CARI SEKOLAH ANAK SESUAI KRITERIA

CARI SEKOLAH ANAK SESUAI KRITERIA    

after-school-programs

Bagaimana Caranya Membentuk Sebuah Karakter Seorang Anak

Yang Sesuai Dengan Harapan Para Orangtua?

Mungkin pertanyaan ini adalah pertanyaan yang setiap orang tua membutuhkan jawabannya. Sebenarnya banyak metode untuk mengembangkan sebuah karakter dari seorang anak tersebut, namun faktanya setiap anak memiliki perbedaan sifat dan daya tangkap yang berbeda sehingga penerapan pengembangan karakter yang turun temurun di ajarkan oleh orang tua kita tidak menjadi efektif ketika kita menerapkannya kepada anak kita.

Siapa yang salah… kita, orang tua kita, anak kita, ataupun metode nya yang salah?

Semuanya tidak ada yang salah. Namun yang kita butuhkan adalah sebuah cara yang efektif yang dapat diterapkan kepada siapapun dengan berbeda-beda watak dan juga sifat. Nah, untuk itu diperlukan formulasi dan strategi yang tepat dalam membangun pribadi sesuai dengan karakter yang kita tanamkan kepada anak.

 

Pilih-pilih sekolah anak

Sudah ancang-ancang memasukkan si kecil ke sekolah tahun ini? Atau mungkin Anda malah sudah punya sekolah pilihan untuknya? Mengingat begitu banyaknya penawaran, inilah beberapa hal yang mungkin dapat membantu Anda mengambil keputusan:

Masa kanak-kanak adalah masa bermain. Jadi, jangan terlalu dini memaksakan pendidikan yang ‘serius’ bagi anak, agar masa bermainnya tidak terenggut. Apalagi kalau Anda masih membebani anak dengan sederet les tambahan, mulai dari membaca, berhitung, piano, balet, dll. Pendidikan untuk anak-anak di bawah usia enam tahun tak harus selalu berupa pendidikan formal. Playgroup atau taman bermain, prasekolah maupun TK seharusnya hanya menjadi fasilitator dalam menstimulasi perkembangan anak, baik fisik (motorik kasar maupun halus), mental (kognitif), emosi, sosial, dan kemampuan berbahasanya.

Pilih sekolah yang guru-gurunya memiliki ‘unconditional love. Artinya, guru-guru di sekolah itu bisa menerima setiap anak apa adanya, dan bisa mengembangkan lingkungan yang disiplinnya positif. Sekolah tidak menuntutanak di luar kemampuannya, berusaha mengerti anak, dan mendorong anakuntuk bisa dan bangga atas kemampuannya. Bukan dengan marah-marah atau memaksa anak untuk menyelesaikan lembar tugasnya.

Sekolah yang menggunakan konsep belajar melalui pengalaman (experiential learning), memberikan stimulasi pada anak melalui pengalaman bermain dan eksplorasi langsung terhadap dunia di sekitarnya. Sekolah-sekolah ini biasanya mengajak murid-muridnya langsung ‘terjun’ ke alam untuk mempelajari apa yang hendak dipelajari; seperti belajar tentang sapi dengan melihat langsung seekor sapi, atau kalau belajar menggambar, itu dilakukan di halaman atau di alam terbuka. Biasanya konsep seperti ini bisa ditemukan di sekolah-sekolah alam.

Ada pula sekolah yang mengedepankan konsep belajar aktif (active learning), dengan melatih anak untuk selalu kreatif dengan menciptakan berbagai kreasi dari benda-benda di sekitarnya. Contoh, kardus bekas tisu gulung, karton susu, kaleng bekas minuman. Namun yang jelas, sekolah yang baik tidak harus selalu yang gedungnya mentereng, atau alat-alatnya serba lengkap. Sekolah yang baik adalah yang bisa mendorong kemandirian anak, dan mengembangkan kemampuan sosial maupun kematangan emosinya

