Dilema Sebagai Ibu Yang Bekerja

Dilema Sebagai Ibu Yang Bekerja

work-at-home-mom-scams1

Pada dasarnya, seorang wanita tidak diharuskan bekerja di luar rumah, apalagi meninggalkan anak sampai berjam-jam, namun kenyataannya ibu harus melakukannya untuk membantu sang suami. Memang mencari nafkah sudah ditetapkan untuk laki-laki, tapi tidak ada salahnya jika istri membantu. Uang yang dihasilkan oleh istri dianggap sedekah.

Seorang ibu yang bekerja dengan memiliki anak pastinya akan mengalami pergulatan batin, apalagi ketika anaknya masih di bawah 2 tahun. Pemberian ASI sebagai kebutuhan dan hak anak akan menjadi pemikiran tersendiri bagi si ibu.

Untuk ibu yang bekerja, ada persiapan yang harus dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa pertanyaan sebagai berikut. Siapa yang akan menjaganya? Bagaimana dengan pemberian ASI? Apakah yang menjaga tahan mengasuhnya? Amankah jika anak/bayi ditinggalkan dengan pengasuh?.

Berbagai pertanyaan akan mengantarkan si ibu untuk mencari solusinya hingga banyak ibu memutuskan untuk berhenti sementara dari pekerjaan yang digelutinya. Tentu saja hal ini harus menjadi pertimbangan yang betul-betul matang sehingga tidak akan menyusahkan ibu atau keluarganya di kemudian hari.

Solusi yang banyak ditawarkan atau dilakukan para ibu pekerja adalah mencari pengasuh dan memberikan ASI yang telah diperah bahkan ada yang rela memberikan susu formula. Untuk mencari pengasuh yang baik dan kompeten dengan mengasuh tidaklah mudah dan mengasuh bayi/anak bukanlah pekerjaan yang mudah.

Butuh keahlian dan kesabaran yang teruji sehingga bayi/anak yang diasuh aman. Tak ada salahnya memberikan susu formula, namunASI tetap yang terbaik, apalagi untuk bayi yang usianya dibawah6 tahun. Dengan berbagai kelebihan yang dimiliki ASI akan sayang jika masa-masa pemberian ASI eksklusif dibuang begitu saja.

Sebuah perusahaan yang bonafit semestinya sudah harus memikirkan kebutuhan pekerjanya jika masih ingin mempekerjakan seorang wanita disana. Tidak mungkin seorang wanita tidak menikah dan tidak ada juga pasangan yang sudah menikah tidak ingin memiliki anak.

Artinya, perusahaan harus memikirkan kenyamanan pekerjanya untuk melaksanakan kewajibannya sekaligus mendapatkan haknya. Ada baiknya perusahaan menyediakan tempat penitipan sehingga pekerjanya menjadi loyal kepada perusahaan. Kenyataannya, banyak perusahaan yang inginnya pekerjanya loyal, namun tidak begitu memikirkan kebutuhan pekerja. Kebutuhan pekerja bukan hanya dinilai dari uang, tetapi dari apa yang membuatnya semangat bekerja. Jika kebutuhan itu sudah terpenuhi, para pekerja akan bekerja lebih baik.

Bagi mereka yang lebih memilih melepas karirnya dan menjadi ibu rumah tangga, dilatarbelakangi oleh banyak faktor antara lain :

1. Suami sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah utama dianggap sudah mampu memenuhi standar hidup layak bagi keluarga tersebut. Hal ini yang membuat seorang ibu akhirnya memilih untuk tidak lagi bekerja karena toh tanpa harus capek-capek kerja, suami bisa memenuhi segala kebutuhan rumah tangganya.

2. Krisis kepercayaan terhadap orang yang akan menggantikan posisi seorang ibu apabila ibu bekerja di luar rumah. Hal ini banyak sekali terjadi, maklum saja apabila anak diasuh oleh pembantu atau baby sitter atau bahkan saudara/family yang kita percaya sekalipun, tetap saja ibu merasa tidak yakin semuanya berjalan lancar.

Dalam pikirannya pasti hanya ia, sebagai ibu yang mengandung serta melahirkan, yang bisa mengurus dan merawat anak dengan sebaik-baiknya. Belum lagi masalah yang timbul tentang pembantu atau pengasuh bayi yang belum tentu cocok dengan kriteria, atau karena kesulitan mencari pembantu/pengasuh bayi.

