Cara Ayah Berkomunikasi Dengan Janin

Cara Ayah Berkomunikasi Dengan  Janin

talk-to-baby

Untuk perkembangan kecerdasan dan pembentukan kepribadiannya anak kelak, salah satu cara yang bisa ditempuh Ibu maupun Bapak adalah mengajak janin berbicara. Dari hasil penelitian, memperdengarkan musik kepada janin juga bisa mengembangkan kecerdasan anak. Namun memperdengarkan musik kepada janin bukan cuma satu-satunya stimulasi atau rangsangan pralahir yang dapat mengembangkan kecerdasan. Masih ada stimulasi pralahir lainnya, seperti menyanyikan lagu, bercakap-cakap dengan janin, melalui sentuhan, getaran, dan gerakan, hingga permainan cahaya atau gelap-terang.

Selain membuat bayi yang dilahirkan mengalami perkembangan pesat kecerdasannya, juga dalam hal keterampilan motorik kasar-halusnya, komunikasi, dan kemampuan menolong dirinya sendiri. Jadi, “khasiat”nya bukan cuma satu, dan itu sudah dibuktikan dalam banyak penelitian oleh beberapa ahli, seperti ahli neurologi, sosiologi, biokomia, psikologi, dan lainnya.

Soalnya, dari hasil penelitian tersebut juga terungkap, antara lain janin sudah memiliki perasaan, kesadaran, dan daya ingat. Jadi, masuk akal, kan, Bu-Pak?

Calon Ibu Sehat Fisik dan Psikis

Nah, salah satu dari stimulus pralahir tersebut, yakni berkomunikasi dengan janin, tampaknya masih kerap terabaikan. Entah karena si calon ibu dan bapak enggak tahu manfaatnya, atau mungkin takut dikira enggak waras lantaran terlihat ngomong sendiri. Sama halnya kalau kita lagi ngomong dengan bayi, masih banyak, kan, yang berkomentar, “Bayi, kok, diajak ngomong. Dia, kan, belum ngerti. Kayak orang enggak waras aja, deh, ngomong sendirian.”

Tak demikian halnya kalau kita memperdengarkan musik kepada bayi atau janin, karena banyak orang sudah mengetahui manfaatnya. Bukankah sudah banyak dan sering media massa cetak maupun radio dan TV mengupas hal tersebut? Padahal, mengajak janin bercakap-cakap sama halnya dengan stimulus musik, “juga memberikan pengaruh positif bila ditunjang oleh berbagai faktor yang menjadi prasyarat penting bagi kelangsungan tumbuh kembang janin. Misalnya, kehamilan tersebut cukup sehat, gizinya baik, dan sebagainya.

Dalam bahasa lain, stimulus pralahir akan memberi nilai tambah bagi perkembangan kemampuan kognitif janin maupun pembentukan kepribadian si anak kelak, apabila dikandung oleh seorang wanita yang juga sehat secara fisik dan psikis.

Tak Mau Digendong Ayah

Manfaat lain dari berkomunikasi dengan janin, papar Isye, adalah menjalin ikatan batin antara janin dan ibunya kelak. “Juga untuk mengembangkan kepercayaan dirinya di kemudian hari.” Sebab, dengan selalu mendapatkan stimulasi pralahir yang menimbulkan perasaan aman secara psikologis baginya, maka ia pun akan mendapatkan rasa aman pula setelah kelahiran.

Lagi pula, tambahnya, dengan si ibu rajin mengajak janinnya bicara, bermain dengan sentuhan ataupun menyanyi, sedikit banyak akan menenangkan perasaan si ibu pula. “Nah, hal ini, kan, bisa membuat rasa nyaman juga pada si janin, sehingga setelah lahir pun ia merasakannya pula,” ujar koordinator Program Parental Education di RSAB Harapan Kita, Jakarta, ini. Disamping, bayi pun akan dapat mengenal suara-suara yang sudah biasa didengarnya kala masih berada di perut ibunya. “Ini juga akan menumbuhkan rasa aman padanya karena ia berada di lingkungan yang tak asing baginya.”

Itulah mengapa, Isye minta, sebaiknya bukan cuma ibu yang rajin melakukan stimulus pralahir. “Ayah dan kakaknya, kalau si janin adalah anak kedua, sebaiknya juga rajin mengajak bicara janin.” Dengan begitu, setelah lahir si bayi pun akan mengenal ayah dan kakaknya. Kalau tidak, “bayi akan menolak kalau digendong ayah.” Sering kan, kita dapati bayi yang tak mau digendong ayahnya ? Nah, itu lantaran ia jarang mendengar suara ayahnya.

Pengenalan bayi dengan suara yang telah didengarnya di kandungan juga telah dibuktikan,lo. Seorang ibu di Amerika sering memperdengarkan dongeng pada janinnya sebagaimana ia mendongeng untuk anaknya. Setelah kelahiran, kalau bayinya rewel dan diperdengarkan dongeng tersebut, maka si bayi akan jadi lebih tenang dan asyik mendengarkannya. Reaksinya akan berbeda kala si bayi diperdengarkan dongeng lain yang belum dikenalnya. Tak percaya, silahkan Bapak-Ibu membuktikannya.

Tapi tentu saja stimulus pralahir yang diberikan harus dilakukan berulang kali dan hanya beberapa jenis saja. Soalnya, stimulus ini dimaksudkan juga untuk melatih daya ingat janin. Kalau tidak, ya tentunya setelah lahir si bayi akan lupa. Misalnya, Ibu atau Bapak cuma sekali atau dua kali memperdengarkan dongeng tentang Putri Upik Abu. Maka setelah lahir, jangan harap ia akan ingat dengan dongeng tersebut.