Bagaimana dengan soal bahasa? Benarkah sekolah bilingual lebih baik? Ternyata sampai sekarang para ahli masih memperdebatkan efektivitas mengajarkan dua bahasa (Inggris dan Indonesia) pada masa golden age anak(sampai usia 5 tahun). Bila anak tepat waktu dalam perkembangan bahasanya (cooing muncul di usia sekitar 2-3 bulan, babbling di usia sekitar 6-8 bulan, kata pertama di usia sekitar 1 tahun), kemungkinan besar ia tidak akan mengalami telat bicara. Dan bagi anak-anak ini, bersekolah di sekolah bilingual tidak akan jadi masalah. Sebaliknya, bila tahapan-tahapan itu tidak muncul di usia yang tepat, bahasa asing yang harus dia serap selain bahasa ibu, bisa-bisa malah membuat ia jadi telat bicara.

Satu lagi pertimbangan yang tak kalah penting adalah faktor biaya. Banyak orangtua rela membayar mahal agar anaknya memperoleh pendidikan terbaik. Tapi, tak ada salahnya tetap memperhitungkan apakah biaya yang Anda keluarkan akan sesuai dengan apa yang didapat si kecil bila bersekolah di situ. Uang sekolah yang tinggi, misalnya, tentu rasanya tak sepadan bila fasilitas pendidikan di sekolah tersebut ternyata kurang memadai.

Memilih Kursus untuk Anak

Jika anak ikut kursus yang sesuai dengan minat dan tahap perkembangannya, dapat membantu menggali, mengasah, dan mengoptimalkan bakat serta potensi anak. Hanya saja, Anda harus bijak dalam memilih dan menentukan jenis kursus buah hati Anda. Sesuai dengan karakternya!

  • Anak penakut: Kursus yang dapat menggali dan membangkitkan keberanian anak. Misal, berenang, beladiri, dan menyanyi (vocal)

  • Cerewet: Kursus yang dapat meredam kecerewetan anak, yaitu kursus yang mengajarkan kegiatan dengan konsentrasi tinggi atau yang menyalurkan energi dalam bentuk verbal, seperti sepak bola, futsal, beladiri, drama (acting), dan menyanyi.

  • Pemalu: Berbagai jenis kursus sesuai minat dan bakat anak. Rasa percaya dirinya akan tumbuh menggantikan rasa malunya.  Pergaulannya dengan teman dari berbagai usia akan mengasah keterampilan sosial dan emosinya sehingga anak dapat mengatasi rasa malunya.

  • Percaya diri: Anak yang sudah punya rasa percaya diri cenderung overconfidenceatau percaya diri berlebihan.  Kursus yang menyediakan kegiatan berkelompok cocok untuk meredam kecenderungan overconfidence. Misalnya futsal, sepak bola danmenari.

  • Aktif: Butuh kursus yang bisa menyalurkan energinya yang berlebihan. Misalnya olah raga dan menari.

  • Clumpsy (canggung): Untuk mengurangi  clumpsy atau canggung pada anak karena koordinasi motorik yang kurang baik, ikutsertakan anak dalam kursus yang mengasah keterampilan motorik halus. Misalnya, yoga atau menari. Kursus ini dapat membantu anak berlatih memusatkan pikiran pada sesuatu dan mengasah koordinasi gerak tubuhnya agar menjadi lebih baik.

Tanda-tanda anak lelah ikut kursus

  • Perangai anak berubah dari yang semula periang menjadi mudah marah, mudah ngambek, atau cemberut tanpa alasan.
  • Sering mengantuk karena kurang istirahat.
  • Nilai pelajarannya turun dan PR-nya sering tidak dikerjakan karena dia kelelahan sepulang mengikuti kursus.
  • Nafsu makannya tiba-tiba meningkat tajam. Beberapa anak mengatasi masalah emosi dengan makan.
  • Mengeluh sakit perut, pusing, atau rasa tidak nyaman lainnya tanpa sebab.
  • Bila sedang menonton TV seolah-olah tidak mau diganggu.
  • Mengeluh bosan.
  • Menolak berangkat ke tempat kursus.

 CARI SEKOLAH ANAK SESUAI KRITERIA  

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment

Powered by moviekillers.com.com