Agar Anak Tak Takut Diperiksa Dokter Gigi

Agar Anak Tak Takut Diperiksa Dokter Gigi

12915629_l

Kebanyakan anak-anak takut diajak ke dokter gigi. Bahkan tidak sedikit orang tua mengeluh kesulitan mengajak anaknya memeriksakan gigi ke dokter. Mengajak anak ke dokter gigi pada saat kondisi anak lagi sakit justru akan memperburuk keadaan anak. Sebab, kondisi tersebut membuat anak akan berpikir bahwa dokter akan menyembuhkannya dengan suntikan atau obat.

“Ajaklah anak ke dokter gigi saat dia (anak) tidak sakit, seperti melakukan pemeriksaan saja, sehingga rasa takut anak akan hilang,”

Berikut ini beberapa cara melatih anak untuk tidak takut ke dokter gigi.

1. Anak-anak sudah menanamkan pada dirinya bahwa dokter itu suka menyuntik. Hal tersebut yang membuat anak takut untuk bertemu dengan dokter, khususnya dokter gigi. Cobalah untuk memberikan pengertian bahwa dokter gigi itu tidak menakutkan dan jelaskan dengan mudah apa yang dilakukan oleh seorang dokter gigi.

2. Cobalah untuk memberikan contoh kepada anak Anda terlebih dahulu. Sebelum memeriksakan gigi anak, cobalah untuk memeriksakan gigi Anda pada dokter gigi. Hal ini akan membuat anak Anda melihat apa yang dilakukan seorang dokter gigi jika melakukan pemeriksaan.

3. Jika cara pertama dan kedua gagal, tidak perlu khawatir. Cobalah untuk memberikan imbalan jika anak Anda mau memeriksakan gigi ke dokter. Reward tidak mesti berupa hadiah. Anda juga bisa mengatakan bahwa anak Anda hebat karena tidak takut dengan dokter.

“Takut” berganti “berani” pertanda Anda sukses mempersiapkan si kecil periksa gigi. “Aku berani, Bunda!” Berikut kiat menyiapkan kunjungan anak ke dokter gigi secara bertahap. Berikut langkahnya:

  • Praktekkan kebiasaan menjaga kesehatan gigi dan rongga mulut.  Minimal setiap malam sebelum tidur, Anda dan anak menyikat gigi bersama di depan cermin. Bila perlu, bantu anak menyikat giginya. Tunjukkan pada anak apa yang akan dilakukan dokter gigi, misalnya menghitung giginya.
  • Perkenalkan anak pada profesi dokter gigi. Bacakan cerita atau putarkan film tentang kunjungan ke dokter gigi. Misalnya, salah satu episode “Blue Clues”, atau buku karya Mercer Mayer “Pergi Ke Dokter Gigi” yang diterjemahkan oleh PT Gaya Favorit Press.
  • Bermain peran dokter gigi. Jadikan boneka anak sebagai pasien dan tunjukkan apa yang akan dilakukan dokter gigi pada si pasien. Beri giliran pada anak untuk berperan sebagai dokter gigi seperti Anda contohkan.
  • Pahami ketakutan anak.  Biarkan anak bercerita tentang apa yang dia takutkan bila diajak ke dokter gigi. Bila anak takut sakit, misalnya,  jelaskan bahwa dokter gigi akan bertindak lembut dan hati-hati sehingga dia merasa nyaman.
  • Lakukan “trial visit”. Luangkan waktu untuk memperkenalkan anak pada dokter gigi dan kamar prakteknya. Misalnya, ajak dia menemani Anda saat Anda periksa gigi. Melihat orang tuanya nyaman ketika dirawat giginya, terbiasa mencium aroma ruang rawat gigi, kenal operator, dan bunyi alat-alat dental; anak biasanya lebih berani untuk diperiksa giginya.
  • Bila mungkin, bawa anak ke dokter gigi spesialis anak. Dokter gigi ini biasanya memiliki peralatan dan dekorasi kamar praktek yang kid-friendly. Selain itu, dokter gigi spesialis anak paham dan berpengalaman menghadapi anak yang ketakutan. Misalnya, ia akan berkenalan dahulu dengan anak, melakukan pendekatan secara informatif dan bersahabat, lalu memperkenalkan alat-alat yang akan digunakan sehingga anak berani membuka mulutnya.
  • Pilih waktu yang tepat. Misalnya, pagi hari ketika anak biasanya lebih santai dan kooperatif. Lebih baik lagi, di hari Anda tidak bekerja, misalnya di akhir minggu  sehingga Anda punya waktu lebih banyak dan bisa lebih fokus menemaninya ke dokter gigi.
  • Biarkan anak membawa mainan atau benda favoritnya. Keberadaan benda-benda tersebut bisa membantunya lebih nyaman dan tenang.
  • Orang tua harus tenang. Proses  belajar paling sederhana yang dilakukan anak adalah mengamati perilaku orang lain, terutama orang tuanya. Bila Anda ingin menghilangkan rasa takut anak, Anda harus tenang. Bila perlu, pangku anak Anda yang berusia di bawah 3 tahun selama giginya diperiksa dokter.
  • Bangun rasa percaya anak. Bila pada kunjungan pertama Anda memangkunya, kunjungan berikut biarkan dia duduk sendiri di kursi periksa. Dengan begitu muncul dorongan dalam diri anak untuk membangun hubungan yang hangat dengan dokter gigi tanpa rasa cemas

