Bagaimana Orang Tua Menanggapi Kasus Kekerasan Pada Anak

Bagaimana Orang Tua Menanggapi Kasus Kekerasan Pada Anak

abuse

Anak adalah anugerah terindah yang diberikan Allah kepada suatu keluarga. Alangkah ironisnya, apabila anak mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan. Perlakuan yang tidak menyenangkan dapat juga disebut sebagai kekerasan fisik maupun psikologis. Kekerasan secara fisik seperti memukul, mencubit, menendang, mengikat, menghukum, dikurung dan lain-lain. Secara psikologis dapat berupa tidak diperdulikan, dicacimaki, diberi label yang tidak baik, tidak diberi kasih sayang, dan lain-lain.

Dampak kekerasan secara fisik dapat berupa :

Cedera otak, yang dapat berbuntut kerusakan menetap pada neurologis dan manifes dalam bentuk keterbelakangan mental, kesulitan belajar, cerebral palsy, dan kerusakan indra sensori, luka pada bagian tubuh lainnya dapat berbuntut rasa sakit menetap, hambatan dalam perkembangan gerakan dan berbicara. Sedangkan secara psikis korban umumnya memiliki harga diri rendah, mengalami hambatan untuk belajar, sulit untuk menikmati hidup, keterampilan sosial rendah. Dalam relasi sosial mereka sulit bergaul, cenderung tidak percaya pada orang lain, kurang responsif dan cenderung menolak orang lain.

Seringkali tindakan kekerasan terjadi pada lingkup keluarga, dimana seharusnya keluargalah yang memberikan pada setiap anggotanya rasa aman, nyaman, kebebasan untuk mengembangkan diri, tempat belajar bersosialisasi, belajar mengenai tanggung jawab bermasyarakat, dan lain-lain.

Setiap anak berhak mendapatkan perlakuan yang menyenangkan dan perlindungan dari lingkungannya (keluarga), sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, Bab II, Pasal 3 yang berbunyi : Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhnya hak-hak agar anak dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasam dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera.

Bagaimana dengan kasus yang terjadi pada anak berusia 8 tahun yang dirantai oleh keluarganya (orang tua), haruskah diperlakukan seperti itu karena perilakunya yang dianggap keluarga tidak dapat diam atau lincah ?

Perlakuan yang diberikan pihak keluarga kepada sang anak, sangatlah tidak menyenangkan dan melanggar hak asasi anak. anak yang mendapat kekerasan secara fisik seperti dirantai oleh keluarga karena perilakunya yang lincah. Benarkah  si anak hiperaktif ? Anak dapat dikatakan hiperaktif setelah dilakukan diagnosa oleh dokter atau pun psikolog dan harus berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.

Terlepas dari itu, harusnya orang tua dapat terlebih dahulu mengendalikan diri, belajar mengontrol, membaca info tentang perilaku anak dan mengetahui bagaimana harus mengatasinya, bukan dengan memberikan perlakukan dengan merantai anak itu karena ia lincah dan tidak dapat diam. Perlakuan terhadap dirinya, secara tidak langsung menjadikan ia anak yang dikekang kebebasannya. Anak aktif bagus daripada anak yang diam saja, bisa jadi mengalami gangguan. Tetapi aktif yang seperti apa yang harus ditangani/diberikan terapi sehingga tidak membahayakan diri maupun lingkungannya.

Orang tua yang melakukan kekerasan pada anak biasanya memiliki karakter seperti berikut : toleransi frustasi rendah, ketrampilan parenting kurang, merasa tidak mampu menjadi orang tua, korban/saksi dalam tindak kekerasan, harapan tidak realistik terhadap anak, kesepian dan terisolasi, merasa tidak aman, harga diri rendah, dan lain-lain.

Seharusnya keluarga atau orang tua lebih dapat memberikan perlakuan yang sesuai dengan kebutuhan anak pada usianya. Punishment (hukuman) dan reward (hadiah) memang dapat diberlakukan dalam mengasuh dan mendidik anak, namun yang perlu diingat hukuman dan hadiah yang diberikan haruslah yang bersifat membelajarkan anak lebih baik dan tidak menjadikan anak sebagai korban kekerasan. Semoga, anak – anak yang lain tidak terjadi lagi, sehingga anak Indonesia lebih dapat berkarya dan berbahagia.