3. Tidak diizinkan oleh suami untuk bekerja. Untuk hal yang satu ini mungkin juga berkaitan dengan 2 faktor diatas. Tapi yang jelas, kalau sudah tidak mendapat restu suami, tentu akan sulit untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Yang akan terjadi mungkin cek-cok dengan pasangan yang  bisa menganggu kinerja ibu di kantor dan juga memperburuk hubungan dengan suami. Untuk menghindari hal tersebut, akhirnya kebanyakan ibu memilih menuruti permintaan suaminya.

Tiga faktor yang disebutkan diatas memang menjadi alasan bagi seorang ibu untuk berhenti bekerja. Namun bagaimana jika seorang ibu tetap (atau bahkan harus) bekerja ? Baik karena alasan ekonomi atau karena berbagai hal lainnya. Alasan ekonomi, karena dianggap penghasilan suami masih jauh dari cukup atau mungkin belum bisa memenuhi standar hidup yang layak.

Seorang ibu akhirnya mau tidak mau ikut bekerja untuk bisa membantu ekonomi keluarga. Meskipun hal tersebut membuat seorang ibu menjadi kelelahan, karena setiap hari, dari pagi sampai sore harus menghabiskan waktunya di tempat kerja. Sementara sepulang kerja, sebagai seorang ibu tetap harus bisa membagi waktunya untuk mengurus anak, suami dan berbagai urusan rumah tangga lainnya.

Alasan lainnya yang membuat ibu tetap bekerja adalah masih adanya ambisi pribadi untuk tetap bisa berkembang lebih baik lagi. Ambisi ini dilatarbelakangi oleh adanya anggapan bahwa kebanyakan ibu-ibu yang berdiam diri di rumah menjadi wanita yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan ngerumpi dengan tetangga, teman-teman arisan, lebih memilih hanya nonton televisi atau tontonan lain yang bersifat menghibur daripada membaca atau meng-update info-info terkini, jalan-jalan di mall untuk shopping ( atau mungkin juga untuk menghabiskan uang suaminya ) dan lain sebagainya.

Ibu yang tidak bekerja cenderung kurang bisa memaksimalkan potensi dirinya, apalagi berbagai hal yang berhubungan dengan ilmu dan teknologi…terkesan sangat sulit untuk dijangkau. Pokoknya dunianya ibu yang tidak bekerja, menurut anggapan sebagian orang lebih banyak sisi negatif daripada positifnya.

Dengan tetap bekerja, seorang wanita merasa tetap bisa mengasah kemampuannyakarena tuntutan pekerjaan membuat seeorang mau tidak mau harus terus mengasah skill yang dimilikinya sehingga ia akan terus-menerus bisa meng-up date semua info dan teknologi baru.

Bahkan, untuk beberapa orang, bekerja justru menjadi alternatif hiburan bagi dirinya. Bagi orang-orang ini seperti ini, dengan bekerja berarti bisa setiap hari keluar rumah dan bisa bertemu dengan teman-teman tanpa harus merasa pusing dan jenuh dengan rutinitas tugas-tugas rumah tangga.

Dengan berbagai alasan dan fakta-fakta yang diungkapkan, pada akhirnya muncul dilema bagi ibu: apakah lebih baik memilih berhenti bekerja agar bisa lebih maksimal mengurus anak dan rumah tangganya, atau tetap bekerja atau berkarir.

Kalau memilih berhenti bekerja berarti harus siap dengan segala konsekuensinya demikian pula kalo memilih tetap bekerja harus bisa mengatasi berbagai hal yang mungkin muncul sebagai akibatnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan apabila seorang ibu tetap ingin bisa bekerja, sebagai berikut :

1. Jika memungkinkan, membuka usaha di rumah atau di tempat lain yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah. Ibu tetap bisa bekerja namun masih tetap bisa mengurus urusan rumah tangganya.

2. Jika terpaksa harus bekerja di luar rumah, sebaiknya memilih jenis pekerjaan yang jam kerjanya normal ( 8-9 jam sehari) serta waktu kerja yang normal, maksudnya ada jatah libur di weekend ( mungkin perlu disesuaikan dengan jadwal libur suami) agar di hari libur bisa berkumpul dengan anak dan suami.