Mulai periksa gigi sedini mungkin

Semakin dini usia anak mengunjungi dokter gigi akan semakin baik. Hal itu akan membuatnya terbiasa dengan ‘rumah gigi’ di mana semua kebutuhannya -apakah itu kunjungan berkala atau keadaan darurat ke dokter gigi akan terasa ringan. Ada baiknya kunjungan pertama dimulai pada usia 1 tahun atau ketika gigi pertama muncul.

Buatlah kunjungan ke dokter gigi singkat

Ketika mempersiapkan kunjungan ke dokter gigi pertama kali, cobalah untuk tidak menyertakan detail terlalu banyak. Menyiapkan banyak hal akan menimbulkan pertanyaan dan menambahkan informasi tentang pengobatan tambahan sehingga menyebabkan kecemasan yang tidak perlu pada anak. Jagalah sikap positif ketika membahas kunjungan selanjutnya. Jangan memberi anak Anda harapan palsu. Hindari mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Karena jika anak Anda akhirnya butuh pengobatan lebih lanjut, ia mungkin kehilangan kepercayaan kepada dokter gigi atau pada orangtuanya.

Jaga Kata-kata Anda

Jangan gunakan kata di bor, sakit atau nyeri dengan anak-anak ketika mengajaknya ke dokter gigi. Biarkan staf dokter yang memperkenalkan kata yang pantas untuk anak Anda. Beritahu si kecil bahwa dokter gigi bertugas mencari sisa makanan di mulut sehingga dokter perlu membersihkan giginya. Beritahu juga anak Anda bahwa dokter bertugas memeriksa senyum dan menghitung gigi mereka. Gunakan kata positif seperti “bersih, kuat, dan gigi yang sehat” untuk membuat kunjungan ke dokter gigi tampak menyenangkan daripada menakutkan.

Berpura-puralah ke dokter gigi

Sebelum berangkat ke dokter gigi yang sebenarnya, bermain dengan anak Anda dengan berpura-pura menjadi dokter gigi dan pasien. Mulailah dengan menghitung jumlah gigi si kecil dengan menggunakan angka 1 atau huruf A. Hindari membuat suara-suara pengeboran atau suara-suara menakutkan yang biasa ada di ruang pemeriksaan gigi. Anda juga bisa menyiapkan cermin dan menunjukkan kepada si kecil bagaimana cara dokter memeriksa giginya. Lalu biarkan anak Anda bermain dengan menggunakan sikat gigi untuk membersihkan kotoran gigi dari boneka mainannya. Tujuan kegiatan ini adalah mengenalkan anak dengan kegiatan di dokter gigi sehingga dia lebih nyaman untuk kunjungan yang sebenarnya.

