Bagaimana Cara Anak Belajar Dan Memperoleh Pengetahuan

Bagaimana Cara Anak Belajar Dan Memperoleh Pengetahuan

kids study brain

MEMBANGUN PENGETAHUAN ANAK

  1. Teori Pengetahuan

Otak kita mengetetahui bagaimana cara mengenal benda melalui input dari indera mata, telinga, kulit, hidung, dan mulut yang secara langsung akan menunjukkan reaksi tertentu terhadap lingkungan sekitar kita. Misalnya kita tidakakan  mengetahui bahwa gula itu manis jika belum kita cicipi terlebih dahulu dengan menggunakan lidah sebagai sensor rasa.

Bahwa pengetahuan tidak hanya interaksi langsung indera dengan kenyataan, tetapi juga harus ada pemikiran tentang perubahan.Pengetahuan yang berasal dari budaya kita biasanya didapatkan secara turun-temurun melalui orang-orng yang berada disekitar kita. Pengetahuan dibangun anak berdasarkan kemampuannya dalam memahami perbedaan berdasarkan persamaan yang tampak.

Jenis-jenis Pengetahuan

Piaget membagi pengetahuan menjadi tiga jenis:

  1. Pengetahuan Fisik (Physical Knowledge)

Pengetahuan fisik berasal dari lingkungan fisik disekitar anak, berupa bentuk, warna, rasa, suara, gerak, dan sebagainya. Pengetahuan fisik dibangun pada saat anak menggunakan asosiasi antara benda dengan perlakuan yang diberikan pada benda tersebut.2. Pengetahuan

2. Logika- Matematika (Logico Mathematical Knowledge)

Pengetahuan logika matematika ini meliputi membandingkan, mengurutkan, mengelompokkan, menghitung, berpikir, dengan menggunakan logika.

3. Pengetahuan Sosial (Social Knowledge)

Fungsi pengetahuan sosial adalah suatu proses dalam melakukan interaksi dengan orang lain. Menurut Piaget pengetahuan sosial berasal dari budaya dimana anak tinggal. Pengetahuan sosial ini meliputi kosakata, norma, moral, dan berbagai macam kondisi lingkungan setempat anak menetap yang harus dipelajari oleh anak dari lingkungan sekitar.

Cara Anak Membangun Pengetahuan

Membangun pengetahuan dari berbagai macam sudut pandang teori

1. Teori Peniruan Pengetahuan

Anak membangun pengetahuan melalui kegiatan mengamati dan meniru apa yag telah ia lihat. Berdasarkan teori peniruan pengetahuan, cara seseorang untuk mengetahui sesuatu sama seperti layaknya proses memotret, dimana indera yang lebih banyak terlibat adalah indera penglihatan. Jadi, selama anak memperhatikan, guru sebaiknya memberikan penjelasan sesuai dengan apa yang dilihat oleh anak. Artinya, anak memperoleh input pengetahuan tidak hanya melalui indera penglihatannya tetapi juga indera pendengarannya.

2. Pandangan Teori Konstruktivis pada teori pengetahuan

Anak belajar dengan mengubah objek, yaitu dengan memanipulasinya. Menuru Piaget menyatakan bahwa pengetahuan bukan hanya berupa peniruan dari lingkungan anak melainkan lebih kepada mengonstruksi pemikiran. Piaget menyatakan bahwa pengetahuan adlah hasil sari pengonstruksian pemikiran secara aktif dengan membuat hubungan antara objek satu dengan lainnya.

3. Konsep Perubahan

pengetahuan berkembang dengan mempelajari bagaimana objek bergerak, berubah posisi dan bentuk, dan bagaimana objek tersebut berubah jika dihubungkan dengan benda lainnya.

Dari seluruh penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam membangun pengetahuan pada anak, guru terlebih dahulu harus memahami inti dari setiap pengetahuan yang akan dibangun pada anak. Karena pengetahuan di dapat dari interaksi terhadap lingkungan sekitar. Dalam membangun pengetahuan pada anak, guru juga harus memperhatikan tahap perkembangan kognitif anak yang sangat mempengaruhi kemampuan anak dalam berpikir. Guru harus memiliki keterampilan dalam membangun pengetahuan sesuai dengan kemampuan berpikir anak.