3. Pada saat libur kerja, pergunakan waktu semaksimal mungkin untuk bisa mencurahkan seluruh perhatian kita untuk keluarga. Dalam hal ini mungkin harus didasari prinsip bahwa pekerjaan kantor ya dilakukan di kantor, jangan sampai waktu di rumah juga dipakai habis untuk menyelesaikan urusan-urusan kantor.

Namun, apabila pilihan hati lebih kuat untuk tidak bekerja, ada baiknya seorang ibu tetap bisa melakukan banyak hal yang bersifat positif di sela-sela waktu senggangnya. Karena skill dan kemampuan tidak hanya didapat di kantor, tapi tetap bisa didapat di rumah.

Berbagai hal positif antara lain membaca buku atau jika memungkinkan dan ada sarana komputer di rumah juga bisa digunakan untuk meng-update diri. Aktif di kegiatan pengajian juga bisa menjadi pilihan. ya..hitung-hitung menabung untuk kehidupan di akhirat.

Sudah Mantapkah Mental Anda?

Pada kenyataannya, tidaklah mudah bagi seorang perempuan yang telah lama bekerja untuk begitu saja menjadi ibu rumah tangga. Patut diakui, lingkup dunia rumah tangga jauh lebih sempit dibandingkan lingkup dunia profesional. Di dunia kerja, seseorang dimungkinkan untuk berinteraksi dengan begitu banyak orang dengan beragam latar belakang. Sementara dunia rumah tangga tidaklah demikian. Si ibu umumnya hanya berinteraksi dengan anak, asisten rumah tangga, atau tetangga.

“Seorang ibu bekerja yang akan memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga bisa diibaratkan seperti orang yang nanar. Maksudnya, jika mentalnya tidak benar-benar siap, dia bisa bingung, frustasi. Sudah seperti orang yang mau pingsan saja

Ketika seorang perempuan bekerja memutuskan untuk total menjadi ibu rumah tangga, maka dia akan menghadapi suatu perubahan drastis dalam hidup. “Ruang publiknya saja sudah berbeda. Belum lagi merasa sendirian di rumah, ditinggal suami, sementara dia harus menghadapi anak. Selain itu, tanggung jawabnya juga menjadi jauh lebih berat karena harus mengurus suami dan anak sekaligus.

Vira termasuk sebagai orang yang sempat stres dengan transisi ini. “Saat itu anak saya masih kecil. Ditambah lagi pembantu saya tiba-tiba memutuskan untuk berhenti. Mau tidak mau saya harus mengurus semua. Rambut saya sampai rontok karena stres,” keluhnya.

Sisi keuangan juga menjadi pertimbangan vital sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja. apabila penghasilan ibu menutup 50 persen kebutuhan keluarga, sebaiknya pertimbangkan lagi masak-masak mengenai keputusan untuk keluar dari kantor. Jika kebutuhan keluarga ditutupi pihak ayah dan ibu dengan perbandingan sama rata (50:50), maka sudah dipastikan bahwa penghasilan berkurang setengah jika si ibu berhenti bekerja. “Jika memang ingin tetap berhenti, sebaiknya si ibu mencari penghasilan tambahan.” Lebih jauh Rina mengatakan bahwa posisi keuangan keluarga akan aman jika penghasilan si istri hanya sepertiga atau bahkan seperempat dari penghasilan suami.

Pengaruh Terhadap Anak

Mungkin Anda pernah mendengar tentang suatu pendapat yang menyebutkan bahwa anak yang kedua orang tuanya bekerja akan tumbuh menjadi sosok yang lebih mandiri dibandingkan dengan yang tidak. Tanpa bermaksud untuk membantah pendapat ini, Ayub mengingatkan bahwa meskipun hal ini benar, tapi tidaklah menjadi jaminan.

Dalam beberapa kasus, memang ada anak yang menjadi mandiri karena ibunya bekerja. Tapi kemandirian yang dia capai berasal dari suatu proses trial and error. “Sesungguhnya, si anak limbung karena ibu yang menjadi tempat dia bergantung hanya punya sedikit waktu untuk berinteraksi dengannya. Akhirnya, si anak belajar dari pengalamannya sendiri dan lambat laun menjadi mandiri.

Sementara itu, anak yang diasuh oleh ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga juga belum tentu menjadi sosok yang manja. Ayub dengan bangga mencontohkan kesuksesan ketiga putrinya yang diasuh penuh oleh istrinya yang seorang ibu rumah tangga total.