Bersiaplah Jika Si Kecil Rewel

Adalah hal yang normal jika anak kecil menangis, merengek, dan tidak mau diperiksa giginya oleh orang asing. Tetap tenang dan ingat bahwa dokter gigi dan stafnya sudah terbiasa dengan anak-anak saat mereka mengamuk tidak mau diperiksa. Biarkan perawat gigi profesional yang memandu. Mereka mungkin akan meminta Anda untuk tetap berada di kejauhan atau memegang tangan si kecil. Ini dilakukan untuk memberikan kenyamanan dan mencegah si kecil mengambil alat-alat pemeriksaan gigi.

Hindari Sogokan

Banyak ahli gigi menyarankan untuk tidak menjanjikan sesuatu kepada anak jika dia berperilaku baik di dokter gigi. Menjanjikan sesuatu tidak akan meningkatkan rasa percaya diri mereka. Jika mengatakan: “Jika kamu tidak rewel atau menangis, kamu akan mendapatkan permen lollipop,” bisa membuat si kecil berpikir, “Apa sebegitu menakutkannya dokter gigi sehingga saya bisa menangis?” Menjanjikan perlakuan manis juga mengirim pesan yang salah kepada Anak.

Setelah kunjungan selesai, puji anak Anda karena sudah berperilaku baik dan berani. Sesekali berikan kejutan dengan membelikannya stiker atau mainan kecil sebagai sebuah apresiasi.

Tekankan Pentingnya Kebersihan Mulut

Ajarkan pada anak Anda bahwa mengunjungi dokter gigi adalah keharusan dan bukan pilihan. Bilang pada mereka bahwa dokter gigi akan mengurus giginya sehingga giginya kuat untuk makan. Anda juga bisa menjelaskan bahwa dokter gigi membantu menjaga kebersihan mulutnya dan memastikan anak Anda akan memiliki senyum yang indah selama bertahun-tahun.

Apa Penyebab Sakit Gigi Pada Anak Anda?

Umumnya gigi geraham berlubang merupakan masalah yang sering dihadapi karena buah hati tidak membersihkan gigi dengan baik dan benar. Namun, ada juga penyebab lain yang harus anda ketahui.

  • Rusaknya lapisan email gigi yang membuat gigi berlubang sehingga menyebabkan anak balita menangis karena rasa nyeri dan cenat-cenut yang dialami.
  • Efek samping konsumsi obat-obatan yang diminum saat ibu mengandung
  • Kurangnya nutrisi dan vitamin penunjang pertumbuhan gigi sejak dalam masa kandungan ibu
  • Efek buruk laktosa pada susu kemasan yang diminum saat bayi bisa menyebabkan pengikisan lapisan gigi susu
  • Orang tua tidak mengajari anak cara menggosok gigi yang baik sehingga masih ada sisa-sisa makanan yang tertinggal

Inilah Berbagai Macam Obat Sakit Gigi Untuk Anak

  1. Daun cabai merah
    Ambil daun cabai merah yang masih muda kemudian teteskan getahnya pada gigi anak yang berlubang.
  2. Batang kemuning
    Siapkan batang tumbuhan kemuning yang ukurannya tidak terlalu besar. Bakar batang kemuning tersebut kemudian teteskan minyak yang keluar ke dalam gigi yang berlubang.
  3. Air garam dapur
    Obat sakit gigi untuk anak yang satu ini merupakan cara paling mudah untuk menyembuhkan rasa sakit pada gigi. Campurkan air hangat dengan garam dapur kemudian pakai ramuan tradisional ini untuk berkumur.
  4. Minyak cengkeh
    Teteskan minyak cengkeh pada kapas secukupnya kemudian oleskan perlahan ke gigi anak yang terasa sakit.
  5. Biji buah alpukat
    Sediakan 1 biji buah alpukat kemudian goreng tanpa minyak (sangrai). Tumbuk sampai menjadi bubuk lalu oleskan pada gigi anak yang berlubang.