Bagi orang tua, ataupun calon orang tua, bekalilah diri dan bersiaplah untuk menjadi orang tua yang menyenangkan dan menjadi pelindung dalam rumah, lingkungan, maupun bangsa…

Banyak teori yang berusaha menerangkan bagaimana kekerasan ini terjadi, salah satu di antaranya teori yang behubungan dengan stress dalam keluarga (family stress). Stres dalam keluarga tersebut bisa berasal dari anak, orang tua, atau situasi tertentu.

  • Stres berasal dari anak misalnya anak dengan kondisi fisik, mental, dan perilaku yang terlihat berbeda dengan anak pada umumnya. Bayi dan usia balita, serta anak dengan penyakit kronis atau menahun juga merupakan salah satu penyebab stres.
  • Stres yang berasal dari orang tua misalnya orang tua dengan gangguan jiwa (psikosis atau neurosa), orang tua sebagai korban kekerasan di masa lalu, orang tua terlampau perfek dengan harapan pada anak terlampau tinggi, orang tua yang terbiasa dengan sikap disiplin.
  • Stres berasal dari situasi tertentu misalnya terkena PHK (pemutusan hubungan kerja) atau pengangguran, pindah lingkungan, dan keluarga sering bertengkar.

Dengan adanya stres dalam keluarga dan faktor sosial budaya yang kental dengan ketidaksetaraan dalam hak dan kesempatan, sikap permisif terhadap hukuman badan sebagai bagian dari mendidik anak, maka para pelaku makin merasa sahlah untuk mendera anak. Dengan sedikit faktor pemicu, biasanya berkaitan dengan tangisan tanpa henti dan ketidakpatuhan pada pelaku, terjadilah penganiayaan pada anak yang tidak jarang membawa malapetaka bagi anak dan keluarganya.

Perlukaan bisa berupa cedera kepala (head injury), patah tulang kepala, gegar otak, atau perdarahan otak. Pelukaan pada badan, anggota gerak dan alat kelamin, mulai dari luka lecet, luka robek, perdarahan atau lebam, luka bakar, patah tulang. Perlukaan organ dalam (visceral injury)tidak dapat dideteksi dari luar sehingga perlu dilakukan pemeriksaan dalam dengan melakukan otopsi.

Perlukaan pada permukaan badan seringkali memberikan bentuk yang khas menyerupai benda yang digunakan untuk itu, seperti bekas cubitan, gigitan, sapu lidi, setrika, atu sundutan rokok. Karena perlakuan seperti ini biasanya berulang maka perlukaan yang ditemukan seringkali berganda dengan umur luka yang berbeda-beda, ada yang masih baru ada pula yang hamper menyembuh atau sudah meninggalkan bekas (sikatriks). Di samping itu lokasi perlukaan dijumpai pada tempat yang tidak umum sepertihalnya luka-luka akibat jatuh atau kecelakaan biasa seperti bagian paha atau lengan atas sebelah dalam, punggung, telinga, langit langit rongga mulut, dan tempat tidak umum lainnya.

Pada saat ditanyakan tentang bagaimana kejadiannya sampai perlukaan tersebut bisa terjadi, biasanya orang tua atau wali yang mengantar anak itu akan memberikan jawaban yang tidak konsisten dan tidak klop antara kedua orang tua dengan kata lain jawabannya “ngarang”. Untuk anak yang berusia diatas 3 tahun kita dapat menanyakan kejadiannya pada korban,tapi ini dilakukan di ruang terpisah dari tersangka pelaku (private setting). Juga, anak yang menjadi korban ini di bawa untuk mendapatkan perawatan tidak dengan segera atau ada jarak waktu antara kejadian dengan upaya melakukan pertolongan .

Saat perlakuan salah pada anak terjadi, lantaran perbuatan itu, pelaku tidak sadar bahkan mungkin tidak tahu bahwa tindakannya itu akan diancam dengan pidana penjata atau denda yang tidak sedikit, bahkan jika pelaku ialah orang tuanya sendiri maka hukuman akan ditambah sepertiganya Pasal 80 Undang-Undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, sebagai berikut: (1). Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banayk Rp. 72.000.000.00. (2). Dalam hal anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) luka berat, maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 100.000.000.00. (3). Dalam hal anak yang dimaksud ayat 2 mati, maka pelaku dipidana penjara paling lama 10 tahun dan/atau denda paling banyak RP. 200.000.000.004. Pidana dapat ditambah sepertiga dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), ayat (3) apabila yang melakukan penganiayaan tersebut orang tuannya ).