Perubahan merupakan proses bukan hasil, oleh karena itu dalam membangun pengetahuan pada anak untuk memahami proses sangatlah sulit, karena diperlukan lingkungan yang dapat merangsang perkembangan kemampuan berpikir anak. Misalnya, jika anak melihat seekor kucing berlari ke belakang pohon, diharapkan bahwa anak tidak berpikir kucing itu hilang begitu saja, tetapi diharapkan anak mampu menjelaskan posisi kucing itu sekarang. Artinya anak juga mampu membuat perbedaan antara tidak ada dengan tersembunyi.

Membangun pengetahuan pada anak sangat berbeda dengan orang dewasa. Membangun pengetahuan pada anak haruslah berdasarkan kepada bermain dan permainan. Dengan melalui kegiatan bermain anak-anak dapat mengembangkan berbagai aspek yang diperlukan untuk persiapan masa depan. Bermain antara lain membantu perkembangan tubuh, perkembangan emosional, perkembangan sosial, perkembangan kognitif dan moral serta kepribadian maupun bahasa. Bermain juga bisa dijadikan media untuk membina hubungan yang dekat antar anak, atau anak dengan orang tua/guru/orang dewasa lainnya sehingga tercipta komunikasi yang efektif.

Metode- Metode Pembelajaran yang dapat Membangun Pengetahuan

1. Metode Praktek Langsung

Melalui kegiatan praktek langsung diharapkan anak mendapatkan pengalaman melalui interaksi langsung dengan objek.Banyak permainan yang mengarah kepada pemberian kesempatan anak melakukan praktek. Contoh guru menekankan kata pada kosakata yang hendak diperkenalkan pada anak sekaligus cara mengaduk gula pasir dalam air.Dalam kegiatan ini guru ikut bermain sambil dengan menambah kosa kata anak, yaitu memberi pengertian pada anak tentang apa yang baru saja ia lakukan. Dengan demikian akan terbangun pengetahuan baru tentang kata mencampur berdasarkan pengalam yang baru saja dialami oleh anak.

2. Metode Cerita atau Dongeng

Melalui kegiatan bercerita atau mendongeng menjadikan anak akan memperoleh pengetahuan bagaimana cara menyampaikan pesan pada orang lain agar orang lain mampu memahami pesan-pesan yang ingin disampaikan. Ketika seorang anak mendengarkan suatu cerita, anak akan belajr mengembangkan kemampuan kognisi, perbendaharaan dan tata bahasa, emosi, sosialisasi, partisipasi, kebiasaan bekerja dan juga motoriknya. Cerita atau dongeng yang disajikan dengan baik membangun sejenis energi yang istimewa antara guru sebagai pendongeng anak.

3. Metode Tanya Jawab

Membangun pengetahuan anak melalui pertanyaan-pertanyaan yang diajukan sehingga anak menjawab dan membuat pertanyaan sesuai dengan informasi yang diperolehnya.Disamping itu diharapkan anak mampu mengingat, memikirkan, dan menganalisis suatu hal yang menjadi bahan pelajaran atau permaonan yang dihadapinya.Untuk mencapai harapan tersebur guru perlu memperhatikan beberapa hal ketika mengajukan pertanyaan seperti menggunakan rumusan pertanyaan yang jelas, pertanyaannya sederhana, menantang, dan khusus.

4. Metode Proyek

Metode proyek memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan eksplorasi pada lingkungan sekitar anak dengan menggunakan lingkungan sebagai proyek belajar anak.Metode ini diartikan sebagai pemanfaatan alam sekitar sebagai metode alam terbuka.contohnya saja anak yang bermain pasir ditepi pantai akan mencoba mengekspresikan pengalaman hidup dan percobaannya dalam berbagai bentuk kegiatan dengan membuat gunung-gunung, membuat lubang sambil menceritakan apa yang dilakukannya.

5. Metode Bermain Peran

Bermain peran atau role playing adalah sesuatu kegiatan untuk memerankan sesuatu diluar perannyasendiri agar anak dapat memilih pemahaman dan pandanganyang benar tentang sejarah dimasa lampau, kemungkinan peristiwa dimasa datang dan peristiwa hangat yang memiliki arti penting di masa kini atau situasi yang diciptakan setiap saat dan di setiap tempat.

