juga membutuhkan waktu dan keterampilan akan penilaian yang lebih matang untuk mempelajari sebuah perbedaan.

Jika dia terus meminta Anda untuk campur tangan dalam masalah kecil,misalnya mengatakan bahwa temannya Dian menggunakan krayon dalam kotak kayunya, itu satu hal lain lagi. Namun, jika situasi memang terlampau berat dihadapi, dia musti tahu bahwa kapanpun dia bisa datang kepada Anda.

Contohnya, ketika anak yang lebih tua dan kuat memukul atau mulai mengejeknya, atau saat teman bermainnya membuka pintu rumah dan mengajaknya bermain di luar. Dan bahkan jika tidak ada bahaya yang jelas-jelas menghadangnya, Anda mungkin perlu untuk campur tangan. Faktanya, dua anaknya yang sedang terlibat perseteruan biasanya tidak akan bisa mengambil solusi yang wajar untuk sebuah masalah.

Selanjutnya, eksplorasi solusi alternatif bersama-sama. Ketika dia menghadapi situasi yang sulit, anak Anda memerlukan panduan mengenai apa yang harus dilakukan, daripada hanya mengadu. Katakan padanya, ”Sayang, kedengarannya kamu memerlukan bantuan. Ibu dapat membantu kamu lebih banyak jika kamu tenang dan katakan apa yang sedang terjadi”.

Kata orang, setiap anak membawa sifat masing-masing. Kata-kata ini sepertinya tak terlalu salah. Banyak memang sifat-sifat anak yang sebaiknya diketahui para orang tua. Dengan begitu, orang tua juga bisa mencari cara menghadapi anak-anak mereka.

1. EGOIS 
Sifat egois atau keras kepala seringkali memang membuat orang tua kehilangan kesabaran. Umumnya, anak yang egois mau menang sendiri, tidak mau mendengarkan orang lain dan harus dituruti semua keinginannya. Bila tidak, segala jurus ancaman pun akan ia lontarkan, dari mogok makan, tak mau belajar sampai berguling-guling di lantai.

Yang harus dilakukan:
Jangan panik bila menghadapi anak yang egois. Tak perlu marah, hadapi dengan lembut dan sabar. Banyak cara bisa dilakukan untuk menghadapi anak bertemperamen keras. Yang terpenting adalah memberikan pengertian dan pengarahan. Ingat, umumnya anak-anak belum dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Yang ada dalam pikiran mereka adalah mengerjakan atau melakukan sesuatu hanya untuk kesenangannya. Jadi, tugas Anda sebagai orang tua adalah memberikan pengarahan dan pengertian pada si anak.

2. PERAJUK 
Ciri anak perajuk adalah suka ngambek dan cenderung cengeng. Hampir sama dengan anak egois, hanya saja anak perajuk belum tentu keras kepala. Biasanya, anak akan ngambek bila orang tua kurang memberikan perhatian padanya. Misalnya, “Ma, rambut Ella bagus enggak dikuncir seperti ini?” Karena sang mama tidak memberikan komentar dan hanya menggangguk, anak pun ngambek.

Yang harus dilakukan:
Sama seperti menghadapi anak egois, menghadapi anak yang hobi ngambek juga butuh kesabaran. Jika tidak, emosi Anda sebagai orang tua bisa terpancing. Mungkin bagi kita, menggangguk saja sudah cukup, namun bagi anak lain lagi. Ia perlu action dari Anda. Anda bisa mengatakan misalnya, “Oh, bagus sekali. Coba Mama lihat kuncirnya. Hmm… ternyata anak Mama sudah pintar menguncir rambut sendiri!” Perhatian dan komentar Anda akan membuat anak senang.
Bila anak gampang merajuk, cobalah untuk membujuknya. Jangan dengan kekerasan, karena hal itu justru akan berdampak tak baik bagi perkembangan jiwanya.

3. PEMALAS 
Sifat anak yang pemalas biasanya tidak mau mengerjakan pekerjaan atau tugas yang diberikan padanya. Misalnya, merapikan tempat tidur, buku pelajaran atau mainannya. Ia mengandalkan orang lain untuk mengerjakannya.