“Pada dasarnya, orang yang mengendalikan rumah tangga adalah perempuan, bukan laki-laki. Mandiri tidaknya seorang anak lebih dipengaruhi oleh bagaimana si ibu menjalankan perannya, dan ini tidak ada hubungannya dengan profesi, entah itu di kantor, atau sebagai ibu.

Sama-sama Menguntungkan

Dihadapkan pada dua pilihan besar memang tidaklah menyenangkan. Terlebih ketika kedua pilihan tersebut dirasakan sama-sama signifikan, baik untuk Anda, maupun masa depan keluarga. Pada dasarnya, masing-masing pilihan tentu memiliki sisi plus minus dan tidak berefek sama pada kasus per kasus.

Semua kembali kepada situasi dan kondisi Anda maupun rumah tangga yang sedang dijalani. Namun yang perlu diingat, kedua pilihan ini sama-sama memiliki keuntungan.Ibu bekerja yang memutuskan untuk berhenti mungkin akan cemas dengan lingkup pergaulannya kelak, atau juga dengan laju inflasi yang terkadang tak bisa diprediksi. Tetapi tengoklah keuntungan besar yang bisa Anda raih apabila menjadi ibu rumah tangga.

Dengan mengasuh anak tanpa bantuan orang lain, Anda punya kendali besar dalam tumbuh kembang anak hingga dia dewasa nanti. Andalah yang akan mentransfer ilmu berupa pendidikan usia dini, penanaman nilai yang dianut keluarga serta kematangan emosional ke diri anak.

Jika khawatir dengan lingkungan pergaulan yang menyempit, tetaplah tenang dan optimistis. Karena pada dasarnya, lingkungan pergaulan bisa dicari atau dibentuk sendiri. Beberapa cara yang dapat Anda lakukan adalah:

  • Pertahankan teman-teman lama. Jika perlu, luangkan waktu sekali seminggu atau sekali dua minggu untuk bertemu dengan mereka.
  • Bergabung dengan kelompok-kelompok tertentu. Di zaman modern sekarang, tidaklah sulit untuk mencari klub atau kelompok berdasarkan hobi tertentu. Carilah klub tersebut melalui internet lalu bergabunglah di mailing list mereka. Atau, Anda juga bisa sedikit menyibukkan diri dengan aktif di sekolah, lingkungan tempat tinggal, ataupun kegiatan sosial yang umumnya diselenggarakan di rumah-rumah ibadah.
  • Mencari pekerjaan tambahan. Pada dasarnya, ada banyak pekerjaan yang bisa dilakukan di rumah. Menerjemahkan buku, membuat transkrip, menjahit, membuka catering, bergabung dengan MLM hanyalah sejumlah kecil pekerjaan yang bisa dilakukan seorang ibu rumah tangga. Dengan demikian, Anda tetap bisa berkarya dan memunyai penghasilan sendiri.Sementara ibu yang tetap bekerja umumnya khawatir dengan perkembangan anaknya kelak, terlebih karena dia memiliki waktu yang lebih sedikit untuk berinteraksi dengan sang buah hati. Memang menyewa babysitter adalah hal yang paling mudah. Tapi itu tetap bukan satu-satunya pilihan. Karena Anda bisa memercayakan tumbuh kembang anak dengan:
  • Melibatkan keluarga. “Entah itu orang tua sendiri, saudara kandung, ipar, ataupun mertua, yang pasti tidak perlu ragu untuk meminta bantuan keluarga,” saran Diba, 34 tahun, seorang ibu rumah tangga. Ibu dari seorang putra berusia 4,5 tahun ini memberi alasan bahwa keluarga adalah pihak yang lebih bisa dipercaya dalam hal pengasuhan anak, bahkan lebih dari babysitter.
  • Menitipkan ke daycareDaycare bisa dijadikan sebagai salah satu pilihan, khususnya bagi orang tua bekerja. Karena di daycare, anak tidak hanya disediakan tempat beristirahat maupun makan, tapi juga aktivitas lain seperti bermain ataupun belajar seni dan olahraga. Carilahdaycare yang tempatnya strategis dan mudah dijangkau, baik dari arah rumah ataupun dari kantor Anda.

Kalau begitu, apa yang membuat ruang ‘dilema’ itu muncul? dilema itu muncul, saat perbincangan mengarah kepada pemenuhan pendidikan dan hak anak. Seorang ibu yang bekerja, dihadapkan pada persoalan bagaimana mengasuh anak, memenuhi ASInya, dan lebih dari itu, memenuhi kebutuhan aspek psikologisnya.