Tujuan belajar kegiatan bermain peran di TK yaitu menyajikan informasi kepada anak, mengajarkan prinsip tetentu, mengubah sikap anak, mengembangkan keterampilan praktis sehubungan dengan tugas atau kewajiban anak sehari-hari, belajar menempatkan diri pada diri orang lain sehingga dapat memahami orang lain secara lebih baik,  tentang orang lain berpikir dan merasa empati, mengubah perilaku menjadi lebih baik seperti bagaimana agar lebih menjadi spontan, menjadi pendengar yang lebih baik, menasehati anak secara tidak langsung, dan belajar bagaimana memimpin orang lain dan sebagaimananya.

Ciri-ciri Anak Pembelajar

 

Apa yang Mama pikirkan jika mendengar frase “anak belajar”? Mungkin sebagian besar Mama akan membayangkan anak tekun membaca buku pelajaran sekolah, atau mengerjakan sejumlah soal latihan. Kita membayangkan anak yang tekun belajar akan mendapatkan nilai sempurna di kelas. Dalam cara belajar yang kita kenal selama masa sekolah, guru seringkali dianggap sebagai sumber utama pengetahuan. Maka, murid-murid diharapkan untuk duduk, mendengarkan, menyimak, dan mengingat semua ucapan gurunya sehingga membuat anak-anak menjadi pasif.

Padahal, proses belajar yang lebih mendalam dan menuntut pemahaman seharusnya lebih melibatkan anak untuk secara aktif mencari, menginterpretasikan, menganalisis dan menerapkan informasi. Jika anak benar-benar belajar dalam sudut pandang belajar aktif, maka sebenarnya anak-anak diajak untuk mempelajari proses memperoleh pengetahuan baru. Mengajari anak-anak bagaimana cara belajar jauh lebih berharga daripada mengajari mereka untuk mengingat sejumlah informasi. Proses belajar yang menuntut anak-anak lebih aktif juga menumbuhkan karakteristik baru sebagai pemelajar. Nah, di bawah ini adalah ciri-ciri dari anak pemelajar:

1.    Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Seorang pemelajar selalu ingin tahu lebih banyak tentang dunia. Mereka belajar dari berbagai sudut pandang, bukan hanya melalui cara-cara tradisional. Anak pemelajar memiliki sikap proaktif dan selalu mencari tambahan kesempatan untuk belajar sesuai caranya sendiri.

2.    Memiliki motivasi internal. Lupakan sogokan dan iming-iming hadiah. Seorang anak pemelajar termotivasi karena ia menetapkan tujuan sendiri untuk ia capai. Mereka didorong oleh rasa berhasil dari dalam dirinya.

3.    Dapat merefleksikan diri. Seorang anak pemelajar tahu bagaimana mengevaluasi dirinya sendiri. Mereka dapat mengenali kekuatan dan kelemahannya. Mereka dapat mengukur kemajuannya dalam menguasai suatu ketrampilan atau pengetahuan, dan seringkali dapat mencatat keberhasilan atau kegagalannya.

4.    Dapat diandalkan.  Bertanggung jawab berarti tahu apa yang harus dilakukan serta melakukan tugas tanpa perlu diingatkan. Jika anak dapat melakukannya sedini mungkin, semakin sedikit motivasi dari luar diperlukan untuk membuatnya disiplin atau termotivasi untuk menyelesaikan tugas.

5.    Mampu berpikir kritis. Seorang pemelajar mandiri dapat berpikir kritis tentang suatu situasi. Mereka dapat melihat berbagai kemungkinan, dan seringkali memiliki lebih dari satu solusi. Mereka tak hanya menghafal, melainkan juga bertanya “mengapa?” dan menyusun jawaban berdasarkan pengamatannya atau kemampuannya berpikir deduktif.

6.    Mampu memahami dengan sedikit atau tanpa instruksi. Seorang pemelajar mandiri memiliki kemampuan yang amat baik dalam mempelajari suatu topik baik secara verbal, visual, atau kinestetik. Mereka selalu bisa menemukan cara untuk mengajari dirinya sendiri, dan memahami materi melalui berbagai cara, (biasanya melalui trial and error).

7.    Persisten. Seorang pemelajar yang mandiri tidak mudah menyerah dan selalu ingin bisa menguasai suatu konsep secara mandiri sedapat mungkin sebelum minta bantuan orang lain. Mereka bisa mengajari diri sendiri, dan biasanya hanya bertanya setelah tidak berhasil menemukan solusinya sendiri.

 

Bagaimana Cara Anak Belajar Dan Memperoleh Pengetahuan

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment

Powered by moviekillers.com.com