Yang harus dilakukan:
Beri anak pengertian dan contoh. Misalnya, setelah bangun tidur, tempat tidur harus dirapikan. Ajak ia untuk turut serta melakukan kegiatan tersebut. Walaupun mungkin di rumah ada pembantu, berikan pengertian pada anak bahwa tidak selamanya ada “si mbak” yang bisa membantunya.
Latih anak-anak untuk memiliki tanggungjawab sejak dini. Bukan pekerjaan berat, cukup yang ringan saja. Seperti merapikan tempat tidur, mainan ataupun rak buku pelajaran.

4. NAKAL 
Sifat nakal atau bandel wajar dimiliki oleh anak-anak. Biasanya mereka cenderung aktif, usil dan tak takut bahaya. Selain itu, anak umumnya juga punya banyak akal. Contoh perilaku mereka antara lain hobi berkelahi, mengejar layang-layang, memanjat pohon tinggi, jahil pada temannya, dan sebagainya.

Yang harus dilakukan:
Tak perlu memarahi atau melarangnya bermain. Coba pantau kegiatannya sehari-hari. Sejauh yang dilakukannya tidak membahayakan dirinya dan orang lain, kenapa harus dilarang? Biarkan mereka melakukannya karena hal itu akan menjawab rasa penasarannya.
Lain hal jika yang dilakukan anak membahayakan dirinya dan orang lain. Tak ada salahnya menegur dan memberi pengertian pada anak. Yang terpenting dalam menghadapi anak nakal adalah jangan bosan menasihati dan membimbingnya. Arahkan anak agar menjadi anak yang baik dan sopan.

5. PENDENDAM
Ciri anak pendendam adalah “menyimpan rasa sakit hati dan berusaha membalasnya di kemudian hari. “Awas, besok kubalas kamu!” begitu biasanya mereka mengancam “lawan” mereka. Biasanya, anak baru merasa puas bila sudah dapat membalas rasa sakit hatinya.

Yang harus dilakukan:
Yang utama, jangan biarkan sifat pendendam bersarang dalam diri anak-anak. Pasalnya, sifat ini bisa merusak mental mereka. Anak akan berpikir bahwa apa yang dilakukannya benar. Berikan pengertian pada anak bahwa “sifat mendendam” itu tidak baik. Selain dilarang agama, nantinya juga akan membuat mereka dijauhi oleh teman-teman mereka. Tanamkan pada diri anak bahwa tidak selamanya kejahatan harus dibalas dengan kejahatan.

6. PEMALU 
Menutup diri, tak banyak bicara, itulah sebagian ciri-ciri dari anak pemalu. Seorang anak pemalu jarang sekali memulai pembicaraan sebelum diajak berbicara oleh orang lain. Pribadinya sangat tertutup, sehingga sulit menebak isi hatinya. Selain itu, anak pemalu juga terkesan kuper alias kurang pergaulan. Mereka juga akhirnya jarang bergaul dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya.

Yang harus dilakukan:
Cara tepat menghadapi anak pemalu adalah melatih dirinya agar berani tampil dan berbicara di depan umum. Misalkan dengan mengikutsertakan dalam kegiatan sekolah, seperti tari, karate ataupun vokal grup. Engan begitu, mereka akan terbiasa berhadapan dengan orang banyak. Hal ini akan membantu anak untuk berinteraksi dan mengemukakan pendapatnya. Ini juga akan membuat ruang lingkup pergaulannya menjadi luas. Dengan demikian, diharapkan anak tak lagi menjadi pribadi yang tertutup.

7. PERIANG 
Lincah, ramah dan senang bergaul merupakan ciri-ciri anak yang periang. Umumnya, anak periang memiliki banyak teman, karena kepribadian mereka yang hangat. Mereka memang senang bersahabat. Jarang sekali murung dan selalu bergembira.

Yang harus dilakukan:
Meski sifat periang lebih banyak memberikan nilai positif dalam kehidupan sehari-hari, Anda perlu mengingatkan anak agar dapat menempatkan diri kapan harus gembira dan kapan turut merasakan duka orang lain. Beritahu, bila ada temannya yang sedang bersedih, sebaiknya ia jangan bergembira. Jadi, pintar-pintarlah menempatkan diri.

 Hadapi Anak Yang Suka Mengadu

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment

Powered by moviekillers.com.com