Sejak Usia Kehamilan 5 Bulan

Penting diketahui, dengan memberikan stimulus pralahir dalam bentuk komunikasi, berarti Ibu-Bapak telah merangsang perkembangan otaknya sebelah kiri, sehingga berkembang lebih dini. Bukankah selama ini orang tua biasanya jarang mengembangkan otak sebelah kiri, yang mencakup kemampuan bidang seni dan bahasa?

Metode komunikasi ini sudah dapat dilatihkan pada janin sejak kehamilan berusia 5 bulan atau 20 minggu. Pasalnya, di usia tersebut, janin sudah dapat bereaksi pada suara atau bunyi-bunyian yang berlangsung di luar kandungan. Ia melakukan penelitian mengenai pengaruh bahasa dan musik terhadap proses belajar pada bayi sejak di kandungan.

Dari hasil penelitian tersebut, ungkap Isye, diketahui bahwa proses belajar sudah dimulai lebih awal, yaitu sejak di kandungan. “Janin sudah dapat mendengar secara jelas pada usia 5-6 bulan dan ia pun dapat menggerak-gerakkan tubuhnya sesuai nada suara dan cara berbicara ibunya.

Tapi berkomunikasinya enggak semata-mata hanya memperdengarkan suara secara pasif, lo, melainkan harus disertai dengan memberikan pengalaman sensasi pada si janin. Misalnya, ibu melatih janin mengenai kata-kata yang mempunyai makna kasih sayang atau cinta. “Nah, komunikasikanlah dengan cara, ‘Mama sayang sama Adik,’ sambil mengusap bagian perut dimana terasa bagian menonjol dari tubuh tertentu si janin.” Lakukan hal itu berulang kali dan konsisten, maka hasilnya akan efektif.

Suara Keras Yang Baik

Selain itu, dalam berkomunikasi dengan janin juga harus diperhatikan suaranya; keras tapi baik. Maksudnya, enggak terlalu lembut, tapi juga tak perlu dengan berteriak atau membentak. “Seperti layaknya kalau kita bercakap-cakap dengan seseorang yang berada di ujung lain ruangan,”

Pasalnya, terang peserta training Diagnostik Perkembangan Bayi dan Anak serta Terapi Musik di Institute Fur Soziale Paediatric Mainz W. Germany dan Kinderzentrum Munschen ini, suara dari luar rahim akan tersaring melalui perut dan air ketuban. Jadi, walaupun pada usia 20 minggu janin sudah bisa mendengar, namun di dalam rahim ia juga mendengar suara lain, seperti suara detak jantung ibunya dan suara air ketuban.

Itulah mengapa, kalau kita ingin bercakap-cakap dengan janin, lakukan dengan mengeraskan suara. Atau, lanjut Isye, “bisa juga dengan menggunakan alat bantu berupa gulungan kertas atau megapon yang diarahkan ke perut ibu.” Dengan demikian, suara ibu bisa terbendung atau lebih terkumpul. Konon, karena ada lapisan perut dan air ketuban, maka suara kita akan terdengar lebih memencar kala ditangkap oleh janin.

Kata Kata Yang Diajarkan

Tentunya kala Ibu-Bapak mengajak janin bercakap-cakap ataupun bermain, sebaiknya dilakukan saat ia sedang terjaga. “Janin, kan, juga ada waktunya tidur dan ada waktunya sedang aktif. Nah, lakukanlah saat ia sedang aktif,” bilang Isye. Disamping, tujuan kita mengajaknya bicara, kan, untuk memberikan stimulasi. Kalau dilakukan saat ia sedang tidur, tentunya ia tak akan mendengar. Sia-sia, bukan?

Mengenai kata-kata yang diajarkan atau dilatihkan, menurut Isye, bisa beberapa patah kata. ” janin dilatih untuk memahami kata-kata utama.” Namun, apa saja kata-kata utama tersebut, tentunya akan berbeda-beda sesuai latar belakang sosio-kultural si janin berasal. “Standar umum pasti ada. Biasanya berupa kata-kata yang lazim ditangkap oleh janin, seperti sentuhan, tepuk, usap, tekan, goncang, belai, ketuk, dan sebagainya.” Misalnya, saat janin menendang perut, nah, Ibu bisa mengatakan, “Eh, Adik sudah bangun, ya, pakai menendang-nendang segala,” sambil Ibu menekan kembali tonjolan dia. “Lama-lama, kalau kita lakukan berulang kali, ia pun akan merespon. Ia akan mengajak main dengan tendangan dan sikutannya.”

Yang penting diperhatikan, jangan pernah memperdengarkan keluh kesah ataupun umpatan bernada depresi. Soalnya, ketidaknyamanan perasaan pada ibu bisa terasakan oleh janin. “Ada seorang pasien anak yang dikirim kepada saya oleh dokter bedah karena punya keluhan diare terus-menerus, namun secara medis tak ada apa-apa. Saya coba telusuri penyebabnya, ternyata saat hamil ibunya menderita tekanan batin yang sangat. Hubungan antara ibu dan janin itu, kan, sangat erat, sehingga apa yang menimpa ibunya, janin bisa ikut merasakan. Hal ini tak baik untuk perkembangan janin,”.

Jadi, Bu, kalau lagi hamil dan punya masalah, maka selesaikanlah agar tak berlarut-larut yang akhirnya mengganggu perkembangan janin. “Anak yang berasal dari ibu depresi saat hamil biasanya self confidence-nya juga enggak ada.

Nah, sekarang sudah paham, kan, Bu-Pak? Sering-seringlah berkomunikasi dengan si janin, ya, tapi kata-katanya harus yang manis dan menyenangkan, lo.

 

 Cara Ayah Berkomunikasi Dengan  Janin

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment

Powered by moviekillers.com.com