Bagaimana Menangani Masalah Buli Di Sekolah

Bagaimana Masalah Buli Di Sekolah

97350434_bullying_408011c
Buli ialah suatu perlakuan ganas oleh segolongan pelajar yang bermasalah. Buli boleh berlaku dalam bentuk fizikal, mental mahupun emosi yang pelakunya cuba menunjukkan kuasa kepada pelajar yang lemah.

Biasanya pelajar lelaki menunjukkan sifat membuli secara fizikal manakala pelajar perempuan cenderung untuk menunjukkan sifat membuli dengan perkataan, sindiran atau memulaukan seseorang.

Perkembangan terkini menunjukkan sikap suka membuli juga boleh terjadi melalui laman media sosial.

Melalui laman sosial, pelajar boleh menghantar mesej dengan pelbagai ugutan, tuduhan dan fitnah.

Bagaimanakah cara untuk menangani isu buli? Isu ini tidak boleh ditangani oleh individu secara berseorangan. Ibu bapa, guru atau pelajar sendiri perlu berpadu tenaga dan bekerjasama untuk membanteras kegiatan ini. Minggu ini dipaparkan beberapa tip bagaimana perkara ini dapat ditangani.

1. Pihak Pentadbir Sekolah dan Guru: Sedar dan Ambil Tindakan Segera

– Pihak pentadbir khususnya guru besar/ pengetua dan guru-guru umumnya, harus peka mengenai masalah ini. Mereka harus mengetahui dan memahami konsep, faktor penyebab, tempat insiden buli dan aspek berkaitan isu buli.

– Jika guru dapat mengesan kes buli berlaku di sekolah, perkara ini harus diambil berat dan diberikan perhatian serius. Jika kes ini berlaku di dalam kelas tempat guru itu sedang mengajar, guru perlu menghentikannya segera serta mengambil maklumat dan butiran. Buat laporan dan hantar laporan berkenaan kepada pihak pentadbir supaya insiden itu direkodkan dan diambil tindakan sewajarnya.

– Tindakan segera perlu dilakukan pihak pentadbir berasaskan peraturan sedia ada.

2. Peranan Sekolah dan Ibu Bapa/ Penjaga

– Guru, pelajar dan ibu bapa/ penjaga harus terlibat dalam kes berkaitan. Pelajar perlu ada kesedaran memberitahu guru atau ibu bapa tentang kewujudan masalah berkenaan.

– Pelajar perlu dilatih dan diberi kemahiran mengenal pasti kes dan mampu membuat laporan kepada pihak bertanggungjawab.

– Program Pembimbing Rakan Sebaya (PRS) merupakan konsep dan kaedah yang baik untuk dilaksanakan oleh semua sekolah. PRS akan menjadi mata dan telinga kepada pelajar yang menjadi mangsa buli.

– PRS boleh diberikan tanggungjawab untuk mengenal pasti isu tersebut dan memberikan laporan kepada kaunselor sekolah untuk tindakan lanjut. Ahli PRS juga boleh memberi bantuan emosi awal kepada mangsa yang terlibat.

– Ibu bapa harus diberi pendedahan terhadap tanda-tanda mangsa yang dibuli. Penerangan tentang bagaimana untuk memahami dan memberi sokongan emosi terhadap anak-anak mereka yang menjadi mangsa buli juga perlu diberi penekanan.

3. Peranan Pelajar

– Semua pelajar perlu diberi pendedahan awal tentang isu yang berkaitan dengan buli. Pendedahan perlu diberi daripada aspek definisi, ciri-ciri mangsa, kesan, hukuman dan implikasi isu buli.

– Pelajar digalakkan untuk menanamkan sikap proaktif terhadap isu buli di sekolah. Galakkan pelajar meluahkan perasaan melalui apresiasi seni, esei dan perbahasan tentang isu buli.

