Ciri Anak Pelaku Bullying

Ciri Anak Pelaku Bullying

kr_sr_101711_bullying_header

Anak Anda punya kecenderungan bullying? Kenali ciri-ciri anak pelaku bullying.

Pelaku bullying biasanya tidak ingin orang dewasa memergoki mereka tengah melakukan aksinya, jadi mereka akan melakukannya diam-diam, karena biasanya mereka tahu apa yang mereka lakukan tidak benar.

Pelaku juga akan jadi ‘pemimpin’ dan merekrut teman-temannya untuk gabung, tidak hanya di sekolah, tapi juga saat playdates atau di playground. Ingin tahu, Ma, apakah anakpunya kecenderungan menjadi pelaku bullying?

Coba perhatikan:
– Apakah dia selalu merasa harus berkuasa?
– Apakah emosinya cepat meledak dan melakukan tindakan agresif?
– Apakah dia tidak merasa bersalah setelah melakukan tindakan salah?
– Apakah dia kurang menunjukkan empati kepada orang lain?
– Apakah dia juga agresif terhadap orang dewasa?

Tidak hanya pada target, bullying juga berakibat buruk bagi pelakunya. Salah satu dampaknya, mereka akan menemukan kesulitan dalam membina pertemanan, yang bisa berpengaruh hingga dia dewasa kelak saat harus membina hubungan dengan siapa pun dalam hidupnya.

Di samping itu, dia juga akan memiliki masalah-masalah sosial dan emosi. Kalau tidak diarahkan dan ditolong, anak-anak ini pun kelak bisa memiliki konsep diri yang negatif. Dia akan melabel dirinya sendiri sebagai trouble maker.

“Pelaku bullying juga perlu diperhatikan. Yang sering kali salah, kita memberi hukuman pada pelaku. Padahal, pelakunya anak umur 4 tahun, lho. Mereka butuh disayang dan tahu bahwa dia disayang tanpa alasan. Dia perlu ditolong dan belajar bahwa ada cara-cara lain yang lebih baik dalam menangani konflik,” kata Astrid.

Bullying memang mungkin menyakitkan. Tapi, dengan penanganan yang baik dan dukungan Anda sepenuhnya, anak akan menjadi lebih kuat, belajar berani menghadapi tantangan, belajar membela diri dan menghargai diri sendiri. Penanganan yang baik juga membuat pelaku belajar menangani konflik dan emosinya dengan lebih baik. Dan, Anda juga belajar menjadi mama yang lebih bijak, pendengar dan pendukung terbaik bagi anak.

School bullying memiliki beragam bentuk dan variasi. Anak perempuan biasanya berbeda dari anak laki-laki dalam jenis perilaku bullying yang mereka tunjukkan. Anak perempuan cenderung menghargai hubungan intim dengan perempuan, sehingga mereka paling sering terlibat dalam agresi terselubung atau relasional, kekerasan yang dilakukan biasanya dengan menahan persahabatan mereka atau dengan menyabotase hubungan orang lain. Apalagi dengan kemajuan teknologi, bullying dapat dilakukan secara tidak langsung dengan memanfaatkan social network (facebook, twitter, dll), atau dengan sms, biasanya berupa fitnah, menyebarkan gosip, atau menjelek-jelekan orang yang tidak disukainya.

Sedangkan anak laki-laki biasanya membentuk ikatan sosial melalui kegiatan kelompok, sehingga kekerasan yang dilakukan sering melibatkan kelompok, dimana mereka memiliki peran masing-masing saat melakukan tindakan bullying, satu orang sebagai pemimpin kelompok, yang lain (anggota kelompok atau siswa lain) sebagai penonton.