Upaya pencegahan

Mengingat sedemikian kompleksnya kekerasan pada anak ini maka usaha pencegahan kekerasan pada anak tidak hanya tergantung pada program dan layanan yang telah disediakan oleh pemerintah melainkan juga sangat tergantung pada bagaimana pemerintah dan masyarakat memaknai issu kekerasan ini.

Beberapa indikator bahwa kita (baca: pemerintah dan masayarakat) menempatkan anak sebagai prioritas utama di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Kemarahan warga termotivasi dan mereka akan bertindak saat mendengar ada anak yang mengalami kekerasan.
  • Perumahan yang memadai tersedia bagi seluruh keluarga, layanan kesehatan dapat terjangkau seluruh keluarga,
  • Sistim layanan sosial dapat dijangkau keluarga saat mereka membutuhkan bantuan sebelum kekerasan pada anak terjadi,
  • Materi umum mengenai bimbangan dan perawatan anak serta materi komunikasi interpersonal, penyelesaian konflik tanpa kekerasan, dijumpai dalam kurikulum sekolah mulai taman kanak-kanak sampai sekolah lanjutan dan diteruskan untuk pendidikan bagi orang dewasa,
  • Program pendidikan dan latihan kerja tersedia bagi pekerja dalam rangka memperoleh pekerjaan dan upah yang memadai,
  • Kebijakan tempat kerja yang mendukung keluarga seperti perjanjian kerja yang memungkinkan karyawan memilih waktu kerjanya sendiri,
  • Setiap orang tua memiliki akses untuk menolong dirinya dan kelompok pendukung ,
  • Model-model kampanye anti kekerasan jelas terlihat,
  • Sistim hukum , pidana atau perdata, memiliki dana, staf terlatih yang cukup untuk menyelesaikan kasus kekerasan dengan tepat dan adil,
  • Program pendidikian bagi orang tua berbasis budaya dan etnis tersedia bagi seluruh orang tua yang baru punya anak.

Ketika masyarakat sadar akan keberadaan kekerasan pada anak ini sebagai salah satu masalah mereka yang meresahkan, maka dengan sendirinya masyarakat sangat berkeingingan untuk membantu seluruh upaya layanan, program ataupun kebijakan terkait dengan pencegahan kekerasan pada anak. Upaya pencegahan kekerasan pada anak dapat dilaksanakan dari dua sisi, masyarakat dan pemerintah.

Pemerintah sangat diharapkan memiliki komitmen dasar nasional yang sunguh-sungguh untuk anak. Sebagai langkah awal dimulai dengan inisiatif pemimpin atau tokoh nasional untuk ambil bagian untuk mendukung upaya pencegahan sebagai salah satu usaha pentingmemerangi kekerasan pada anak. Tokoh atau pemimpin berkaliber nasional berinisiatif mendukung upaya ini, dengan kemampuannya bisa mempengaruhi kebijakan baik pada sektor privat atau publik.

Aksi berikut yang perlu diambil adalah memasukan langkah pencegahan kekerasan pada anak secara komprehensif ke dalam sistim peradilan. Sistim hukum yang ada, baik peradilan anak, pidana, dan perdata, seluruh peraturan dan prosedurnya harus sedemikan rupa sehinga sensitif dengan kebutuhan anak dan keluarga. Tentu dalam ini harus ditunjang pula dengan jumlah tenaga hakim, pengacara, staf pengadilan terlatih yang memadai.

Bagi masyarakat, keluarga, atau orang tua diperlukan kebijakan, layanan, sumberdaya, dan pelatihan pencegahan kekerasan pada anak yang konsisten dan terus menerus. Strategi pencegahan ini meliputi :