– Pelajar yang berasa dirinya terancam boleh menulis permasalahan mereka dan hantar kepada kaunselor, guru bimbingan atau guru-guru yang mereka rasa selesa untuk mendengar atau membaca permasalahan mereka.

– Pelajar perlu mengelakkan diri daripada menyerang balas pembuli berkenaan seperti mengadu hal itu kepada orang luar yang tiada kaitan dengan sekolah. Perkara ini boleh mengundang bahaya yang lebih besar.

– Pelajar yang berisiko untuk dibuli perlu mengelakkan diri daripada duduk secara bersendirian. Anda digalakkan untuk berada dalam kumpulan.

– Pelajar perlu diberi kefahaman berkenaan buli yang berlaku dalam alam siber. Pelajar perlu mengehadkan aktiviti dalam laman sosial atau sekurang-kurangnya dapat memahami aspek buli melalui siber seterusnya mengelakkan diri daripada menjadi mangsa buli.

Dampak Ejekan (Bullying) Terhadap Anak-anak

Masa tumbuh kembang anak-anak sudah semestinya mendapat perhatian dari orangtua. Saat anak-anak bermain bersama teman-temannya, tentu orangtua akan merasa bahagia dan merasa tugasnya semakin ringan, karena putra putri mereka sudah mampu bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Namun, pernahkah terfikir di benak Anda mengenai tindakan bullying di kalangan anak-anak? atau bahkan bullying orangtua terhadap anak-anak mereka sendiri dan atau anak-anak yang menyaksikan tindakan bullying antara kedua orangtuanya maupun melihat temannya yang dibullying. Dampak yang diakibatkan oleh tindakan bullying sangat kompleks

Mengganggu, mengejek, mengintimidasi (mengancam) atau merendahkan disebut dengan tindakan bullying. Bullying termasuk dalam kategori  sikap kekerasan terhadap anak-anak. Taukah Anda, tindakan tersebut dapat berdampak pada anak-anak yang diganggu, orang yang menggertak/mengejek, dan bahkan mereka (anak-anak) yang melihat atau menyaksikan bullying.

Bullying terkait dengan dampak negatif, yaitu berdampak pada kesehatan mental, penggunaan narkoba, dan bahkan motivasi untuk bunuh diri. Sangat penting untuk berbicara dengan cara yang bijak dan memberikan pengertian secara halus kepada anak-anak, untuk menjelaskan bahwa tindakan mengejek, merendahkan, mengganggu dan  mengintimidasi adalah suatu perbuatan yang dapat menimbulkan kekhawatiran.

Ditinjau dari pihak korban (anak-anak yang diganggu) dapat mengalami berbagai gangguan yang dapat bertahan dan berlanjut hingga mereka tumbuh dewasa.

1. Gangguan kesehatan mental, seperti stres/depresi, kecemasan, meningkatkan perasaan sedih dan kesepian, minder/tidak percaya diri, membentuk pribadi yang introvert/pemalu, penyendiri, dan kehilangan minat dalam berbagai kegiatan mereka karena perasaan takut, tidak nyaman, dan tidak dapat merasa bahagia dalam keikutsertaan dalam kegiatan tersebut (berusaha menghindar dari teman-teman yang ia takuti).

2. Keluhan kesehatan, seperti perubahan pola tidur dan makan, menjadi insomnia, malas makan.

3. Penurunan prestasi sekolah, seperti menurunnya nilai-nilai akademik, mengganggu konsentrasi belajar, kurang aktif dalam mengikuti pelajaran, dan kurang antusias dalam berpartisipasi di berbagai kegiatan sekolah. Mereka lebih cenderung ketinggalan, tidak naik tingkat bahkan terparahnya hingga putus sekolah, karena menghindari teman-teman di sekolahnya (mogok sekolah).