  • Pemimpin, siswa yang berinisiatif dan aktif terlibat dalam bullying. Biasanya siswa yang memiliki fisik lebih besar, usia lebih tua, kakak kelas/senior, memiliki kekuatan (beladiri atau kelompok di luar sekolah).
  • Anggota kelompok, terdiri dari seseorang/kelompok siswa yang terlibat aktif dalam bullying, namun ia cenderung bergantung atau mengikuti perintah pemimpin kelompok. Juga mereka yang ada saat kejadian bullying, ikut menonton, menertawakan atau mengejek korban, memprovokasi, dan mengajak siswa lain untuk menonton.
  • Penonton, terdiri dari seorang/beberapa orang siswa yang berusaha membela dan membantu korban, namun sering kali akhirnya mereka menjadi korban juga. Atau mereka yang tahu, namun tidak melakukan apapun, seolah-olah tidak peduli, atau takut untuk melaporkan kejadian tersebut kepada guru atau orang tua.

Menurut Ubaydillah, AN dalam e-psikologi.com, siswa yang mempunyai kecenderungan sebagai pelaku bullying umumnya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Suka mendominasi anak lain.
  • Suka memanfaatkan anak lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
  • Sulit melihat situasi dari titik pandang anak lain.
  • Hanya peduli pada keinginan dan kesenangannya sendiri, dan tak mau peduli dengan perasaan anak lain.
  • Cenderung melukai anak lain ketika orangtua atau orang dewasa lainnya tidak ada di sekitar mereka.
  • Memandang saudara-saudara atau rekan-rekan yang lebih lemah sebagai sasaran.
  • Tidak mau bertanggung jawab atas tindakannya.
  • Tidak memiliki pandangan terhadap masa depan atau masa bodoh terhadap akibat dari perbuatannya.
  • Haus perhatian

Sedangkan siswa yang akan dijadikan atau menjadi korban bullying biasanya memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Anak baru di lingkungan itu.
  • Anak termuda atau paling kecil di sekolah.
  • Anak yang pernah mengalami trauma sehingga sering menghindar karena rasa takut
  • Anak penurut karena cemas, kurang percaya diri, atau anak yang melakukan sesuatu karena takut dibenci atau ingin menyenangkan
  • Anak yang perilakunya dianggap mengganggu orang lain.
  • Anak yang tidak mau berkelahi atau suka mengalah
  • Anak yang pemalu, menyembunyikan perasaannya, pendiam atau tidak mau menarik perhatian orang lain
  • Anak yang paling miskin atau paling kaya.
  • Anak yang ras atau etnisnya dipandang rendah
  • Anak yang orientasi gender atau seksualnya dipandang rendah
  • Anak yang agamanya dipandang rendah
  • Anak yang cerdas, berbakat, memiliki kelebihan atau beda dari yang lain
  • Anak yang merdeka atau liberal, tidak memedulikan status sosial, dan tidak berkompromi dengan norma-norma.
  • Anak yang siap mendemontrasikan emosinya setiap waktu.
  • Anak yang gemuk atau kurus, pendek atau jangkung.
  • Anak yang memakai kawat gigi atau kacamata.
  • Anak yang berjerawat atau memiliki masalah kondisi kulit lainnya.
  • nak yang memiliki kecacatan fisik atau keterbelakangan mental
  • Anak yang berada di tempat yang keliru pada saat yang salah (bernasib buruk)

Lebih lanjut disampaikan bahwa, perilaku school bullying memiliki beragam bentuk dan variasi, yang dapat dikelompokkan menjadi tiga aspek; emosional, verbal, dan fisik. Ragam bentuk itu antara lain:

  • Penyerangan fisik: memukul, menendang, mendorong, dan seterusnya.
  • Penyerangan verbal: mengejek, menyebarkan isu buruk, atau menjuluki sebutan yang jelek, dll.
  • Penyerangan emosi: menyembunyikan peralatan sekolah, memberikan ancaman, menghina, dll.
  • Penyerangan rasial: mengucilkan anak karena ras, agama, kelompok, dll. Penyerangan seksual: meraba, mencium, dan seterusnya.

 Ciri Anak Pelaku Bullying

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment

Powered by moviekillers.com.com