Oleh karena itu, banyak wanita bekerja yang pada akhirnya memutuskan untuk berhenti. Tetapi, permasalahannya, mungkin tidak hanya sampai disitu, sebab kenyataannya mendidik anak bukanlah persoalah mudah sehari selesai. Atau sekedar berdebat panjang tentang status sang ibu, tetap bekerja atau menjadi ibu rumahan saja. Maka, sekedar berbagi pemikiran saja, mungkin ada baiknya kita merenungkan kembali hal-hal berikut ini:

1. Untuk Apa Saya Bekerja?

Islam sangat memuliakan kedudukan wanita, hingga dengan terang benderang menyatakan bahwa kewajiban mencari nafkah diberikan kepada suami. Tetapi, dewasa ini, seorang isteri pun banyak yang turut ikut bekerja (mencari nafkah) dengan beragam alasan. Jika pun demikian, maka coba fikirkan baik-baik, dengan alasan apa kita harus bekerja (mencari nafkah) membantu suami.

Baik bekerja maupun di rumah saja, masing-masing memiliki kebaikan. Dengan bekerja, selain mandiri secara finansial, membantu keuangan di rumah, memiliki banyak relasi, mengenal dunia luar, menjadi seorang profesional dan banyak lagi.

Tetapi, tidak perlu khawatir, jika pilihan itu jatuh, untuk menjadi ibu rumah tangga. Banyak kebaikan juga tersimpan disana, kebersamaan bersama anak, waktu yang banyak untuk mengurus dan melayani keluarga, lalu banyak lagi. Menjadi seorang ibu rumah tangga juga tidak serta merta membuat kita tidak mandiri secara finansial.

 Seorang IRT juga bisa mandiri secara finansial tanpa harus kehilangan momen berharga bersama anak-anak dan keluarga. Membuka warung/toko, mengajar privat di rumah, berjualan di dunia maya, menulis, hanyalah satu dari sekian banyak pilihan yang bisa dipilih. Seorang IRT juga bisa memiliki banyak relasi dan dunia luar, saat bisnis rumahannya bertambah maju, ikut aktif berperan dalam perkumpulan ibu-ibu semisal arisan, pengajian, PKK, Posyandu atau banyak lagi.

2. Air Susu Ibu atau Air Susu Sapi?

Jika saya ditanya, apa yang hendak saya lakukan jika saya bukan lagi seorang pegawai? barangkali, saya akan membuka sekolah, untuk anak-anak saya dan banyak anak lagi di luar sana. Membuka daycare, tempat penitipan anak atau semacam itu, bayangan yang sempurna dibenak saya. Lalu, saya sekalian saja membuka toko buku, atau warung kelontongan sederhana juga tak apa.

Bukan bermaksud mendiskreditkan seorang pegawai atau karyawan, bukan begitu. Tetapi, saya hanya ingin mengajak kita semua, untuk memiliki rencana. Jika pun tetap ingin bekerja, jadilah pengusahanya. Jadilah pemilik waktunya. Bagi yang telah memutuskan untuk berhenti bekerja, jangan khawatir, anda masih bisa memikirkan pekerjaan apa yang tepat sebagai seorang irt yang mandiri.

Pakailah modal yang telah anda himpun selama bekerja, untuk membuka usaha kecil-kecilan, atau sekalian saja usaha besar jika memang modalnya besar. Bagi ibu-ibu yang bekerja full sebagai ibu rumah tangga, yang saat ini tengah kerepotan mengurus si kecil atau sibuk dengan banyaknya anak-anak, sehingga belum bisa merealisasikan keinginan untuk mandiri secara finansial.

Berfokus saja dulu mengurus keluarga (jika semua kebutuhan telah terpenuhi oleh suami), kemudian bergabunglah dengan komunitas yang membangun. Olah setiap kreativitas yang dimiliki untuk dikembangkan.

Bagi yang tetap bekerja (mencari nafkah) atau apapun alasan yang mendasarinya. Ibu-ibu yang menjadikan profesinya sebagai ladang amal. Guru, perawat, dokter, dosen atau pegawai pemerintahan atau semacam itu, jika memang kesempatan, kemampuan dan keadaan memang mendudukkan kita berada disana, jalani dan syukuri. Resiko selalu ada, baik sedang bekerja atau dirumah saja.