  • Pencegahan primer untuk semua orang tua dalam upaya meningkatkan kemampuan pengasuhan dan menjaga agar perlakuan salah atau abuse tidak terjad, meliputi perawatan anak dan layanan yang memadai, kebijakan tempat bekerja yang medukung, serta pelatihan life skill bagi anak. Yang dimaksud dengan pelatihan life skillmeliputi penyelesaian konflik tanpa kekerasan, ketrampilan menangani stress, manajemen sumber daya, membuat keputusan efektif, komunikasi interpersonal secara efektif, tuntunan atau guidance dan perkembangan anak, termasuk penyalahgunaan narkoba.
  • Pencegahan sekunder ditujukan bagi kelompok masyarakat dengan risiko tinggi dalam upaya meningkatkan ketrampilan pengasuhan, termasuk pelatihan dan layanan korban untuk menjaga agar perlakuan salah tidak terjadi pada generasi berikut. Kegiatan yang dilakukan di sini di antaranya denganmelalukan kunjungan rumah bagi orang tua yang baru mempunyai anak untuk melakukan self assessment apakah mereka berisiko melakukan kekerasan pada anak di kemudian hari.
  • Pencegahan tersier dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan pengasuhan yang menjaga agar perlakuan salah tidak terulang lagi, di sini yang dilakukan adalah layanan terpadu untuk anak yang mengalami korban kekerasan, konseling, pelatihan tatalaksana stres.

Pada saat kasus kekerasan pada anak ditemukan, sebenarnya ada masalah dalam pengasuhan anak (parenting disorder). Maka dari itu, strategi pencegahan kekerasan pada anak yang mendasar adalah dengan memberikan informasi pengasuhan bagi para orang tua khususnya.

 Di sisi lain, para orang tua harus diyakinkan bahwa mereka adalah orang yang paling bertanggung jawab atas semua pemenuhan hak anak. Maka semua usaha yang dilakukan dalam rangka mengubah perilaku orang tua agar melek informasi pengasuhan dan hak anak membutuhkan upaya edukasi yang terus menerus. Dengan demikian, pendidikan pengasuhan bagi orangtua sebagai bagian dari strategi pencegahan kekerasan pada anak menjadi sangat penting.

Saran Pakar Soal Kekerasan Pada Anak

Kekerasan memang tidak dapat ditolerir, apalagi terhadap anak. Menurut Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi menyarankan agar orangtua ‘bergerak’ bila mengetahui anaknya mengalami kekerasan.

Tidak perlu ragu meski pelaku kekerasan datang dari kerabat atau pasangan Anda sendiri. Sebab bila ada bila ada seseorang yang mengetaui ada anak mendapat kekerasan, namun tidak ada tindakan akan terancam tahanan 5 tahun penjara sesuai pasal 78 Tahun 2002.

Berpikir untuk bertindak menyudahi kekerasan ini merupakan langkah apik yang pertama. Selanjutnya orangtua dapat melakukan :

  • Menegur pelaku tindak kekerasan. Bentuk teguran tidak harus keras, point terpenting adalah pelaku menyadari bahwa perilakunya itu menyimpang dan merugikan anak.
  • Berikan masukan bagaimana cara menangani anak untuk kasus pengasuh atau seseorang yang melakukan kekerasan karena tidak sabar menghadapi anak. Ingatkan bahwa anak-anak belum bisa bersikap seperti orang dewasa.
  • Hentikan dengan paksa bila pelaku masih melakukan kekerasan. Bila kekerasan dilakukan oleh pengasuh seperti pembantu atau baby sitter, segeralah memutuskan kontrak kerja.
  • Laporkan pada pihak yang berwajib bila luka yang diakibatkan oleh kekerasan masuk dalam kategori fatal, misalnya luka robek yang parah, luka tusuk, atau pemerkosaan.

Kemudian ditambahkan oleh Diana Rachma, M.Si, Psi., bila anak mendapat perilaku kekerasan, orangtua jangan lupa untuk :

  • Memantau tumbuh kembang anak sesuai dengan usia perkembangannya. Jika tidak sesuai dengan tahap perkembangannya, segeralah datang ke ahli medis tumbuh kembang, misalnya psikolog.
  • Lakukan fisum untuk kasus kekerasan secara fisik. Sehingga saat Anda ingin melaporkan pelaku pada pihak berwajib, Anda memiliki bukti otentik.

 

Cara Mengatasi Kekerasan Pada anak

UNTUK ANAK

1. Mulailah berani mengatakan tidak suka menjadi korban kekerasan
2. Hilangkan pikiran bahwa orang tua berhak menghukum anak karena alasan disiplin
3. Kalaupun melakukan kesalahan, hukuman tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik, namun justru akan menimbulkan dendam pada penghukum, sehingga katakan bahwa tanpa hukumanpun anda sudah tahu kesalahan diri.
4. Bicarakanlah kekerasan yang dialami anak dengan orang dewasa lain yang dianggap anak mampu membantu keluar dari permasalahan tersebut.