Membuat obat sakit gigi untuk anak menggunakan bahan tradisional di atas memang ampuh menghilangkan rasa sakit dengan cepat. Namun demikian, konsultasi ke dokter gigi anak adalah cara yang tepat untuk mengatasi masalah sakit gigi.

Manfaat Gigi Sehat Bagi Anak-anak

Nyaman dengan dirinya
Vera mengatakan semakin anak nyaman dengan dirinya, kepercayaan dirinya akan meningkat. Jadi, kalau anak nyaman dengan dirinya, termasuk penampilan fisiknya, ia akan lebih percaya diri menjalani berbagai aktivitasnya. Misalnya, lebih aktif bertanya di kelas, berani dan percaya diri berkomunikasi dengan teman sebayanya, dan lainnya.

Kepercayaan diri ini perlu juga didukung oleh lingkungan. Kalau anak berpenampilan kurang baik, misal giginya rusak lantaran kurang menjaga kesehatan rongga mulut, orang lain di sekitarnya bisa saja berkomentar yang meruntuhkan kepercayaan dirinya. Alhasil, anak menutup diri dari lingkungan termasuk pergaulan dengan teman sebayanya.

“Anak usia sekolah dasar hingga masa pubertas akan semakin peduli apa kata orang tentang dirinya, termasuk kata teman-temannya. Komentar teman signifikan pengaruhnya kepada anak, bisa meningkatkan kepercayaan diri anak atau sebaliknya,” kata Vera.

Faktor kenyamanan diri ini tentunya tak lepas dari pentingnya menjaga kesehatan gigi untuk mencegah munculnya penyakit gigi yang berdampak buruk, baik terhadap aktivitas sehari-hari hingga prestasi akademiknya. Penelitian membuktikan hal ini. Di negara maju, risiko anak memiliki nilai rendah empat kali lebih besar pada anak yang jarang sikat gigi. Sementara di Indonesia, menurut penelitian Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia dan Pepsodent, nilai tinggi dalam tes matematika didapati pada anak yang rajin sikat gigi.

Keterampilan sosial berkembang
Tak hanya mendorong kepercayaan diri dan bebas penyakit, gigi sehat juga membuatnya nyaman menebar senyum yang dampaknya luas terhadap pengembangan dirinya.

Vera mengatakan senyum pada anak punya banyak makna. Senyum adalah bentuk emosi positif, juga respons terhadap sesuatu yang menyenangkan. Di samping itu, senyum juga bentuk komunikasi. Pada anak, senyum yang juga merupakan bentuk kontak sosial merupakan indikator penting dalam perkembangan keterampilan sosialnya.

Anak yang murah senyum akan lebih mudah berkomunikasi dengan orang lain di sekitarnya. Maka dengan begitu, ia pun tengah mengembangkan kemampuan membangun kontak sosial. Untuk bisa senyum dengan nyaman tanpa merasa khawatir teman sebaya akan mengomentari negatif, gigi sehat menjadi salah satu syaratnya.

CARA MERAWAT GIGI SUSU

1. Jangan dibiasakan minum susu dalam botol sampai tertidur. Sebab itu sama saja merendam gigi dalam susu. Email gigi akan rusak.

2. Biasakan gigi dibersihkan sejak dini. Waiau baru tumbuh satu pun sudah harus dibersihkan. Dengan menggunakan cotton bud atau kain kasa.

3. Jika anak sudah bisa berdiri, ajak anak menggosok gigi.

4. Jika sudah bisa meludah, gunakan pasta gigi.

5. Gosok gigi malam sebelum tidur saat anak belum mengantuk.

6. Ajak ke dokter gigi sedini mungkin sebelum anak sakit gigi. Agar anak terbiasa dengan lingkungan dan peralatan di ruangan dokter gigi.

 Agar Anak Tak Takut Diperiksa Dokter Gigi

Leave a comment  

name*

email*

website

Submit comment

Powered by moviekillers.com.com