Saya membaca status seorang ibu pekerja yang hari ini sedang kelabakan, karena hendak dinas luar, dengan catatan tidak diperkenankan membawa anak. Padahal, anaknya masih berumur bulan. Gundah gulana si ibu tentu pernah juga dirasakan oleh ibu-ibu pekerja kantoran yang lain. Saya jadi teringat status saya beberapa bulan lalu, tentang cuti melahirkan di negara kita yang hanya tiga bulan.

Sementara di negara-negara lain telah lebih bijak dengan memberikan jangka cuti yang lebih panjang, untuk memenuhi kebutuhan bayi akan ASI. Tetapi, banyak juga tanggapan yang tidak sependapat dengan itu (maksud saya, jika negara kita juga ikut menerapkan cuti lebih dari tiga bulan), dan ucapan itu terlontar pula dari seorang perempuan. Maka, jangan heran jika beberapa peraturan yang dibuat terkadang tidak menguntungkan bagi ibu, yang akhirnya berujung pada tidak terpenuhinya hak anak.

Maka, seharusnya tidak boleh ada pelarangan saat seorang ibu membawa bayi ke tempat kerja, meski hal ini nampaknya masih begitu tabu dan berlawanan dengan mainstream yang telah melekat di masyarakat. Sehingga tidak perlu lagi, ada ibu-ibu yang harus bercucuran airmata saat harus berangkat bekerja.

Pasal 30

(1) Pengurus Tempat Kerja dan penyelenggara tempat sarana umum harus mendukung program ASI Eksklusif.

(2) Ketentuan mengenai dukungan program ASI Eksklusif di Tempat Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perusahaan antara pengusaha dan pekerja/buruh, atau melalui perjanjian kerja bersama antara serikat pekerja/serikat buruh dengan pengusaha.

(3) Pengurus Tempat Kerja dan penyelenggara tempat sarana umum harus menyediakan fasilitas khusus untuk menyusui dan/atau memerah ASI sesuai dengan kondisi kemampuan perusahaan.

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyediaan fasilitas khusus menyusui dan/atau memerah ASI sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 34

Pengurus Tempat Kerja wajib memberikan kesempatan kepada ibu yang bekerja untuk memberikan ASI Eksklusif kepada Bayi atau memerah ASI selama waktu kerja di Tempat Kerja.

Pasal 35

Pengurus Tempat Kerja dan penyelenggara tempat sarana umum wajib membuat peraturan internal yang mendukung keberhasilan program pemberian ASI Eksklusif.

Jika membaca cuplikan dari PP tersebut, maka jelas bahwa seharusnya tempat kerja wajib memberikan fasilitas tempat menyusui, wajib memberi kesempatan memberikan ASI Eks saat jam kerja, mendukung tercapainya program ASI Eksklusif.

Pasal 36

Setiap pengurus Tempat Kerja dan/atau penyelenggara tempat sarana umum yang tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 30 ayat (1) dan ayat (3), atau Pasal 34, dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Bagi ibu-ibu pekerja yang dilema terhadap peraturan yang membelenggu seperti kasus yang dihadapi sang Ibu yang hendak dinas luar tadi, secara hukum dapat mengajukan keberatan, gugatan atau semacamnya berdasarkan PP ini, yang dikuatkan dalam pasal 36.

Butuh perjuangan untuk dapat merealisasikan peraturan Tuhan. Saya katakan demikian, sebab peraturan menyusui ini sendiri sudah jelas-jelas tertuang dalam Al-Quran. Tetapi, syukurlah jika pemerintah kita telah cukup peduli dengan membuat Peraturan Pemerintah. Dengan begitu, saat terjadi ketidaksepahaman, ibu pekerja masih dapat berkilah dengan payung hukum negara.

Tentang ASI inilah adalah ruang ‘dilema’ bagi ibu pekerja, melahirkan keresahan yang begitu dalam tentang pilihan, bekerja atau ibu rumah tangga? Bagi saya, keduanya tidak ada bedanya, sama-sama hebat dan memiliki sisi baik. Jadi tidak perlu ada dikotomi atau membanding-bandingkan kondisi keduanya, baik yang saat ini berstatus ibu pekerja maupun ibu rumah tangga.

 Dilema Sebagai Ibu Yang Bekerja

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment

Powered by moviekillers.com.com