UNTUK ORANG TUA

1. Evaluasi diri mengenai pandangan kita tentang anak, apakah sudah tepat dan apakah kita sudah memberikan yang terbaik untuk anak kita.
2. Diskusi dan berbagi, dengan orang lain untuk mengetahui seberapa baik dan tepat perlakuan dan pandangan kita pada anak.
3. Perbanyak pengetahuan, pengetahuan yang tepat dapat dilakukan dan dipertanggungjawabkan sehingga kita mampu meletakkan pandangan kita mengenai anak secara lebih tepat sehingga kita tidak akan terkungkung oleh pandangan yang belum tentu benar.
4. Peka terhadap anak. Kepekaan terhadap anak akan membuat kita bersegara melakukan tindakan apabila kita mendapati anak menjadi korban kekerasan baik oleh anggota keluarga sendiri atau orang lain.
5. Hubungi lembaga yang berkompeten. Sekarang banyak lembaga yang bergerak dibidang hukum, perlindungan anak dan aparat pemerintah atau penegak hukum yang bisa membantu menghadapi kekerasan pada anak.

Anak adalah anugerah.  Sementara itu tak dipungkiri dalam membesarkan anak hari demi harinya, orang tua  bisa mengalami stress yang luar biasa.  Mulai dari suara tangis tengah malam, rewel, merengek, persoalan makan, toilet training, temper tantrum, pekerjaan rumah yang harus dibereskan serta kekacauan rumah yang tak pernah ada habisnya.  Belum lagi masalah external, relationship dan tekanan ekonomi, seringkali membuat hubungan orang tua dan anak berubah menjadi ledakan besar.  Kekerasan terhadap anak pun seringkali tak bisa dihindari.

Komnas Perlindungan Anak mencatat 61,4% pelaku kekerasan adalah orang tuanya sendiri.  Bahkan tak jarang orang tua tega melakukan penganiayaan terhadap anaknya yang di luar akal sehat manusia.  Kondisi yang memprihatinkan ini bisa terjadi di sekitar kita.  Kita semua harus bertindak, kita juga turut bertanggung jawab untuk mewujudkan lingkungan yang aman bagi tumbuh kembang anak, yang dimulai dari keluarga.

Untuk Orang Tua dan Pengasuh:

Anak-anak memerlukan makanan, tempat tinggal, pakaian dan terlebih dari itu semua, mereka membutuhkan kasih sayang.  Anak-anak perlu tahu bahwa mereka istimewa dan dicintai.  Jadi, sebelum kehilangan kesabaran Anda, saran ini dapat membantu:

  • Luangkan waktu untuk diri sendiri.  Ketika dihadapkan dengan persoalan hidup hingga pada titik puncak merasa kewalahan atau nyaris di luar kendali, luangkan waktu untuk tenang sejenak; jangan timpakan persoalan pada anak.
  • Berpikirlah sebelum bertindak.  Misalnya jika frustasi dengan suara tangis bayi, jangan guncangkan bayi dengan keras, karena akan mengakibatkan cidera atau kematian.
  • Minta bantuan orang lain.  Menjadi orang tua tidaklah mudah.  Telepon teman/saudara, mintalah bantuan orang lain yang memahami tahapan perkembangan anak.
  • Perhatikan acara televisi dan games yang anak Anda lihat. Maraknya film kekerasan dan program TV dapat membahayakan mereka.

Untuk Teman dan Tetangga:

Para orang tua di sekitar Anda membutuhkan Anda dalam membesarkan anak-anak yang sehat dan bahagia.  Jadi, jika Anda ingin melakukan sesuatu dalam upaya mencegah kekerasan terhadap anak, perhatikan:

  • Aktiflah di komunitas Anda dan kenalilah tetangga Anda.  Tawarkan uluran tangan untuk mengurus anak-anak akan sangat membantu orang tua lepas dari ketegangan.
  • Menjadi relawan pencegahan kekerasan anak
  • Ikut serta mempromosikan serta mengembangkan layanan kebutuhan anak dan keluarga di komunitas Anda, baik di lingkungan rumah, gereja atau lainnya.
  • Laporkan jika Anda melihat kekerasan pada anak atau pengabaian anak.
  • Jika Anda punya memiliki alasan mempercayai bahwa anak telah mengalami kekerasan.

 

Bagaimana Orang Tua Menanggapi Kasus Kekerasan Pada Anak

 

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment

Powered by moviekillers.com.com