Dilansir dari stopbullying, dalam jumlah yang sangat kecil dari anak-anak yang diganggu/diejek, mungkin akan membalas melalui tindakan yang lebih kejam. Berdasar sebuah survey di Amerika, sekitar 12 dari 15 kasus penembakan sekolah pada 1990-an, para penembak memiliki sejarah masa kecil yang buruk / ditindas / bullying.

Dampak bullying terhadap anak-anak tidak hanya dialami pada pihak korban saja, melainkan pada pihak anak-anak yang melakukan bullying terhdap temannya. Anak-anak yang mem-bullying anak lainnya juga dapat berisiko dan berpotensi terlibat melakukan tindakan kekerasan lainnya saat mereka dewasa nanti.

Anak-anak yang suka mem-bullying dapat lebih mungkin untuk:

1.Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan (narkoba)
2.Terlibat dalam perkelahian, tawuran bahkan putus sekolah dengan reputasi buruknya
3.Terlibat dalam aktivitas seksual dini (pergaulan seks bebas di kalangan anak dan remaja)
4.Memiliki kemampuan untuk melakukan kriminal dan melakukan tindakan yang jauh lebih dewasa dari usianya (dalam hal negatif/ kenakalan)
5. Menjadi  pribadi yang kasar terhadap pasangannya kelak, atau kasar tehadap anak-anaknya saat mereka dewasa nanti.

Tidak berhenti hanya pada pihak korban dan pelaku bullying saja, dampak anak-anak yang terpapar aksi bullying seperti melihat kedua orangtuanya saat bertengakar dengan saling mengejek dan mengintimidasi, melihat di televisi/internet/media tentang aksi bullying, maupun melihat temannya yang diejek dan diancam.

Anak-anak yang menyaksikan aksi bullying tersebut lebih mungkin untuk berpotensi:

1. Meningkatkan penggunaan tembakau (merokok), alkohol, atau obat-obatan seperti narkoba

2. Meningkatkan masalah kesehatan mental, seperti kecemasan, penyendiri, kesedihan, stres dan depresi

3. Malas bersekolah, lebih senang absen atau bolos sekolah

4. Meniru apa yang dilakukan kedua orangtuanya, yakni dengan berbicara kasar, suka membentak/menggertak orang di sekitarnya, termasuk teman-temannya.

5. Berpotensi melakukan hal yang sama terhadap pasangan dan anak-anaknya kelak.

Agar Anak Kebal Ada 5 ‘imunisasi’ yang bisa membuat anak kebal terhadap tindakan bully di mana pun dia berada:

1. Antisipasi sebelum bully terjadi. Cermati cerita anak tentang sekolahnya, apakah ada cerita tentang temannya yang sukabossy atau menang sendiri. Nah, ini bisa jadi cikal bakal bully. Ajari anak cara terbaik untuk menyikapi sikap teman yang seperti ini.

2. Ajari anak ‘melawan’ secara positif, misalnya berani bilang tidak suka atau menolak perlakuan teman yang kasar. Hindari terus menerus mendorong anak untuk bersikap baik dan manis pada teman. Jika ada teman yang menyakiti, tentu ia perlu belajar bersikap tegas.

3. Berikan kesempatan bagi anak untuk ikut aktivitas olahraga secara rutin. Lewat olahraga, selain kekuatan fisik, bisa juga terbangun sikap sportif dan kepercayaan diri yang bisa menjadi bekal bagi anak menghadapi tindakan bully di sekolah.

4. Berikan contoh cara membela kepentingan diri secara manis. Contoh, ketika sedang mengantri, ada orang yang menyela Anda, sampaikan keberatan pada orang itu dengan sopan. Tunjukkan kita bisa melakukan sesuatu jika hak kita dilanggar.

5. Biasakan atmosfer demokrasi di rumah, yaitu semua orang berhak mengeluarkan pendapatnya secara positif dan wajib menghargai pendapat orang lain.

Bagaimana Menangani Masalah Buli Di Sekolah

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment

Powered by moviekillers.com.com